
Mansion Anderson.
Mike berdiri di balkon kamar, dia menatap langit yang sudah mulai terlihat gelap. Sebatang rokok tersemat di sela jarinya. Dia menghisap rokok itu dengan dalam, berharap pikirannya tenang dan rasa rindu untuk istrinya bisa sedikit berkurang. Rasanya, dia sudah tidak sabar menunggu hari esok, bahkan dia sudah memesan tiket pesawat paling pagi.
Mike mengambil ponsel khusus untuk setiap misi yang dia lakukan, sedangkan ponsel biasa sengaja dia matikan karena tidak ingin menghubungi istrinya terlebih dahulu. Dia ingin sekali membuat kejutan untuk wanita itu. Baru saja berada dalam genggaman, ponsel itu terdengar berdering. Sebuah panggilan dari anak buahnya, membuat Mike mengangkat panggilan itu dengan tidak sabar.
"Hallo," sapa Mike saat panggilan sudah terhubung.
"Hallo, Bos. Misi selesai." Sahutan dari seberang membuat senyum Mike mengembang lebar.
"Kamu yakin tidak ada karyawan hotel yang curiga?" tanya Mike memastikan.
"Yakin, Bos. Semua aman terkendali. Bahkan tadi Firman bilang mereka sedang menuju ke hotel sekarang."
"Bagus. Ngomong-ngomong soal Firman, jangan sampai kalian lengah. Aku khawatir dia akan menjadi pengkhianat kita nantinya," titah Mike.
"Baik, Bos. Kita akan pastikan semua baik-baik saja."
__ADS_1
Setelah mengiyakan, Mike pun mematikan panggilan itu. Bibirnya tersenyum puas. Dia kembali menghisap rokoknya secara dalam sebelum mematikan dan membuang putung rokok itu secara sembarang. Setelah itu, dia kembali masuk ke kamar dan segera mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat lelah.
***
Sementara itu, di sebuah kamar hotel, Yosie dan Clara—sekretaris Richard sedang telanjang dan saling berbagi kenikmatan. Yosie terus saja menghentak-hentak adik kecilnya hingga membuat mulut Clara terus saja meracau. Setelah hampir setengah jam lebih, mereka pun akhirnya sama-sama tumbang setelah mencapai puncak kenikmatan. Yosie menciumi seluruh wajah Clara dengan puas.
"Kamu masih saja kuat," ucap Clara bangga. Dia mendes*h saat Yosie mencabut adik kecilnya.
"Tentu saja. Aku akan selalu membuatmu puas." Yosie membalas dengan kembali menciumi wajah Clara.
"Oh, iya, bagaimana dengan cucu Richard si tua bangka itu?" tanya Clara, saat ini mereka sedang tidur berpelukan.
"Termasuk membunuhnya?" tanya Clara lagi. Yosie mengangguk cepat.
"Untuk saat ini, aku akan membuat dia bersedia menikah dengan Fey, dan aku bisa mengambil alih hartanya, kalau dia menolak maka aku akan membunuhnya seperti yang aku lakukan pada Louis dulu, ya walaupun Louis akhirnya tidak mati di tanganku."
"Kamu ini benar-benar kejam," cebik Clara dengan manja.
__ADS_1
"Ya, tapi bukankah kamu suka? Kamu bahkan selalu berteriak kenikmatan saat kita sedang telanjang."
"Ya, tapi kalau aku hamil bagaimana? Akhir-akhir ini kita sering lupa memakai pengaman. Katamu lebih enak tanpa pengaman." Yosie terdiam sesaat mendengar ucapan Clara.
"Kalau kamu hamil maka kamu harus segera menggugurkannya. Kamu tahu, aku tidak mau punya anak lagi, bisa-bisa Fey marah besar padaku."
"Kenapa harus digugurkan? Kita membuatnya dengan cinta," bantah Clara. Dia tidak mau kalau harus menggugurkan benih cinta mereka.
"Nanti aku bicarakan dengan Fey, kalau dia bersedia punya adik maka kalau kamu hamil, kita pertahankan bayi itu."
"Kenapa begitu? Kamu selalu mengutamakan Fey, kamu tidak adil, Yos!" Clara geram. Dia berbalik, membelakangi Yosie.
"Kamu 'kan tahu kalau Fey harta berhargaku satu-satunya. Apa kamu sudah ada tanda-tanda hamil?" tanya Yosie curiga.
Clara tidak langsung menjawab, dia merasa ragu saat akan mengatakan yang sebenarnya kalau sudah telat datang bulan. "Belum. Aku hanya bertanya saja," ucap Clara berbohong.
"Kalau begitu, kita antisipasi lagi. Jangan sampai benihku tumbuh di rahimmu, kamu tenang saja, aku akan memenuhi apa pun yang kamu mau," bisik Yosie tepat di telinga Clara.
__ADS_1
"Baiklah. Tapi aku mau kamu beliin aku tas limited edition keluaran terbaru," rengek Clara.
"Oke. Apa pun untukmu, Sayang. Kita lakukan lagi." Yosie memeluk Clara dari belakang dan menggerayangi seluruh tubuh wanita itu. Akhirnya percintaan panas mereka pun terjadi lagi.