
Setelah hampir satu jam berlalu, kini Mike dan Cacha tidur saling berpelukan. Mereka tidak peduli meski tubuhnya lengket karena peluh sehabis berolahraga. Cacha melingkarkan tangan di perut Mike, sedangkan lelaki itu semakin merapatkan tubuhnya.
"Maaf, aku membuatmu sakit." Mike membenamkan ciuman di puncak kepala Cacha dengan penuh sayang.
"Tidak, Mike. Sakit di awal, tapi nikmat pada akhirnya. Pantas saja bunda dan Kak Nathan sangat ketagihan." Cacha terkekeh membayangkan betapa mesumnya bunda dan kakaknya. Mike yang melihat itu pun ikut terkekeh.
"Kamu mau lagi?" tanya Mike menggoda. Cacha memukul dada bidang Mike dengan perlahan.
"Masih perih, Mike. Nanti saja," ucap Cacha. Bibir gadis itu mengerucut membuat Mike menjadi gemas.
"Aku tidak akan melakukannya kalau kamu tidak mau. Aku mencintaimu, Non ... eh, Eneng Cacha." Mike rasanya begitu gugup saat mengatakan itu.
"Terima kasih banyak, Mike." Aku juga mencintaimu. Cacha hanya berani mengucapkan kata itu dalam batin diiringi pelukan yang semakin mengerat.
"Tidurlah." Mike kembali mendaratkan ciuman di puncak kepala Cacha, lalu mengusap punggung belakang wanita itu supaya lekas terlelap. Benar saja, selang beberapa menit, Mike tersenyum saat mendengar dengkuran halus dari istrinya yang sudah kelelahan.
***
Jika di kamar pengantin mereka baru saja terlelap kelelahan, tetapi berbeda dengan sebuah kamar hotel tempat Nathan menginap. Lelaki dengan panggilan 'Kaleng Rombeng' itu, kini sedang mencebik kesal karena kakak ipar yang menginap semalam di Bali, justru kekeuh berada di kamarnya, padahal dia ingin sekali bermain anu dengan istrinya.
"Kamu pergi deh, Al. Kamar Cacha tuh kosong, sayang banget udah dipesan tiga hari ke depan." Nathan mengusir, tetapi Alvino tetap duduk tenang di sofa yang tersedia di samping tempat tidur.
__ADS_1
"Aku enggak bisa tidur tanpa Rania, Nat." Alvino menjawab santai.
"Kamu bisa video call, 'kan? Atau tidur sama Bi. Jangan di sini, ganggu!" Nathan mengomel, dengan menghempaskan tubuh secara kasar di ranjang.
"Kakak ganggu kamu, Nad?" tanya Alvino penuh penekanan. Nadira yang sedari tadi diam, akhirnya menggeleng saat melihat tatapan sang kakak yang begitu menajam. "Lihatlah, Nadira saja bilang aku tidak mengganggu. Kamu aja yang lebay!"
"Kamu memang menyebalkan, Al! Jangan salahkan aku kalau nanti kamu ngiler lihat adegan dewasa secara langsung," ucap Nathan. Alvino hanya memutar bola matanya malas.
Alvino sebenarnya sengaja tidur bersama mereka untuk menjahili adik ipar yang sangat menyebalkan baginya. Dengan santai, dia merebahkan tubuh di sofa, lalu memejamkan mata. Nathan yang melihat itu, semakin merasa begitu kesal.
"Beb, ayo kita kabur," bisik Nathan, ekor matanya melirik Alvino yang masih memejamkan mata. Nadira tidak menjawab, hanya memukul lengan suaminya tanda menolak.
"Kalian mau ke mana?" Pertayaan itu berhasil menghentikan gerakan tangan Nathan yang hendak memutar knop pintu. Mereka berdua berbalik, dan tersenyum simpul saat melihat Alvino sudah duduk dengan gagah di sofa.
"Jangan pernah coba-coba ...."
"Kaabuurrr, Beb!"
Nathan membuka pintu dengan cepat, dan mengajak istrinya berlari menuju ke kamar Cacha yang kini telah kosong. Setelah mereka berdua masuk, Nathan segera mengunci kamar tersebut.
"Ah! Akhirnya, lepas juga dari kejaran satpol PP," ucap Nathan. Nadira yang mendengar itu hanya terkekeh.
__ADS_1
"Kasihan Kak Al. Dia kesepian." Nadira rasanya tidak tega, tetapi Nathan bersikap seolah tidak peduli dan membopong tubuh Nadira ala bridal style menuju ke atas ranjang.
"Aku tahu akal licik kakakmu itu, Beb. Dia hanya tidak mau kita berbagi kenikmatan karena puasa empat puluh harinya belum lunas," ucap Nathan.
Dia merebahkan tubuh Nadira di atas kasur dan langsung menindihnya. Nadira pun tidak bisa melepaskan diri sama sekali.
"Kamu sudah siap malam pertama, Beb? Jangan berteriak nanti tetangga pada denger," seloroh Nathan.
"Malam pertama apa?" sewot Nadira.
"Malam pertama kita anu-anuan di Bali. Dulu di Lombok, bulan depan kita coba di Papua yang agak jauhan dikit." Tepat ketika Nathan selesai berbicara, lelaki itu mengaduh karena telapak tangan Nadira mendarat bebas di dadanya.
"Bisa enggak sih, jangan menyebalkan sehari saja!" Bibir Nadira mengerucut, Nathan yang melihat pun menjadi begitu gemas dan langsung ******* bibir istrinya. Tangan lelaki itu merema*s bukit kembar istrinya yang semakin membesar, dan membuat lelaki itu semakin gencar memainkannya.
Nadira pun terbuai dengan sentuhan-sentuhan lembut suaminya, dan mencoba untuk menyeimbangi gerakan lelaki itu. Sampai tanpa sadar, tidak ada lagi pakaian yang menempel di tubuh mereka.
"Kita pakai gaya anjing kawin, Beb," suruh Nathan.
Nadira mendes*h, tetapi dia tetap memosisikan diri, membiarkan adik kecil suaminya meringsek masuk sampai ke lubang terdalam. Malam itu pun, bukan hanya menjadi malam panas untuk pengantin baru, tetapi pengantin lama yang rasanya masih baru.
Jempol jangan ketinggalan gaes.
__ADS_1