
Mike merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Malam sudah menjelang, tetapi Mike belum juga bisa tertidur lelap. Dia begitu merindukan istri kecilnya, dan ingin sekali memeluknya. Mike menatap jam dinding yang baru menunjukkan angka delapan. Dengan gerakan cepat, dia mengambil ponsel untuk menghubungi Cacha, tetapi nomor istrinya tidak bisa dihubungi sama sekali.
"Kenapa nomornya tidak aktif?" gumam Mike heran. Dia kembali menghubungi, tetapi masih belum aktif juga. Mike mendadak gelisah, mungkinkah istrinya masih marah padanya? Mike pun kembali menggulir layar dan menghubungi nomor Johan untuk menanyakan keberadaan Cacha.
"Hallo, Mike." Suara Johan terdengar setelah panggilan itu terhubung.
"Em, Tuan ...."
"Panggil aku ayah! Seperti Cacha. Aku sekarang ayahmu bukan lagi majikanmu." Johan berbicara dengan tegas.
"Baik, Yah. Aku mau tanya, Cacha sedang apa? Kenapa nomornya tidak aktif?" tanya Mike. Johan tersenyum mendengar suara Mike yang begitu khawatir.
"Dia sudah tidur, dari tadi nangis nungguin telepon dari kamu. Sudah kusuruh telepon dulu, tapi dia bilang takut ganggu. Mungkin sekarang ponselnya mati kehabisan daya," jelas Johan. Mike merasa begitu bersalah kepada Cacha setelah mendengar ucapan Johan.
"Nanti kalau sudah bangun, tolong kabari aku, Yah." Mike merasa tidak enak hati jika menyuruh Johan untuk melihat Cacha.
"Tunggu sebentar, Mike."
Mike pun terdiam tanpa memutus panggilan itu. Johan tidak membuka suara, hanya suara langkah kaki Johan yang terdengar. Setelahnya, terdengar bunyi pintu kamar terbuka.
"Kamu sudah tidur, Cha?" Suara Johan yang bertanya kepada Cacha membuat Mike merasa berdebar dan tidak sabar. Panggilan itu kembali terjeda cukup lama, sampai akhirnya terdengar suara Cacha yang sangat Mike rindukan.
"Mike, aku merindukanmu," ucap Cacha disertai isakan tangis.
"Aku juga merindukanmu. Jangan menangis, lusa aku akan pulang," kata Mike, berusaha menenangkan istrinya.
__ADS_1
"Kamu tidak berbohong?" Tangisan Cacha sedikit mereda.
"Tidak. Aku juga tidak sabar ingin memeluk istri kecilku." Mike terkekeh, tetapi Cacha justru kembali terisak.
"Jangan membuatku semakin merindukanmu, Mike!" Suara Cacha meninggi. Mike tersenyum membayangkan wajah istrinya yang saat ini sedang cemberut kesal. "Kamu jahat, pergi tidak mengajakku!"
"Aku akan mengajakmu nanti, bukan sekarang. Kakek dan nenek juga ingin sekali melihat betapa cantiknya cucu menantunya yang hebat," ucap Mike lembut. Tangisan Cacha seketika mereda.
"Mereka sudah tahu aku?" tanya Cacha antusias.
"Tentu saja. Besok kita video call saja. Sekarang lebih baik kamu tidur lagi, jangan begadang. Tidak baik untuk kesehatanmu. Aku matikan ya, Neng, aku mencintaimu. Selamat malam."
"Selamat malam juga, Mike. Jangan lupa mimpikan aku," ucap Cacha lembut.
"Aku yakin kalau saat ini kamu sedang berkata aku mencintaimu dalam hati. Kamu benar-benar seperti Tuan Johan yang hanya bilang cinta dalam hati," gumam Mike. Senyumnya semakin mengembang sempurna.
Setelah puas memandang foto Cacha, Mike menaruh ponselnya di atas nakas. Kemudian, dia merebahkan tubuhnya dan berusaha keras untuk tidur. Dia harus bersiap untuk hari esok, menyambut kedatangan Yosie.
***
Richard, Elie, dan Mike sedang sarapan bersama, suasana makan itu terasa begitu berwarna. Richard dan Elie merasa begitu bahagia karena mereka tidak lagi hanya makan berdua. Berbagai obrolan ringan ikut menemani sarapan mereka. Namun, di saat sedang asik makan, seorang pelayan wanita datang mendekati meja lalu membungkuk hormat di samping Richard.
"Tuan Besar, ada Tuan Yosie dan Nona Fey di luar," ucap pelayan itu dengan sopan.
Richard menghela napas panjangnya. "Suruh mereka ikut sarapan bersama," perintah Richard. Pelayan itu kembali membungkuk hormat lalu pergi dari sana.
__ADS_1
Selang beberapa menit, Yosie dan Fey masuk ke ruang makan. Fey begitu terkejut saat melihat seorang pria tampan, dengan tubuh kekar sedang makan bersama dengan keluarga Anderson. Sambil berjalan di samping sang ayah, Fey membenarkan tatanan rambutnya padahal Mike tidak peduli dan hanya fokus pada makanannya.
"Wah, siapa pria tampan ini, Kak?" tanya Yosie berpura-pura.
"Kalian sudah sarapan? Kalau belum sarapanlah, kalau sudah tunggu kita di ruang tamu," kata Richard tegas, tanpa menjawab pertanyaan Yosie. Diam-diam tangan Yosie terkepal erat. Dia kesal pada Richard yang selalu bersikap cuek kepadanya.
"Kebetulan kita belum sarapan. Ayo, Fey, kita ikut sarapan bersama mereka." Yosie duduk di samping Elie, sedangkan Fey dengan genit duduk di samping Mike.
"Hay, kamu siapa? Kenalkan, namaku Fey." Fey berbicara dengan manja dan tangan terulur di depan Mike.
"Bisakah Anda tidak menganggu saya yang sedang makan, Nona?" sarkas Mike tanpa berniat menerima uluran tangan Fey.
"Ma-maaf." Fey menarik kembali uluran tangannya. Melihat sikap dingin Mike kepadanya, justru membuat Fey semakin tertantang untuk menaklukan lelaki itu.
"Kamu siapa?" tanya Fey lagi. Mike tidak menjawab, hanya fokus pada kunyahannya dan menganggap wanita di sampingnya hanyalah makhluk tak kasat mata. Fey pun akhirnya diam, tetapi dalam hati gadis itu menggeram kesal.
Lihat saja aku akan menaklukanmu! Batin Fey.
Mike tersenyum sinis saat ekor matanya menangkap sosok Fey yang sedang berusaha menutupi kekesalannya. Mike mendekati wajah Fey yang langsung terlihat begitu gugup. Fey tersenyum puas karena dia yakin kalau Mike sudah terpesona dan saat ini hendak menciumnya.
"Jangan percaya diri, Nona. Jangan Anda pikir bisa menaklukkan saya dengan mudah. Berani menyentuh saya sedikit saja, saya tidak akan segan-segan menghancurkan hidup Anda," bisik Mike tepat di telinga Fey, membuat senyum wanita itu memudar seketika. Mike kembali duduk pada posisinya, bibirnya menyeringai melihat wajah Fey yang tampak marah.
Lanjut Thorr...
Dukungannya banyakin, nanti lanjut ke pelaminan ๐๐
__ADS_1