Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
99


__ADS_3

"Mas, apa kita tidak keterlaluan?" Mila merapatkan tubuhnya yang tidak memakai sehelai benang pun ke tubuh suaminya yang sama-sama telanjang. Setelah ancaman 'menelanjangi' terlontar dari mulut Johan, pengantin lawas itu benar-benar telanjang dan saling menindih di kasur empuk itu.


"Kamu yang keterlaluan. Pasti sekarang Nathan sedang kalang kabut nyari Nona Muda." Johan mengusap rambut Mila menggunakan tangan kanan yang dijadikan sebagai bantal oleh wanita itu.


"Salah kamu sih, Mas. Cium-cium wajah aku penuh cinta, 'kan aku jadi gemas dan langsung pengen olahraga," timpal Mila berpura-pura merajuk.


"Kamu tidak pernah berubah, Mil." Johan mendaratkan ciuman di pelipis istrinya.


"Memangnya kamu mau berubah aku jadi seperti apa? Wonder woman? Cat woman? Meoowww." Mila tergelak keras, menertawakan dirinya sendiri. Johan pun tak kuasa menahan tawa, lalu semakin merapatkan tubuh istrinya menempel padanya.


Aku mencintaimu. Johan membatin sembari mencium puncak kepala Mila.


"Aku juga mencintaimu, Mas." Mila menatap ke arah Johan yang sedang terdiam. Kedua alisnya terlihat naik turun, menggoda suaminya. Johan pun mendecakkan lidah. Dia selalu merasa heran, kenapa istrinya selalu tahu kalau dirinya mengucapkan kata cinta padahal hanya di dalam batin.


"Mas, kamu pintar banget sandiwara, sampai vas bungaku kamu pecahin." Mila menggerakkan telunjuk dia atas dada telanjang suaminya.


"Kalau tidak seperti itu, sudah pasti Nathan akan curiga. Nanti aku beliin lagi, lima sekaligus," kata Johan. Wajah Mila berbinar bahagia.


"Aku mencintaimu, Mas." Mila mengangkat sedikit kepalanya, lalu menciumi seluruh wajah Johan.


"Sudahlah, lebih baik sekarang kita ke Mansion Alexander. Mereka pasti sudah menunggu di sana." Johan hendak bangkit berdiri, tapi Mila segera menahannya.

__ADS_1


"Masih tiga jam lagi, Mas. Masih cukup untuk kita bermain satu ronde lagi," kata Mila. Johan menghela napas panjang melihat istrinya yang mengerlingkan sebelah mata.


"Aku lelah, Mil." Johan berusaha menolak dan hendak bangkit lagi, tapi Mila kembali menahannya.


"Biar aku yang bekerja dan kamu cukup rebahan pasrah aja di bawah," kata Mila. Tanpa banyak bicara, dia bangkit dan duduk di atas tubuh suaminya.


"Astaga! Kamu benar-benar membuatku ...."


"Jatuh cinta," potong Mila. Dia langsung mendaratkan ciuman di bibir suaminya dan ronde kedua pun dimulai.


****


Di ruangan pemimpin Alexander Group, suasana terlihat begitu tegang. Alvino duduk dengan kaki menyilang, tangannya terlihat mengepal erat dengan rahang yang terlihat mengeras. Sorot matanya ke arah sahabat yang kini sudah resmi menjadi adik ipar, terlihat begitu menajam. Sementara Nathan, hanya duduk membisu, raut kekhawatiran terlihat sangat jelas di wajah tampannya.


"Jangan teriak-teriak, Al! Aku belum tuli," protes Nathan, dia mengusap telinganya yang sedikit berdengung.


"Kamu itu menyebalkan, Nat! Aku udah beri kamu kepercayaan buat jaga Nadira, tapi hasilnya apa? Kamu membuatku kecewa, Nat!" hardik Alvino. Kali ini Nathan tidak menjawab, dia hanya diam dan menyadari kecerobohannya.


"Aku akan berusaha mencari Nadira, Al. Zack juga sedang mengejar penculik itu," sahut Nathan. Tangannya memijat pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing di kepala.


"Terus bagaimana hasilnya?" tanya Alvino mengintimidasi.

__ADS_1


Nathan menghirup napas dalam-dalam sebelum memberi jawaban, sedangkan Alvino menanti dengan sabar. "Hasilnya ... aku tidak tahu. Ponselku tertinggal di rumah."


Brakk!


"Jebol prawan!" Nathan langsung menepuk mulutnya karena latah, sedangkan Kenan memegangi perutnya yang terasa begitu kram karena tertawa.


"Diam!" Suara Alvino terdengar meninggi, mereka pun terdiam. Suasana kembali terasa begitu mencekam.


"Kamu sudah membuatku kecewa, Nat! Aku pikir kamu bisa menjadi adik ipar yang baik untuk aku, tapi nyatanya? Hah!" Alvino menghembuskan napas dengan sangat kasar.


"Pergilah cari Nadira sampai ketemu, kalau kamu tidak menemukan juga, jam tujuh malam aku tunggu kamu di mansion Alexander dan segera angkat kaki dari sana. Kalau kamu tidak datang, maka aku tidak akan pernah mengizinkanmu menemui Nadira lagi, meskipun kamu bersujud, bersimpuh memohon padaku!"


"Al, bagaimana mau bertemu Nadira, sedangkan sampai saat ini saja aku belum bisa menemukan jejak Nadira sama sekali." Suara Nathan terdengar sangat lesu.


"Bagaimana bisa ketemu kalau kamu masih duduk santai di sini?" Alvino tersenyum sinis kepada Nathan.


"Ya udah kalau gitu aku nyari Nadira dulu." Nathan bangkit berdiri lalu keluar dari ruangan itu.


"Nadira diculik, Ayah dan Alvino cuman marahin aku tanpa berniat membantuku mencari Nadira," gerutu Nathan. Dia menaruh curiga kepada mereka, tapi rasa cemas akan keberadaan istrinya, membuat Nathan tetap pergi dan berusaha mencari istri tercintanya.


"Al," panggil Kenan, setelah cukup lama kepergiaan Nathan.

__ADS_1


"Bersiaplah, Ken. Kita pulang ke mansion sekarang."


__ADS_2