
Lima tahun kemudian.
Seorang lelaki berpakaian jas rapi berdiri di samping jendela kantor dan menatap pemandangan gedung-gedung yang tertangkap oleh indera penglihatannya. Berkali-kali embusan napas kasar keluar saat ingatan tentang seseorang yang pernah melukai hatinya kembali teringat. Dia tidak pernah lupa. Bahkan, semakin dia mencoba melupakan, perasaan itu semakin terasa dalam apalagi saat ini dia sudah benar-benar menutup pintu hatinya.
Sedang asyik dengan lamunannya, terdengar pintu ruangan diketuk. Selang beberapa saat seorang gadis cantik dengan setelan baju kantor terlihat berjalan masuk dengan membawa sebuah map dalam dekapannya.
"Kak Bi, perasaan hobi banget ngelamun di situ. Ati-ati kesambet!" seru Leona sembari meletakkan map itu di atas meja kerja Febian.
"Diamlah anak kecil! Jangan terlalu banyak bicara," protes Febian. Dia melangkah mendekati Leona yang saat ini sedang berdiri dengan bersandar meja.
"Aku bukan anak kecil! Kata Kak Nadira nanti malam kita harus ke Jakarta. Besok mau liburan." Leona terlihat begitu malas.
"Jangan memasang muka malas seperti itu. Bukankah kamu senang setiap kali diajak liburan?" ledek Febian dengan berusaha menahan tawa.
"Kak Bi yang benar saja. Kita bukan liburan keluarga, tapi seperti liburan anak TK! Junno, Jinny, Kenzo, Kenzi, Kendra, Bobby, Cheryl, Patricia, belum lagi bayinya Kak Al si Aksara."
Febian tergelak keras saat mendengar Leona dengan lincah mengabsen keponakannya satu persatu. Sungguh luar biasa bagi mereka.
"Sumpah, Kak! Aku pusing! Mendingan aku jalan sama si Bara."
"Ciee yang bentar lagi mau nikahan. Yakin nih kamu bakal nyalip Erlando?" Wajah Leona merona merah. Bayangan pernikahan yang akan dilangsungkan dua minggu lagi sudah menari-nari dan membuatnya tidak sabar.
"Iyalah, siapa suruh Kak Erla nemenin Kak Bi jadi jomblo karatan," ucap Leona setengah meledek. Febian tidak menjawab, hanya menunggingkan senyum sembari menatap berkas yang tadi dibawa Leona.
"Kak Bi," panggil Leona, Febian menoleh sekilas lalu kembali menatap berkas di tangan. "Kak Bi emang beneran enggak mau pacaran atau langsung cari istri gitu? Kak Bi 'kan udah tua."
"Aku ini baru tiga puluh satu tahun dan kamu bilang sudah tua?" tanya Febian kesal. "Aku sudah nyaman hidup sendiri seperti ini." Raut wajah Febian tampak begitu datar.
"Yaelah, jangan sewot kali." Leona memutar bola mata malas. "Kalau Kak Bi mau, ada temenku yang cantik, baik, dewasa, tapi dia bukan anak orang kaya."
"Tidak! Aku yakin kalau temanmu itu satu spesies kaya kamu. Sangat menyebalkan!" tolak Febian mentah-mentah.
__ADS_1
"Kak ...."
"Diamlah anak cerewet! Aku mau menyelesaikan ini sebelum cuti satu minggu," omel Febian yang membuat Leona langsung terdiam. Gadis itu kembali duduk di kursi kerjanya dan mulai berkutat dengan komputer di depan.
Sesekali ekor mata Leona melirik ke arah Febian. Sebenarnya ada perasaan tidak nyaman yang menghinggapi hati gadis itu. Dia khawatir kakak sepupunya akan merasa sakit hati dengan kehadiran seseorang di pesta pernikahannya kelak. Leona mengembuskan napas panjang sembari berdoa semoga semuanya baik-baik saja.
***
"Jinny Oh Jinny!" pekik seorang anak kecil dengan tangan berkacak pinggang.
"Apa BoboyBoy," balas Jinny dengan tenang.
"Kamu nakal! Aku bilangin papi!" ancam Bobby, tetapi Jinny justru melipat tangan di depan dada.
"Kalian kenapa?" Nathan yang baru saja masuk, menatap heran ke arah putra dan keponakannya yang terlihat sedang bersitegang.
"Papi!" Jinny berlari menghambur dan memeluk Nathan dengan erat.
"Ya, dia merebut permenku." Jinny bergelayut manja dalam pelukan Nathan.
"B!" panggil Nathan. Bukannya menjawab, Bobby justru berlari ke kamar orang tuanya. Nadira yang saat itu sedang menata baju untuk persiapan berlibur merasa heran saat putranya memeluk dari belakang.
"Kamu kenapa, B?" Nadira membalik badan dan melihat wajah putranya yang terlihat kesal.
"Mi, aku benci sama Kak Jinny dan papi!" jawab bocah itu keras.
"Kenapa?" tanya Nadira dengan kening mengerut.
"B hanya minta satu permen, tapi Jinny gigit tangan B dan papi marah sama B," adu anak kecil itu.
"Biar nanti mami marahin papi. Lebih baik sekarang kamu bantu mami bersiap-siap, besok pagi kita akan pergi liburan."
__ADS_1
Bobby berjingkrak kegirangan dan dengan antusias membantu memilih-milih baju orang tuanya. Walaupun Bobby membuat tumpukan baju itu sangat berantakan, tetapi bibir Nadira justru tersenyum bahagia melihat wajah ceria putranya.
"Beb, kamu sedang apa?" tanya Nathan yang saat ini sudah berada di samping istrinya. Sebuah ciuman lembut mendarat di pipi Nadira.
"Papi, Mami, ini baju siapa? Kenapa baju kecil ini masuk koper mami?"
Nathan dan Nadira terkejut saat melihat Bobby mengangkat dan membuka sebuah lingerie warna merah menyala yang barusan sudah dimasukkan Nadira ke dalam koper. Dengan cepat Nadira merebut baju itu dan menyembunyikan di belakang tubuhnya.
"I-ini milik Oma Mila, mau mami kembalikan." Nadira menjawab dengan begitu gugup.
Nathan memeluk dan mencium tengkuk istrinya dengan lembut. Nadira sedikit menggeliat saat merasakan seluruh tubuhnya terasa meremang.
"Ternyata kamu sudah menyiapkan semuanya, Beb. Ah, rasanya aku sudah tidak sabar ingin segera melakukan pertempuran panas denganmu," bisik Nathan.
"Pertempuran panas? Apa bertempur menggunakan roket dan bom?" tanya Bobby dengan polos. Nadira mencubit pinggang suaminya hingga membuat lelaki itu mengaduh kesakitan. Nathan lupa, kalau putranya adalah anak yang sangat ingin tahu segala hal yang dilihat dan didengarnya.
Noted :
Mila yang sedang asyik bercinta tiba-tiba tersedak padahal dia dan Johan sedang tidak bertukar saliva.
Johan : "Kamu kenapa, Mil?" (Menghentikan gerakannya sesaat)
Mila : "Entah, sepertinya salah satu anak kita ada yang ghibahin aku."
Johan : "Yang benar saja!"
Mila : "Sudah, Mas. Lanjutkan goyanganmu. Kita masih nanjak belum sampai puncak!"
Johan tidak lagi menyahut dan kembali memaju-mundurkan pinggangnya, sedangkan Mila mulai mendes*h kenikmatan.
Dah segitu aja ๐๐
__ADS_1