Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
156


__ADS_3

Langit masih gelap, bahkan suara ayam berkokok baru saja terdengar, tetapi Cacha sudah membuka paksa kedua matanya. Bukan itu kenyataannya. Gadis tersebut semalam tidak bisa tertidur lelap karena teringat Mike yang akan kembali ke Bali pagi ini.


Cacha menatap benda pipih yang menyala, melihat jam yang baru menunjukkan pukul empat lebih tiga puluh menit, sedangkan pesawat yang ditumpangi Mike, akan lepas landas pukul lima lebih sepuluh.


Dengan iseng, Cacha membuka applikasi chat, melihat status dari teman-temannya. Cacha penasaran saat melihat nama Mike tertera di antara para pembuat story itu. Dengan kilat, Cacha pun segera membuka story tersebut.


Selamat tinggal Jakarta.


Untuk kamu yang sedang patah hati. Tetaplah tersenyum, jangan biarkan air mata membasahi wajah cantikmu. Aku tidak rela.


Teruslah tersenyum meski badai sedang menerjangmu karena pelangi yang indah, sudah menantimu di ujung langkahmu.


Aku tunggu kamu di Bali.


Bibir Cacha tersenyum lebar membaca story tersebut, bahkan dia sampai menggeleng tidak percaya kalau yang membuat itu adalah lelaki lajang yang sudah berumur matang.


"Kamu ada-ada saja, Mike. Umur mau kepala empat, tapi masih kaya anak ABG aja!" gumam Cacha tanpa memudarkan senyumnya.


Rasanya, ingin sekali Cacha menghubungi nomor itu, tetapi dirinya terlalu malu. Dia meletakkan kembali ponselnya di samping. Namun, baru saja menyentuh sprei, deringnya terdengar memecah keheningan kamar.


Dengan bergegas, Cacha mengambil kembali ponselnya, dan duduk dengan cepat dengan bersandar kepala ranjang. Ibu jari Cacha memencet icon hijau lalu menaruh ponsel itu di telinga.

__ADS_1


"Anda sudah bangun, Nona?" Suara Mike dari seberang telepon, membuat Cacha mengigit bibir bawah menahan senyumnya.


"Sudah, Mike. Kamu belum berangkat?" tanya Cacha. Suara gadis tersebut terdengar begitu gugup.


"Saya sudah di Bandara, Nona. Maaf mengganggu Anda, saya cuma mau berpamitan saja." Mike bicara dengan sopan. Secara refleks, Cacha mengangguk cepat. Dia sampai lupa kalau Mike tidak melihatnya.


"Baiklah, Mike. Hati-hati."


"Terima kasih, Nona. Kalau begitu saya matikan dulu."


Panggilan itu pun terputus, Cacha menatap layar ponselnya yang masih menyala. Menghela napas panjang dan mengembuskan secara perlahan. Entah mengapa, dia merasa tidak rela kalau Mike harus kembali ke Bali. Apalagi yang dia dengar, lelaki itu akan menikah di sana.


"Siapa yang akan menjadi istrimu, Mike? Beruntung sekali wanita itu mendapat lelaki dewasa yang bertanggung jawab seperti dirimu."


Cacha kembali merebahkan tubuhnya, menatap langit kamar dengan berbagai pikiran yang begitu berkecamuk. Dia memejamkan mata, memaksa untuk kembali tertidur, tetapi bayangan Mike seolah menggoda, dan membuatnya sama sekali tidak bisa terlelap meski pandangan matanya sudah gelap.


Akhirnya, Cacha kembali membuka mata dan segera turun dari tempat tidur. Langkahnya menuju ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka.


Setelah selesai dengan kegiatannya, Cacha segera keluar kamar dan berjalan turun. Tujuannya saat ini adalah dapur, di mana Arum sedang sibuk menyiapkan bahan makanan untuk sarapan dengan ditemani beberapa pelayan.


"Loh, Non Cacha sudah bangun?" tanya Arum. Wanita muda itu terlihat sibuk mencuci sayuran.

__ADS_1


"Sudah. Mbak Arum mau masak apa?" tanya Cacha, tanpa memutus pandangan dari wanita itu.


"Nyonya minta capcay, dan ini sayur buat Nona Rania karena beliau harus banyak makan sayur," sahut Arum dengan sesekali menoleh ke arah Cacha yang duduk lesu di meja dapur.


"Mbak Arum, kalau boleh tahu umur Mbak Arum sekarang berapa?" tanya Cacha, masih mengamati wanita itu.


"Memangnya kenapa, Nona?" tanya Arum balik. Dia memberikan sayur yang sudah dicuci kepada pelayan yang lain.


"Tidak papa, sih. Kok Mbak Arum belum menikah?" Mendengar pertanyaan Cacha, wanita tersebut segera berbalik dan tersenyum ke arah Cacha yang sedang memangku wajahnya.


"Umur saya dua puluh enam tahun, Nona. Saya sudah pernah menikah satu kali, tapi gagal," sahut Arum, masih dengan tersenyum simpul.


"Maksudnya, Mbak Arum ini janda?" tanya Cacha memastikan. Arum mengangguk cepat.


Mata Cacha melebar sempurna. Di tidak menyangka kalau kepala pelayan itu ternyata seorang janda karena postur tubuhnya masih seperti seorang perawan yang belum pernah disentuh. Melihat raut terkejut memenuhi wajah Cacha, bibir Arum makin tersenyum lebar.


💦💦


Othor penuhi janji Othor buat Crazy up ye


Tapi jangan lupa tekan like, komen dan hadiah

__ADS_1


Happy reading gaess


__ADS_2