
"Sudahlah, Nad. Lebih baik kamu bersiap. Atau kita kabur saja, yuk!" ajak Cacha dengan seringai tipis di sudut bibir. Mata Nadira membola dengan sempurna saat mendengar ajakan Cacha.
"Kamu yang benar saja, Cha!" protes Nadira dengan bersungut-sungut.
"Ya bener lah, Nad. Aku males banget mau ke sana. Mending kita jalan-jalan aja." Cacha menarik-turunkan alisnya, tetapi Nadira justru mendengkus kasar.
"Sudahlah, Cha. Ayo kita bersiap aja. Nanti kita main di sana aja. Jarang-jarang 'kan kita bisa main ke Bali bareng-bareng gini," ucap Nadira. Dia terlihat sibuk dengan mengeringkan rambutnya.
Ponsel Nadira terdengar berbunyi menandakan ada satu pesan masuk. Nadira beranjak bangun dan berjalan mendekati nakas untuk melihat siapa yang mengirimi pesan.
Kening Nadira terlihat mengerut saat melihat satu nomor asing terlihat dalam barisan pesan. Bukan nomor asing yang membuat jantung Nadira berdetak tidak karuan, tetapi foto dalam pesan itu yang membuat wajah Nadira tampak pucat pasi.
Melihat sahabatnya terdiam, Cacha menjadi begitu curiga. Dia segera bangkit dan berjalan mendekati Nadira. Bola mata Cacha membola sempurna saat melihat sebuah foto yang di mana terdapat gambar sang kakak sedang bersama seorang wanita cantik dan elegan.
Ciee, yang lagi berakhir pekan bersama. Dunia serasa milik berdua.
Tulisan dalam foto tersebut, menyadarkan Nadira kalau sekarang adalah akhir pekan dan suaminya pergi untuk urusan kantor bahkan tanpa berpamitan padanya.
"Kok bisa sih!" seru Cacha menyadarkan Nadira dari keterdiamannya.
"Cha," panggil Nadira dengan suara yang sangat lirih. Cacha tahu kalau Nadira saat ini pasti sedang terluka. Terlihat jelas dari wajahnya yang tampak begitu sendu bahkan bola matanya mulai terlihat basah.
"Aku yakin kalau ini tidak seperti yang kita pikirkan. Coba kamu hubungi Kak Nathan," suruh Cacha.
__ADS_1
Nadira terlebih dahulu menghubungi nomor yang mengirimi dia pesan barusan, tetapi hasilnya nihil. Nomor ponselnya sudah diblokir oleh orang misterius itu. Nadira pun beralih mencari kontak nomor suaminya dan menekan icon hijau.
Tiga kali Nadira mencoba, tetapi tidak ada satu pun panggilan yang diangkat. Nadira mendesah kasar saat merasakan sesak di dada. Mungkinkah suaminya saat ini benar-benar sedang bersama wanita lain?
"Kita susul saja, Nad! Aku tahu di mana tempat tadi. Aku ambil pistolku dulu." Cacha hendak beranjak pergi, tetapi Nadira segera menahannya.
"Lebih baik sekarang kita berangkat ke Bali. Mereka pasti sudah menunggu," ucap Nadira. Dia memegang lengan Cacha dengan erat untuk menahan langkah gadis tersebut.
"Tapi, Nad ...."
"Aku baik-baik saja. Ayo kita berangkat." Nadira mengecek seluruh barang-barangnya, memastikan tidak ada satu pun yang tertinggal. Setelah selesai, dia mengajak Cacha keluar kamar.
Nadira mencoba bersikap tenang meski dalam hati sekarang sedang bergejolak hebat. Bahkan, sesekali Nadira mengusap air mata dari sudut matanya.
"Kamu kenapa, Nad?" tanya Johan saat melihat wajah Nadira yang tampak muram. Tidak ada sedikit pun senyum di wajah cantiknya.
"Nadira tidak kenapa-napa, Yah." Nadira memaksa menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum.
"Kamu yakin?" Kali ini, suara Johan terdengar lebih menuntut jawaban. Nadira mengangguk lemah.
"Yah, barusan ada nomor asing hubungi Nadira. Dia kirim foto Kak Nathan sedang duduk mesra dengan wanita lain," adu Cacha.
"Kamu yang benar saja, Cha! Mana mungkin Nathan bermesraan dengan wanita lain!" sergah Mila tidak percaya.
__ADS_1
"Bener, Bun. Mana mungkin Cacha bohong. Mungkin itu alasan kenapa Kak Nathan bilang mau nyusul aja."
Wajah Nadira tampak makin masam saat mendengar ucapan Cacha tadi. Berbagai pikiran negatif mulai mendatangi Nadira, tetapi wanita itu berusaha keras untuk menepisnya.
"Ayo, kita berangkat saja. Aku tidak apa-apa, kok. Mungkin itu rekan kerja Kak Nathan." Nadira mencoba tetap terlihat tenang.
"Nad ...."
"Kak Al mana?" tanya Nadira pada mereka karena tidak melihat keberadaan kakaknya atau Baby JJ sama sekali. Dia berusaha mengalihkan perhatian mereka agar tidak membahas suaminya lagi.
"Baru saja masuk kamar, tadi Baby JJ rewel semua. Mungkin mereka ingin ikut." Johan menjawab dengan menatap wajah anak menantunya. Mencoba menelisik raut wajah Nadira yang begitu sedih, tetapi wanita itu mencoba tetap terlihat baik-baik saja.
"Aku pamitan sama Kak Al dulu." Nadira hendak melangkah pergi, tetapi Mila yang berdiri di sampingnya, langsung menahan lengan Nadira.
"Kita harus berangkat sekarang, jangan sampai ketinggalan pesawat. Barusan Al sudah bilang supaya kita hati-hati," ucap Mila lembut. Sorot mata wanita paruh baya tersebut terlihat begitu penuh sayang saat menatap Nadira. Dengan gerakan lemah, Nadira akhirnya mengangguk setuju dan mereka pun segera berangkat ke bandara karena mereka hampir terlambat.
💦💦💦
Masih mau lanjut??
Harap sabar pemirsa.
Bab selanjutnya masih on proses ya
__ADS_1