Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
117


__ADS_3

"Hey! Apa yang kalian lakukan?" tanya Rendra dengan nada tinggi. Kedua pria bertubuh kekar itu, mengalihkan pandangannya ke arah Rendra dengan sangat tajam.


"Kamu siapa?" tanya salah satu di antara mereka.


"Aku?" Rendra menarik tubuh Anisa agar merapat padanya. "Aku calon suaminya dan sebentar lagi kita akan menikah!" kata Rendra tegas.


Cacha yang baru saja berhenti di belakang Rendra. Langsung membuka mata lebar saat mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Rendra. Entah mengapa, Cacha merasakan hatinya begitu sakit mendengar ucapan itu.


"Cih! Jangan asal mengaku! Kalau dia calon istrimu, gadis cantik di sampingmu siapa?" tukasnya. Rendra menoleh dan menatap Cacha yang sedang tersenyum sinis.


"Kalian tidak perlu tahu siapa aku!" seru Cacha. Tangannya terlihat merapikan jaket, padahal ia hanya memastikan pistolnya berada di saku jaketnya dengan aman.


"Wah, galak juga, tapi galak-galak bikin bernapsu. Ayo, Cantik. Lebih baik kamu sama abang aja." Pria itu maju mendekati Cacha, sedangkan gadis itu hanya berdiri dengan tenang di tempatnya.


"Jangan beraninya sama cewek!" teriak Rendra. Dia hendak maju menolong Cacha, tapi pria kekar yang satunya, menahan Rendra.


"Sepertinya kamu pemberani juga," ucap lelaki itu saat melihat Cacha yang justru melemparkan sebuah tatapan tajam.


"Memang apa yang harus aku takutkan dari kalian?" Cacha tersenyum meledek, membuat amarah pria itu menjadi naik ke ubun-ubun.


"Cih! Kalau aku sudah bisa menelanjangimu, kita lihat saja, masihkah kamu seberani ini!" hardik pria tersebut.


"Coba saja kalau berani!" balas Cacha, tanpa rasa takut sedikit pun.


Lelaki tersebut semakin mendekati Cacha dengan tatapan yang seolah hendak melahap gadis itu. Namun, Cacha masih saja terlihat tenang. Ketika lelaki tersebut hendak menyentuh pipi Cacha, dengan gesit gadis itu menepisnya, lalu mengarahkan kaki menendang perut lelaki itu tepat di ulu hati hingga lelaki itu jatuh tersungkur.

__ADS_1


"Brengs*k!" umpatnya. Dia kembali bangun dan mendekati Cacha hendak menampar gadis itu karena sudah lancang.


Namun, sebelum tamparannya mendarat, Cacha sudah terlebih dahulu menahan tangan lelaki itu, memutar ke belakang dan menguncinya. Cacha menendang tepat di lutut belakang untuk melumpuhkan lelaki itu.


"Gila! Kenapa tenagamu kuat sekali!" ketus lelaki itu, karena dirinya sama sekali tidak bisa bangkit.


"Jangan meremehkan orang lain. Bahkan, jika aku boleh membunuhmu saja, dalam satu kedipan mata aku bisa melakukannya!" angkuh Cacha.


Melihat temannya terkunci, lelaki yang satunya hendak maju untuk membantu, tapi Rendra menahannya. Mereka berdua pun terlibat baku hantam, bahkan Rendra sudah mendapat beberapa pukulan di wajah.


"Mas, sudah!" teriak Anisa berusaha menghentikan perkelahian itu, tapi mereka masih saja saling beradu otot.


Dengan nekat, Anisa mendekat di tengah-tengah mereka yang membuat perkelahian itu terhenti seketika.


"Aku tidak akan pergi, biar aku yang terluka, Mas. Wajahmu sudah terluka seperti itu dan aku sakit melihatnya. Aku tidak mau kamu semakin terluka, Mas!" pekik Anisa. Airmata gadis itu sudah mengalir membasahi wajahnya. Rendra pun segera memeluknya.


Cacha memalingkan wajah, saat merasakan hatinya terasa berdenyut sakit. Sebegitu cintanya Anisa kepada Rendra, dan sekarang mereka sedang berpelukan mesra. Hati Cacha rasanya panas, seperti terbakar api, tapi Cacha berusaha keras untuk tetap terlihat tenang.


Cacha kembali menoleh dan masih melihat dua manusia itu masih saja berpelukan. "Mas, bawa Anisa pergi, sepertinya dia ketakutan," suruh Cacha.


Rendra melerai pelukannya dan melihat tubuh Anisa yang gemetar. Bahkan wajah gadis itu terlihat sudah memucat.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Rendra khawatir. Dia menangkup kedua pipi Anisa dengan lembut.


"Ya." Suara Anisa bahkan terdengar bergetar. Rendra kembali memeluk gadis itu, sedangkan Cacha menatap lelaki yang tadi menjadi teman duet Rendra, mengambil sebuah balok kayu yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


Rendra tidak menyadari, dia terlalu sibuk memeluk Anisa untuk menenangkan gadis itu. Cacha pun berlari mendekati mereka.


"Mas, awas! Arghhh!!"


Rendra dan Anisa terdorong cukup jauh, sedangkan Cacha sudah jatuh tersungkur karena balok kayu itu tepat mengenai bahunya. Cacha meringis saat merasakan nyeri luar biasa.


"Kamu baik-baik saja, Cha?" Rendra mendekati Cacha dan membantunya bangkit. Cacha tidak menjawab, dia merogoh saku dalam jaket dan mengambil pistol dengan tangan kiri karena bahu kanan terluka dan menjalar sampai ke lengan.


Lelaki itu mendekat, dan lelaki satunya bangkit berdiri dan ikut mendekat. Namun, langkah mereka terhenti sesaat saat melihat Cacha mengarahkan pistol ke arahnya.


"Jangan bercanda Gadis Manis. Kamu pikir kita takut dengan pistolmu?" ledek mereka dengan diiringi tawa menggelegar.


"Aku jadi ingin lihat seberapa hebat kamu menembak dengan tangan kiri!" Mereka begitu meremehkan.


Cacha memejamkan mata, berusaha untuk fokus. Dia meringis beberapa kali saat merasakan bahunya semakin terasa nyeri bahkan sampai menjalar ke kepala.


Anda tidak perlu berpikir menembak dengan tangan kanan atau kiri, Nona. Fokus saja pada bidikkan Anda. Ikuti insting Anda, ke mana Anda akan mendaratkan peluru Anda. Fokus, Nona! Walau dengan tangan kiri, Anda masih bisa melumpuhkan mangsa Anda. Saya yakin Anda pasti bisa!


Perkataan Mike saat mengajari menembak, kembali terputar di otak Cacha. Gadis itu, menghela napas panjang dan bersiap menarik pelatuknya tanpa membuka mata. Sementara dua pria bertubuh kekar itu masih saja tersenyum meremehkan.


Cacha menarik pelatuknya, hingga terdengar suara tembakan dan peluru Cacha tepat mengenai paha salah satu di antara mereka. Sementara Cacha terdiam di posisi karena rasa sakit di kepala yang begitu mendera.


"Cha!" Rendra menahan tubuh Cacha yang terkulai lemas dengan mata terpejam.


"Mike," gumam Cacha sebelum gadis itu benar-benar kehilangan kesadaran.

__ADS_1


__ADS_2