Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
81


__ADS_3

Nathan kembali memakai celana saat mendengar pintu kamar itu diketuk dari luar. Dengan bertelanjang dada, dia berjalan mendekati pintu dan membukanya. Dia bisa melihat Mila yang sedang menatapnya penuh arti.


"Kalian gagal pecah kendi?" tanya Mila. Jujur, saat ini wanita itu ingin tertawa, tapi tidak tega melihat raut wajah putranya yang terlihat mengenaskan.


"Bun ...." Nathan sedikit merengek, Mila pun akhirnya menutup mulut saat tak kuasa menahan tawanya.


"Sabar, Nat. Mungkin kamu memang masih diuji." Mila mengusap lengan putranya untuk memberi ketenangan. "Kalau sekarang Nadira datang bulan, justru bagus dong," ucap Mila dengan binar bahagia.


"Kenapa begitu?" tanya Nathan dengan ketus.


"Itu artinya Nadira akan berada di masa subur dan kemungkinan besar kalian akan cepat mendapat momongan. Ahh, Bunda sudah tidak sabar ingin menimang cucu," kata Mila. Bibirnya tersenyum lebar membayangkan ada bayi di dekatnya.


"Jangan terlalu berkhayal, Bun. Semua butuh proses. Nathan sampai sekarang aja belum bisa menerabas keperawanan Nadira." Nathan mencebik. Sungguh, saat ini hatinya merasa begitu geram, apalagi hasrat yang tidak tersalurkan membuat kepalanya sampai terasa berdenyut sakit.


"Sabar lah, Nat. Orang sabar itu pantatnya lebar," celetuk Mila. Nathan mendesah kasar saat mendengarnya. "Nanti kalau Nadira sudah selesai, kamu bisa melakukannya pagi, siang, sore dan malam."


"Terus Nathan enggak kerja?" tanya Nathan masih dengan nada ketus. Dia sampai lupa kalau istrinya sudah menunggu di kamar mandi.

__ADS_1


"Ya kamu ambil cuti lah, lagian Kak Rayhan udah sampai sini. Dia bisa menggantikanmu karena katanya Kak Rayhan mau tinggal di sini lagi. Oh Astaga!" Mila memekik sambil menepuk keningnya. Nathan mengusap telinga karena lengkingan suara sang bunda.


"Ada apa sih, Bun?" tanya Nathan heran.


"Bunda belum salaman sama Tuan Kevin. Ahh, dia semakin tua justru semakin tampan." Nathan melongo mendengar ucapan Mila.


"Bunda yang benar saja! Awas kalau sampai ayah marah, Bunda palingan juga nangis-nangis. Emak-emak kok genit!" cebik Nathan. Dia pun mengusap dada setiap kali kegenitan sang bunda itu kumat.


"Biarin! Kamu masih muda mau lepas perjaka aja gagal mulu!" balas Mila meledek.


"Bunda!" teriak Nathan saat Mila berjalan cepat meninggalkannya. Setelah Mila tidak lagi terlihat, Nathan menutup pintu itu dengan kasar hingga menimbulkan bunyi keras. Bahkan, Nadira yang masih membersihkan diri sampai terjengkit kaget.


"Kak Nathan," panggil Nadira gugup. Dia menutupi aset berharga atas bawahnya. Nathan menaruh pembalut sembarangan, lalu melepas celana dan berjalan mendekati istrinya.


"Kak, aku sedang datang bulan," kata Nadira. Nathan hanya diam dan memeluk istrinya dari belakang. Dia memainkan dua bukit kembar itu dan menciumi leher istrinya dengan lembut. Nadira benar-benar tak kuasa merasakan gelayar-gelayar aneh yang dia rasakan saat ini.


"Kak, ku mohon berhentilah." Nadira mematikan shower itu. Nathan menghentikan gerakannya dan melihat air yang sudah mulai memerah.

__ADS_1


"Pakailah pembalutmu, setelah ini bantu aku menidurkan adik kecilku," perintah Nathan. Nadira memalingkan wajahnya saat tanpa sengaja melihat adik kandung Nathan masih berdiri menantang.


"Ba-bagaimana caranya?" tanya Nadira gugup.


"Nanti aku kasih tahu caranya. Ayolah, Sayang. Aku menunggumu," bisik Nathan. Nadira pun hanya menurut. Setelah Nadira selesai memakai pembalut, Nathan segera menyuruh Nadira membantunya menidurkan adiknya, karena dia tidak akan bisa tidur jika adiknya belum muntah dan kepalanya masih akan terus berdenyut sakit.


Adik kecilku, sabarlah. Seminggu lagi, aku akan menujukkan rumahmu dan aku tidak akan gagal lagi.


Nathan memejamkan mata saat Nadira sedang berusaha membantunya. Sungguh, rasa nikmat tiada tara baru dia rasakan saat ini. Itu baru menggunakan tangan, bagaimana kalau di rumah si kecil langsung? Rasanya Nathan sudah tak sabar dan ingin segera datang minggu depan.


Setelah Nadira selesai membantu Nathan menuntaskan hasratnya. Mereka segera membersihkan diri lalu merebahkan diri di atas kasur yang masih penuh dengan kelopak bunga.


"Kak Nathan, maafkan aku." Suara Nadira terdengar begitu lirih karena merasa tidak enak hati.


"Semua bukan salah kamu. Lebih baik kita tidur, aku tahu kamu sangat lelah," perintah Nathan. Nadira pun mengangguk mengiyakan lalu memejamkan matanya.


"Apa perutmu sakit? Kata Rendra kamu selalu mengambil cuti saat PMS." Nathan mengusap perut istrinya dengan sangat lembut meski hatinya terasa cemburu saat harus menyebut nama lelaki lain.

__ADS_1


"Ya, dari kemarin aku sudah merasakan, tapi aku diemin aja." Nadira merasa sangat nyaman saat usapan tangan Nathan terasa begitu lembut dan mengurangi rasa sakit di perutnya. Lama-kelamaan Nadira pun tertidur lelap.


Nathan mendaratkan ciuman di puncak kepala Nadira." Aku mencintaimu, Elvina Nadira Alexander. Cinta masa kecilku. "Nathan pun ikut terlelap karena dia juga sudah merasa begitu lelah hari ini.


__ADS_2