Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
135


__ADS_3

Malam menjelang, Cacha sudah berdandan cantik meski masih menggunakan gips. Dia segera turun ke lantai bawah untuk bergabung bersama kedua orang tuanya yang sudah bersiap-siap menyambut tamu mereka.


"Kamu sudah siap, Cha?" tanya Mila saat putrinya sudah duduk di sampingnya.


"Sudah, Bun." Cacha terlihat sibuk memainkan ponselnya.


"Tuan Rendra sudah sampai mana, Cha?" Kali ini Johan yang bertanya.


"Katanya sih, lima menit lagi sampai, Yah." Cacha menoleh, tapi dia sedikit merasa tidak nyaman saat melihat raut wajah ayahnya yang tampak begitu datar. Seolah tidak suka dengan kedatangan tamu kali ini.


"Ayah setuju 'kan kalau Cacha sama Rendra?" tanya Cacha penuh selidik.


"Kenapa ayah tidak setuju? Ayah akan menghargai setiap keputsanmu, ya walaupun keputusan ayah yang terbaik." Johan bicara dengan tenang.


"Maksud, Ayah?" Mendengar ucapan sang ayah membuat kening Cacha semakin mengerut.


"Tidak ada maksud apa-apa. Mil, sepertinya tamu kita sudah datang, ayo kita sambut." Johan berdiri, diikuti Mila yang juga berdiri di sampingnya.


"Ayo, Sayang." Mila mengajak Cacha yang hanya diam saja.


Ketiga orang itu pun berjalan keluar rumah untuk menyambut Rendra dan keluarganya. Setelah mobil Rendra berhenti di depan teras rumah keluarga Saputra. Terlihat tiga orang turun dari dalam mobil dan berjalan mendekat.


"Selamat datang di gubuk saya, Tuan." Johan menyalami Bastian dan keluarganya secara bergantian.


"Jangan merendah, Tuan. Kalau rumah megah seperti ini saja gubuk, bagaimana dengan rumah saya." Bastian membalas tak kalah sopan.


Johan hanya terlihat memaksa senyumnya. Dia pun menyuruh para tamu untuk masuk dan duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


"Oh iya, bagaimana keadaan Nak Cacha? " Nirmala bicara dengan begitu lembut.


"Sudah mendingan, Tante." Cacha tersenyum simpul.


"Syukurlah. Maaf ya, Nak. Karena menolong Rendra kamu harus terluka seperti itu," ucap Nirmala merasa tidak enak hati.


"Tidak apa, Tante." Cacha masih tersenyum simpul.

__ADS_1


Cacha melirik Rendra yang sedari tadi hanya diam, bahkan lelaki itu belum menyapanya sama sekali. Merasa ditatap, Rendra menoleh ke arah Cacha dengan senyum tipis. Kemudian, dia memberi kode kepada Cacha untuk membuka ponselnya.


Paham dengan kode dari Rendra, dengan bergegas Cacha membuka kunci layar ponsel dan melihat satu pesan masuk dari Rendra.


Aku gugup banget, tanganku sampai keringetan.


Cacha melipat bibirnya, menahan tawa. Pantas saja sedari tadi lelaki itu hanya diam saja. Jemari lentik Ccaha bermain di atas layar ponsel. Gantian Rendra yang membuka balasan pesan dari Cacha.


Makanya muka kamu asem gitu, Mas. Awas loh, ayah aku galak.


Redra memegang tengkuknya sembari melirik Johan yang sedang mengobrol dengan kedua orang tuanya, sedangkan Cacha semakin terkikih geli melihat Rendra yang terlihat sangat gugup.


"Di mana putra Anda yang lain, Tuan?" tanya Bastian sopan.


"Kedua putra saya sedang di rumah sakit," jawab Johan tenang.


"Rumah sakit? Apa sedang sakit?" Bastian kembali bertanya.


"Tidak! Putra sulung saya sedang menjemput istrinya yang menjadi dokter kandungan, sedangkan putra kedua saya sedang melihat bayi Tuan Muda Alexander," jelas Johan.


"Mari silakan diminum." Mila mempersilakan dengan sopan setelah seorang pelayan menaruh minuman di atas meja.


"Maaf jadi merepotkan," ucap Nirmala diiringi senyum manis.


"Tidak apa. Santai saja," balas Mila yang juga tersenyum simpul.


Bastian yang sudah meminum hampir setengah cangkir, kembali meletakkan cangkir itu di atas meja. Dia sedikit berdeham, untuk mengalihkan perhatian mereka.


"Tuan Johan Saputra yang terhormat, sebelumnya saya dan keluarga saya ke sini ingin bersilaturahmi, dan juga ingin membicarakan hal serius. Tentang kelanjutan hubungan putra putri kita," ucap Bastian.


"Terima kasih sudah berkenan mampir ke rumah saya, Tuan." Johan membalas tenang.


"Sama-sama, Tuan. Jadi, maksud kedatangan kami ke sini, membawa niat baik untuk melamar Nak Cacha." Bastian menatap penuh ke arah Johan yang masih saja terlihat begitu tenang.


"Sebelum saya bertanya kepada putri saya, menerima atau tidak, apakah saya boleh berbicara sedikit dengan putra Anda?" Johan meminta izin. Bastian mengangguk mengiyakan, sedangkan Rendra mengangguk lemah. Jujur, dia sedang sangat gugup saat ini.

__ADS_1


"Tuan Rendra—"


"Panggil saja Rendra, Tuan." Rendra memotong ucapan Johan begitu saja.


"Baiklah. Nak Rendra, apa kamu mencintai putri saya?" tanya Johan. Rendra terdiam sesaat karena hatinya belum yakin sepenuhnya.


"Maaf, Tuan. Saya memang belum sepenuhnya mencintai putri Anda, tapi saya akan belajar mencintainya dengan sepenuh hati saya." Rendra menjawab dengan yakin. Johan tersenyum tipis mendengar kejujuran Rendra.


"Semoga bisa. Saya tahu kalau cinta bisa ada karena terbiasa." Mendengar ucapan Johan itu, Rendra dan Cacha menghembuskan napas lega.


"Apa kamu bersungguh-sungguh ingin menikah dengan Cacha? Kamu tidak mencintai atau menjalin hubungan dengan gadis lain?" tanya Johan lagi, kali ini penuh penekanan.


Bastian dan Nirmala terdiam merasakan aura di sekitar yang mulai terasa dingin karena suara tegas Johan meski wajah lelaki itu terlihat tenang.


"Saya tidak menjalin hubungan dengan gadis mana pun, Tuan. Jangankan menjalin, dekat dengan wanita saja, saya tidak. Ya, hanya beberapa orang saja." Rendra menjawab dengan gugup.


"Kamu yakin?" Johan bertanya penuh selidik. Rendra mengangguk yakin. "Kalau begitu tolong kamu jelaskan ini."


Johan mengambil ponsel di saku lalu mencari video yang diberikan Zack, sedangkan mereka semua yang berada di sana begitu cemas. Termasuk Rendra yang merasa begitu gelisah.


Johan menunjukkan layar ponsel ke hadapan Rendra dan kedua orang tuanya. Mereka bertiga terlihat begitu terkejut melihat video itu. Napas Rendra terasa tercekat di tenggorokan saat melihat video yang tidak dia sadari ada orang yang merekamnya, sedangkan muka Bastian terlihat merah padam.


Mila dan Cacha yang melihat perubahan raut wajah mereka bertiga, merasa begitu heran karena belum melihat video apa yang sedang diputar.


"Viano Narendra Alfareza!" Suara Bastian terdengar memekik, bahkan dia tidak peduli meski kini masih berada di rumah orang lain.


"Mas, kita masih di rumah orang. Jaga sopan santunmu. Kita bisa bicarakan di rumah." Nirmala bicara lembut, berusaha meredam emosi suaminya.


"Tapi, Sayang—"


"Maaf, Tuan Johan. Saya benar-benar tidak tahu kalau ternyata putra saya senakal itu." Nirmala bicara dengan sangat tenang, meski dalam hati wanita itu sedang bergemuruh hebat.


"Maafkan Rendra." Lelaki itu menunjuk dalam. Dia benar-benar tidak menyangka kalau kejadian semalam di mobil, ada yang merekamnya.


"Ada apa sih, Yah?" Cacha akhirnya membuka suara karena dia sudah merasa sangat penasaran. Johan tidak menjawab, hanya menunjukkan video itu kepada Cacha dan Mila.

__ADS_1


"Astaga." Cacha menutup mulut, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Bahkan kedua mata Cacha terlihat berkaca-kaca.


__ADS_2