Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
145


__ADS_3

"Apa kabar, Nona?" tanya Mike, menyadarkan Cacha dari keterdiamannya. "Nona?"


Cacha tergagap, dia melihat alis Mike yang terlihat saling bertautan. Wajah Mike masih terlihat tampan, meski usia lelaki itu sudah hampir mencapai kepala empat.


"Maafkan aku melamun, Mike." Cacha berusaha menetralkan suaranya agar tidak terlalu terlihat gugup.


"Tidak apa, Nona. Apa saya mengganggu waktu Anda?" tanya Mike lagi. Bibir lelaki itu terlihat tersenyum, dan Cacha merasa begitu terpikat.


"Tidak, Mike. Bagaimana kabarmu di sana?" tanya Cacha balik. Senyum Mike semakin mengembang sempurna.


"Saya baik, Nona. Hanya saja—" Mike menghentikan ucapannya sesaat, dan Cacha sangat menunggunya.


"Hanya saja apa, Mike?" tanya Cacha tak sabar.


"Saya sedang merindukan seseorang, Nona."


"Siapa?" tanya Cacha sangat penasaran.


"Ya, pokoknya ada, Nona." Mike menutup mulutnya yang sedang terkekeh, Cacha mengerucutkan bibir karena merasa kesal. Namun, Cacha tidak menyadari kalau yang dia lakukan itu sangat menggemaskan di mata seorang Mike Anderson.


"Apa luka Anda masih sakit, Nona?" tanya Mike, terlihat khawatir.


"Tidak terlalu, Mike. Sudah lumayan sih. Aku udah bosan cuman di rumah saja. Rasanya pengen liburan."


Tanpa sadar, Cacha berbicara dengan manja, membuat Mike kembali tersenyum saat teringat Cacha kecil yang seringkali bersikap manja padanya.


"Memang Anda mau liburan ke mana, Nona?" tanya Mike penasaran.


"Ya, ke mana saja. Bali mungkin," kata Cacha. Dia menutup wajahnya malu karena sudah keceplosan.


"Kenapa ke Bali? Mau menyusul saya?" goda Mike. Cacha tersenyum saat Mike mengerlingkan matanya.


"Ish! Kamu percaya diri sekali. Lagian ya, Mike. Kenapa sekarang kamu jadi genit gitu? Perasaan, kemarin-kemarin kamu enggak segenit itu," kata Cacha heran.


"Mungkin karena saya sering lihat turis cantik di sini, Nona." Mike menjawab asal. Sementara Cacha terdiam, entah mengapa dia merasakan perasaan aneh yang menyusup ke dalam hatinya.


"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya Mike saat melihat wajah Cacha yang begitu muram.

__ADS_1


"I-iya, Mike." Cacha kembali tergagap.


"Kalau begitu saya matikan dulu, Nona. Masih ada pekerjaan yang harus saya lakukan." Mike berpamitan, dan Cacha seolah tidak rela.


"Baiklah, Mike. Terima kasih sudah meneleponku." Cacha bicara dengan lesu.


"Saya yang harusnya berterima kasih karena Anda sudah bersedia menerima panggilan saya, Nona. Selamat siang dan selamat beristirahat, Nona Muda." Mike tersenyum simpul, sebelum mematikan panggilan itu. Cacha pun hanya membalas dengan lesu.


"Padahal aku masih sangat merindukanmu, Mike." Cacha menatap layar ponselnya setelah panggilan itu terputus. Setidaknya, panggilan tadi sudah sedikit mengobati rasa rindunya untuk lelaki itu.


Akhirnya, Cacha kembali berbaring dan berusaha memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuhnya.


***


Keesokan harinya, Nadira sudah berdandan cantik dan rapi bersama Nathan. Rencananya, hari ini mereka sekeluarga akan ke rumah sakit karena Baby JJ sudah diperbolehkan untuk pulang. Untuk sementara waktu, mereka semua akan tinggal di Mansion Alexander, karena Mila akan membantu Rania mengurus Baby JJ. Hanya Mila lah, wanita berpengalaman di sana, meskipun nantinya akan dibantu pelayan dan baby sitter.


"Kalian sudah siap?" tanya Mila saat melihat Nathan dan Nadira sudah sampai di anak tangga terakhir.


"Sudah, Bun." Nathan menyahut tanpa melepas rangkulan di pundak istrinya.


"Cacha Maricha Hehey, mana?" Mila celingukan mencari putri bungsunya.


"Memangnya kenapa? Bukannya keren 'kan? Mana di mana anak bungsu saya, Cacha Maricha Hehey!" Mila berjoget sembari bernyanyi ala anak kambing, mereka pun tergelak keras melihat tingkah konyol ibunya.


"Ehem!"


Goyangan Mila terhenti saat melihat Johan sudah berdiri di belakangnya dengan raut wajah yang tampak begitu kesal. Mila menunjukkan rentetan gigi putihnya sembari menunjukkan dua jarinya.


"Rayhan mana?" tanya Johan tanpa peduli pada Mila.


"Sudah di rumah sakit, katanya sih nemenin Queen." Mila menjawab sambil memasukkan tangannya ke lengan suaminya.


"Ayo anak-anak. Kita berangkat. Let's go!" teriak Mila. Johan yang berada di sebelahnya sampai mengusap telinganya yang berdengung.


"Bisakah kamu memelankan suaramu?" protes Johan. Langkahnya menyeimbangi langkah istrinya.


"Kalau pelan nanti aja, Mas. Kalau kita lagi berdua di kamar."

__ADS_1


"Mila!" seru Johan. Lelaki itu benar-benar sangat kesal.


"Apa, Sayang? Jangan marah. Kalau marah aku enggak mau kamu sentuh selama seminggu!" ancam Mila. Johan memutar bola matanya malas.


"Aku enggak takut!" timpal Johan dengan santai. Dia membuka pintu mobil untuk istrinya, sedangkan ketiga anaknya duduk di belakang.


"Aku yang takut, Mas. Takut kamu kepincut Tante Citra lagi!" seloroh Mila.


"Terserah, Mil!" Johan menutup pintu itu, lalu berjalan mengitari mobil untuk duduk di balik setir kemudi.


"Harusnya kamu yang nyetir, Nat! Masa iya orang tua disuruh nyetir, yang muda malah bermesraan di belakang," kata Johan menyindir.


"Enggak papa sih, Yah. Bilang aja Ayah pengen mesraan juga sama bunda. Lagian kenapa enggak suruh sopir aja." Nathan menjawab santai. Dia masih merangkul Nadira yang terlihat malu-malu.


"Sopir hanya untuk keadaan darurat saja. Sudahlah, ayah mau fokus nyetir dulu."


Mereka pun terdiam saat Johan mulai melajukan mobilnya. Namun, itu hanya bertahan sesaat saja, karena selama perjalanan Mila terus saja berceloteh disahuti Nathan yang satu spesies dengan sang bunda.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, mobil yang dikendarai Johan berhenti di parkiran rumah sakit. Setelah mobil itu benar-benar berhenti, mereka semua turun dan berjalan menuju ke ruangan VVIP di mana Rania dan kedua bayinya di rawat.


Ketika pintu ruangan terbuka, terlihat Rania yang sudah bersiap pulang. Ada Alvino, Kenan, dan Ana juga berada di sana.


Nadira dengan langkah lebar mendekati dua box bayi yang terletak tidak jauh dari brankar. Cacha pun mengikuti Nadira. Wajah mereka tampak begitu semringah saat melihat dua bayi mungil sedang membuka matanya.


"Tampan dan cantik sekali!" teriak Cacha heboh. Dia mengusap wajah dua bayi itu bergantian dengan sangat lembut.


"Jangan teriak kencang-kencang, Cha. Nanti keponakan aku nangis karena terkejut sama suaramu," protes Nadira. Dia pun ikut mengusap kedua bayi itu.


"Habisnya aku gemes banget. Hay Baby Jin dan Jun. Kenalin ini Onty Marisa." Cacha bicara dengan antusias.


"Jelek banget kamu manggil Jin dan Jun. Namanya tuh Jinny dan Junno, Cha!" protes Nadira tidak terima.


"Sama aja, kalau disingkat jadinya Jin dan Jun." Cacha bersikukuh.


"Terserah kamu deh, Cha. Hallo, Sayang. Kalian inget ya, namanya bukan Onty Marisa, tapi Cacha Maricha Hehey, Anak Kambing." Nadira tertawa meledek.


"Bunda," rengek Cacha menatap ke arah Mila yang juga sedang tertawa.

__ADS_1


"Emang bener kok, Cha." Mila bicara seolah tak berdosa. Bahkan dia berpura-pura tidak melihat suaminya yang sedang menatap tajam ke arahnya.


__ADS_2