
Bibir Ara mendadak susah digerakkan saat mendengar permintaan Febian yang begitu mencengangkan. Dia sama sekali tidak habis pikir bagaimana bisa Febian meminta hal sepeti itu padanya. Namun, melihat sorot mata Febian yang terlihat bersungguh-sungguh membuat Ara merasakan sebuah perasaan yang lain.
"Anda jangan bercanda, Tuan." Ara masih sangat tidak percaya.
"Aku tidak pernah bercanda." Febian menjawab dengan tegas.
"Tuan, mintalah hal yang lain saja," ucap Ara lirih.
"Sayangnya hanya itu yang aku inginkan. Tidak ada hal yang lain lagi. Kenapa? Kamu menolakku?" tanya Febian kecewa.
"Saya tidak bisa, Tuan. Kita sangat berbeda jauh. Saya bersedia menjadi pembantu Anda selamanya. Itu lebih pantas untuk saya." Ara berusaha menunjukkan senyumnya yang paling manis.
"Menurutmu apa yang berbeda dari kita?" Lelaki itu menghela napas panjangnya.
"Tuan, seharusnya Anda tidak menanyakan hal seperti itu. Dari segi mana pun kita sangat berbeda. Anda adalah pemilik perusahaan, sedangkan saya hanyalah seorang office girl," sahut Ara.
"Tapi sayangnya aku tidak pernah peduli dengan hal itu. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa terpaut padamu bahkan ingin sekali menikahimu." Ucapan Febian terdengar begitu tegas.
"Tuan—"
"Menikahlah denganku dan aku akan belajar mencintaimu," ucap Febian sekali lagi.
Ara tidak menjawab karena dirinya sedang dilema saat ini. Dia juga belum mencintai Febian, tetapi dia bisa melihat kesungguhan dari sorot mata lelaki tersebut. Ara terdiam untuk menimang keputusan apa yang lebih baik diambilnya saat ini.
"Tuan, bolehkah saya mengajukan persyaratan?" pinta Ara dengan ragu.
"Katakan!" sahut Febian cepat.
"Saya ingin pernikahan kita dilakukan secara diam-diam karena kita belum saling mencintai. Saya takut jika suatu saat terjadi hal yang tidak kita inginkan, semua akan memalukan keluarga Anda."
"Hal memalukan apa?" tanya Febian begitu menuntut.
"Tuan, kita tidak akan pernah tahu hal yang akan terjadi dengan kita kedepannya nanti. Jika kita menikah secara terbuka dan ternyata kita tidak berjodoh. Saya takut keluarga Anda akan menanggung malu apalagi saya hanyalah orang miskin yang jelas tidak sederajat dengan keluarga Anda," ucap Ara lirih.
__ADS_1
"Asal kamu tahu, keluargaku bukanlah orang yang suka membedakan derajat seseorang. Mommy dulu juga cuma karyawan waktu menikahi daddy," jelas Febian.
Ara tidak bisa lagi berkata-kata, hanya menatap Febian dengan tatapan yang susah dijelaskan. Dia tidak tahu lagi bagaimana harus menolaknya.
"Aku anggap diammu sebagai jawaban." Ara terkejut mendengar ucapan Febian. Bahkan dia melihat alis Febian yang terlihat naik-turun.
"Kenapa begitu?" Bukannya menjawab, Febian justru menarik tangan Ara supaya gadis itu mau berdiri. Kemudian, mereka berdiri di samping brankar dan menatap ayah Ara yang masih terbaring lemah, tetapi Ara bisa melihat senyum di bibir sang ayah.
"Pak, saya mohon restui hubungan saya dan putri Bapak," ucap Febian dengan lembut. Kepala ayah Ara terlihat mengangguk pelan. Febian tersenyum lebar, sedangkan Ara masih belum percaya.
"Kalau begitu sekarang kita harus mencari cincin pernikahan, biar bapak ditunggu oleh anak buahku." Febian mengajak Ara pergi dari sana dan gadis itu hanya bisa menurut tanpa berani melakukan penolakan.
***
Ketika sudah berdiri di toko perhiasan, Ara menghentikan langkahnya begitu saja membuat Febian pun melakukan hal sama. Febian berbalik dan menatap Ara dengan heran saat melihat raut wajah gadis itu yang terlihat ragu.
"Kenapa berhenti?" tanya Febian.
"Anda yakin akan membeli cincin pernikahan, Tuan?" tanya Ara.
"Tuan, tapi saya belum siap," tolak Ara. Namun, Febian justru menggandeng tangan gadis itu dan mengajaknya masuk untuk memilih cincin pernikahan.
Febian meminta salah seorang karyawan untuk menunjukkan beberapa cincin pernikahan dan menyuruh Ara untuk memilihnya. Namun, Ara justru kebingungan karena semua cincin itu terlalu mewah baginya.
"Pilihlah salah satu," suruh Febian, tetapi Ara masih saja terdiam. "Pilih yang kamu suka. Dalam hitungan ketiga kalau kamu tidak memilih maka aku akan—"
"Saya memilih ini!" Ara mengambil sepasang cincin pernikahan yang simpel, tetapi terkesan begitu elegan dengan sebuah batu permata kecil.
Febian tersenyum lalu menyuruh karyawan toko itu untuk membungkusnya. "Berapa, Mbak?"
"Dua ratus juta, Tuan."
Ara terperangah mendengar jawaban karyawan toko itu. Dia tidak menyangka kalau cincin itu berharga ratusan juta. Ara menatap Febian yang tetap terlihat begitu tenang, bahkan dengan santainya lelaki itu mengeluarkan kartu debit lalu menyerahkan kepada karyawan tadi.
__ADS_1
"Tu-tuan, bagaimana kalau kita ganti saja cincin ini," ucap Ara memelas setelah karyawan toko tersebut pergi.
"Kamu tidak suka dengan cincinnya?" tanya Febian. Namun, Ara justru menggeleng lemah.
"Harganya terlalu mahal, Tuan. Kita cari yang biasa saja," ucap Ara jujur, Febian hanya membulatkan bibirnya sembari mengangguk perlahan.
Setelah selesai dengan urusan cincin, Febian hendak mengajak Ara ke butik untuk mencoba gaun pengantin, tetapi mereka mampir di restoran terlebih dahulu karena sudah masuk jam makan siang. Febian memesankan makanan untuk Ara juga untuk dirinya sendiri.
"Setelah ini saya harus kembali ke kantor, Tuan, karena masih harus bekerja. Mbak Diska dan Sekar pasti mencari saya."
"Memangnya bos kamu itu, aku atau mereka?" tanya Febian sedikit ketus.
"Anda, Tuan, tapi tadi saya pergi tidak bilang mereka. Padahal saya masih harus membersihkan lantai bawah." Ara meminum jeruk hangat pesanannya.
"Kamu ini sekarang sedang pergi dengan bos, kenapa mesti takut mereka mencari? Yang harusnya kamu takuti adalah aku. Katakan dengan jujur, apa selama ini mereka memperlakukanmu dengan baik?" tanya Febian penuh selidik. Ara memalingkan wajah karena tidak mau Febian tahu kalau dirinya sedang gugup saat ini.
"Ba-baik, Tuan. Mereka justru sangat baik mau memberi tahu hal apa saja yang harus saya lakukan," sahut Ara berbohong.
"Kalau begitu kenapa kamu jadi gugup begitu?" Febian tersenyum meledek. Ara pun hanya bisa menunduk karena takut akan salah menjawab.
"Sudahlah, lebih baik sekarang kamu makan dulu baru setelah ini aku akan mengajakmu pergi ke suatu tempat," suruh Febian. Ara pun akhirnya memakan nasi tersebut.
"Memangnya setelah ini kita akan ke mana lagi, Tuan?" tanya Ara penasaran.
"Ke butik."
"Butik? Untuk apa?" tanya Ara, keningnya terlihat mengerut hingga membuat alisnya saling bertautan.
"Untuk beli semen, tentu saja untuk mencoba gaun pengantin," sahut Febian sedikit ketus.
"Gaun pengantin? Kenapa cepat sekali, Tuan?" Ara semakin terlihat heran.
"Siapa bilang cepat sekali? Kita harus mempersiapkan semuanya karena minggu depan kita akan melangsungkan ijab kabul."
__ADS_1
"Uhuk uhuk!" Ara tersedak saat mendengar ucapan Febian, bahkan wajah gadis itu sampai memerah. Febian yang begitu khawatir langsung menyodorkan segelas air putih kepada gadis itu.