
"Bernapaslah!" suruh Febian ketika ciuman itu terlepas. Ara meraup oksigen dalam-dalam karena paru-parunya hampir saja kehabisan pasokan. Febian terkekeh lalu mendaratkan ciuman di kening istrinya. Wajah Ara mendadak kecewa saat melihat Febian yang justru bangkit berdiri badan berjalan menuju ke kamar mandi, padahal dia pikir mereka akan melakukan itu saat ini.
"Ra, nanti pas Kak Bi jebol keperawananmu jangan teriak kencang ya."
"Memangnya kenapa?"
"Yaelah, masa iya orang bercinta teriak-teriak. Ntar baru masuk setengah yang pada denger udah pada heboh."
"Le, aku takut. Katanya sakit banget."
"Emang iya."
"Kamu 'kan pernah ngerasain, sampai sekarang masih?"
"Masih lah, tiap malem kadang siang pas lagi ada waktu luang."
"Emang tidak sakit?"
"Sakitnya bentar, nikmatnya lama. Kalau udah tahu rasanya, aku yakin pasti kamu ketagihan."
Ara menggeleng cepat untuk mengusir percakapan yang membuatnya penasaran karena sepulang dari bulan madu, Leona selalu saja bercerita hal-hal yang menjurus ke sana. Tiba-tiba pintu kamar tersebut diketuk dari luar disusul teriakan Leona. Ara pun bergegas bangun dan berjalan mendekat.
"Ra, apa aku ganggu kamu?" tanya Leona menatap lekat sahabatnya.
Ara menggeleng lemah, " Tidak sama sekali."
"Oh, kupikir kamu sudah mulai icik icik ehem. Aku khawatir kamu atau Febian tidak bisa membuka gaun ini, jadi aku ingin membantu," ucap Leona, bibir Ara tertarik saat mendengarnya.
"Kamu benar-benar pengertian, Le. Aku memang kesusahan saat membukanya." Ara membuka pintu lebih lebar dan membiarkan Leona masuk.
"Di mana Kak Bi?" tanya Leona saat tidak melihat keberadaan sepupunya.
"Sedang mandi. Ayo, Le. Aku sudah lelah pakai gaun seperti ini, tapi aku enggak bawa baju ganti," ucap Ara setengah merengek.
"Kak Nadira bilang sudah siapin baju ganti di koper." Mereka mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar dan melihat sebuah koper tergeletak di sudut. Ara hendak mengambil, tetapi Leona menahannya dan justru memberikan jubah mandi untuk gadis itu.
"Setelah ini kamu mandi dulu aja. Baru ganti baju. Kalau begitu aku pergi dulu." Leona menaruh segelas air putih yang barusan dibawa sebelum pergi dari kamar itu. Wanita itu diam-diam terkekeh sendiri.
__ADS_1
Setelah pintu kamar tertutup, selang beberapa saat pintu kamar mandi terbuka dan Febian keluar dari sana dengan tubuh yang tampak lebih segar. Ara memalingkan wajah yang sudah memerah saat melihat tubuh Febian yang tampak kekar karena bertelanjang dada.
"Kamu sudah bisa melepas gaunmu?" tanya Febian heran.
"Su-sudah, tapi dibantu Leona." Ara menjawab gugup. Dia masih saja memalingkan wajah.
"Sekarang di mana cewek menyebalkan itu?" Febian menatap sekeliling.
"Sudah pergi."
"Kalau begitu sekarang kamu mandi dulu biar segar." Febian memerintah. Tanpa menunggu lama, Ara segera bangun dan bergegas ke kamar mandi. Febian yang melihat kegugupan istrinya hanya tersenyum lebar.
Febian duduk di tepi tempat tidur hanya berbalut handuk. Dia pun sebenarnya sama gugupnya seperti Ara, tetapi sebisa mungkin tetap terlihat tenang. Febian meminum segelas air putih yang tergeletak di nakas dalam sekali tenggak tanpa curiga sejak kapan gelas itu berada di sana. Dia naik ke ranjang dan duduk bersandar memainkan ponsel.
Namun, beberapa menit berlalu, tiba-tiba Febian merasakan hawa panas menjalar di seluruh tubuhnya. Bahkan membuat dirinya begitu kegerahan. Dia pikir AC di kamar itu mati, tetapi ternyata tidak dan justru berada di suhu yang cukup dingin.
Ara yang baru selesai menatap heran saat melihat Febian yang begitu gelisah. Dengan langkah lebar, dia mendekati suaminya. Melihat Ara yang memakai jubah mandi yang memperlihatkan paha mulusnya, membuat hasrat Febian semakin menggebu-gebu. Bahkan adik kecilnya sudah menantang dari balik handuk yang masih dikenakan.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Ara.
"Siapa yang menaruh minuman di meja?" tanya Febian ketika ciuman itu terjeda.
"Leona." Ara berusaha mengatur napasnya yang tersengal.
"Ra, maafkan aku kalau nanti sedikit kasar padamu. Sepertinya minuman tadi tercampur obat perangsang." Mata Ara membola sempurna. "Dan sembuhnya hanya melakukan itu, tapi kalau kamu belum siap. Biar aku berendam air dingin saja."
"Lakukan, Mas. Aku sudah siap karena itu adalah kewajiban sebagai istri." Febian menatap Ara untuk meyakinkan. Di saat melihat senyum tulus di bibir Ara, Febian pun menjadi yakin dan mulai menuntaskan hasratnya.
Awalnya, Febian mencium bibir Ara dengan lembut, tetapi semakin lama ciuman itu semakin terasa menuntut bahkan Ara mulai sedikit kewalahan mengimbangi ciuman Febian. Ara menggigit bibir bawahnya untuk menahan desah*n saat Febian menurunkan ciumannya ke leher.
"Mendes*hlah," suruh Febian.
"Ahhh!" Suara Sexy itu akhirnya lolos juga dari bibir Ara. Febian pun semakin bersemangat dan menciptakan beberapa tanda kepemilikan di sana.
Setelahnya, Febian membuka jubah mandi hingga membuat harta berharga milik Ara terpampang jelas di depannya. Adik kecilnya semakin menantang. Ara hendak menutupi itu, tetapi Febian menahan dan justru meraup kedua bukit kembar secara bergantian.
Ara menggelinjang saat merasakan sebuah perasaan yang baru saja dia alami saat ini. Bahkan tanpa sadar dia terus menjambak rambut Febian saat lelaki itu menyesap cocho chip dan tangannya bermain di bawah sana.
__ADS_1
Febian semakin mempercepat gerakan jarinya di bawah sana saat merasakan Ara semakin menjambak rambutnya kencang, terasa sakit, tetapi Febian tidak peduli dan terus memainkan jarinya.
Ara membusungkan dada tinggi-tinggi diiringi desah*n cukup keras saat merasakan tubuhnya seperti tersengat aliran listrik. Napasnya tersengal bahkan keringat mulai membasahi tubuhnya.
"Ma-maaf," ucap Ara gugup saat menyadari kalau dirinya sudah menjambak Febian. Lelaki itu tersenyum simpul lalu mendaratkan banyak ciuman hampir di seluruh wajah Ara.
"Kamu sudah keluar?" tanya Febian lembut.
"Keluar ke mana?" Ara bertanya balik dengan sikap polosnya. Febian terkekeh dan menciumi bibir Ara berkali-kali.
"Lebih baik sekarang kita ke intinya saja." Febian bangkit lalu membuka handuk yang masih melilit. Ara terkejut saat melihat adik kecil milik Febian yang sudah mengembang dengan sangat sempurna. Bahkan teriakannya hampir terdengar kalau dia tidak cepat membungkam mulut.
"Ma-Mas." Ara tergagap. Dia memalingkan wajahnya yang tampak gugup.
"Kenapa?"
"Kenapa adikmu sebesar itu, apakah muat di lubangku yang kecil?" tanya Ara yang membuat Febian tergelak keras.
"Aku juga tidak tahu, kita coba saja." Febian kembali menindih tubuh Ara dan dengan perlahan mengarahkan adik kecilnya ke sarangnya. Awalnya Febian sangat kesusahan, tetapi beberapa saat kemudian, erang*n Ara terdengar saat ular kasur itu berhasil masuk ke sarangnya, dan merobek selaput dara.
Febian menghentikan gerakannya sesaat, memberi waktu untuk Ara beradaptasi, setelahnya dia mulai memompa dengan perlahan dan kamar itu pun menjadi saksi di mana pengantin baru itu berkolaborasi untuk mencapai puncak Nirwana bersama.
π¦π¦π¦
Gerah Thor!
Oeee, jadi inget sesuatu π€£π₯²
Dah lah, Othor mau kabur dulu melanjutkan sesi dua yang semalam, wkwkkw
canda oew candaaa
Selamat pagi gaes, semoga bisa menghangatkan harimu π
Selamat beraktivitas salam Sayang dan Cinta dari Othor Kalem yang seratus persen polos.
Dukungan jangan lupa, Othor nulis part ini penuh perjuangan π π
__ADS_1