Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
83


__ADS_3

Nathan masih menatap lekat wajah Nadira. Padahal dirinya berkali-kali mengusap pipi istrinya, tapi wanita itu masih saja tertidur lelap. Senyum di bibir Nathan terbit begitu saja. Dia mencium pipi Nadira dengan sangat lembut.


"Dasar Kebo! Aku tidak menyangka mimpiku untuk bangun tidur selalu bisa melihat wajahmu bisa terwujud juga," gumam Nathan. Senyumnya semakin lebar saat melihat Nadira mulai bergerak perlahan. Nadira merentangkan tangan untuk melemaskan ototnya yang tegang, dia belum sadar kalau ada Nathan di sampingnya.


"Ya Tuhan, jam berapa ini?" tanya Nadira bermonolog.


"Kalau masih ngantuk, tidurlah," suruh Nathan. Nadira hendak menyahut lagi, tapi dia langsung membisu saat mendengar suara Nathan. Dengan memaksa, Nadira membuka kedua kelopak matanya yang masih sangat mengantuk lalu sedikit mendongak dan melihat Nathan yang sedang tersenyum padanya.


"Kak Nathan," panggil Nadira lirih, tapi kemudian dia beranjak bangun dengan segera. Nadira memegang kepalanya yang terasa pusing, bahkan pandangannya terlihat berputar-putar.


"Kalau bangun tidur, jangan langsung bangkit. Berdiamlah lima menit biar kepalamu enggak pusing," kata Nathan dengan lembut.


Nadira kembali merebahkan tubuhnya yang masih lemas. Nathan pun mengusap perut Nadira dan mencium kening Nadira dengan penuh kasih sayang.


"Apa perutmu masih sakit?" tanya Nathan. Nadira menggeleng dengan mata terpejam. Dia bisa merasakan kasih sayang Nathan dari apa yang dilakukan oleh lelaki itu saat ini.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Nadira terdengar berdering, dengan segera Nadira mengangkat panggilan itu setelah melihat nama Rendra di layar. Nathan menghembuskan napas kasar."


"Hallo, Mas." Suara Nadira terdengar begitu lembut dan Nathan sangat membenci itu.


"Hallo, El. Apa kamu baik-baik saja?" Dengan jahil Nathan menekan tombol loudspeaker hingga dia bisa mendengar suara Rendra yang begitu menyebalkan baginya.


"Lumayan, Mas." Jantung Nadira berdegup kencang saat Nathan memeluknya dengan sangat erat.


"Apa perutmu masih sakit? Apa kamu sudah meminum jamu? Jangan lupa istirahat, El." Dari suara Rendra, terlihat jelas kalau lelaki itu sedang khawatir, sedangkan wajah Nathan mulai terlihat memerah karena marah. Hati Nathan benar-benar panas mendengarnya.


"Kamu tahu aku datang bulan, Mas? Kata siapa?" tanya Nadira heran.


Rasanya, Nathan benar-benar ingin mematikan panggilan itu, tapi dia tidak mau Nadira merasa tidak enak hati.


"Nanti dulu, Kak," ucap Nadira dengan menahan desah*n saat Nathan mencium belakang telinganya hingga seluruh tubuhnya terasa meremang. Nathan tidak peduli, dia terus saja menjelajah leher jenjang itu hingga Nadira merasa begitu tak karuan.

__ADS_1


"Akh." Nadira tak mampu lagi menahan desah*n saat Nathan memberi stempel di leher dengan tangan yang sudah meremas salah satu bukit kembarnya. Namun, Nadira memukul pelan tangan Nathan untuk menghentikan apa yang dilakukan suaminya itu karena panggilan dengan Rendra masih terhubung.


"Mas ...."


"Selamat beristirahat, El. Maaf aku mengganggu mu." Bibir Nathan terlihat menyeringai saat melihat panggilan itu terputus begitu saja.


"Kak," rengek Nadira saat Nathan mengambil ponsel miliknya dan menaruh di belakang tubuh.


"Apa kamu tidak mau menikmati waktu sebagai pengantin baru?" tanya Nathan. Nadira menggeleng lemah. Nathan bergeser dan menindih tubuh Nadira. Dia mengusap rambut Nadira dengan lembut, meski hatinya saat ini sedang bergemuruh hebat karena rasa cemburu yang sudah naik ke ubun-ubun.


"Nad, perhatikan batasanmu. Kamu ini sudah bersuami dan aku tidak suka kamu dekat dengan lelaki lain," ucap Nathan penuh ketegasan.


"Kak, Mas Rendra itu hanya atasan aku dan dia terbiasa bertanya seperti itu setiap aku datang bulan." Nadira bicara tanpa sadar kalau yang dia ucapkan justru semakin membuat rasa cemburu Nathan semakin menjadi-jadi.


"Sepertinya hubungan kalian sangat dekat." Nathan bangkit dan duduk di tepi tempat tidur dengan memasang raut wajah datar. Nadira pun ikut bangkit untuk duduk.

__ADS_1


"Nad, seharusnya sekarang kamu sadar kalau ada hati yang harus kamu jaga. Aku ini suamimu dan aku paling benci kamu dekat dengan lelaki lain," ucap Nathan tegas.


"Maafkan aku, Kak. Kalau aku sudah menyakiti Kak Nathan. Aku ini memang istri yang tidak berguna!" Mata Nadira mulai terlihat basah. Dia kembali merebahkan tubuhnya dan tidur membelakangi Nathan.


__ADS_2