
Nadira mencebik kesal karena suaminya begitu memalukan menurutnya. Selama dalam perjalanan kembali ke mansion, wanita itu terus saja merajuk. Bahkan dia menepis tangan Nathan yang hendak menyentuhnya.
"Beb, jangan ngambek dong." Nathan berusaha merayu, tetapi Nadira justru memalingkan wajahnya tanpa menjawab.
"Beb ...."
"Diamlah! Kalau kamu masih terus saja berbicara maka aku akan menyuruhmu tidur di luar!" ancam Nadira. Nathan menelan salivanya dengan susah payah, wanita hamil memang benar-benar seperti ratu yang titahnya tidak dapat diganggu gugat.
Nathan memilih diam sebagai jalan aman. Tanpa terasa mobil yang dikemudikan Nathan akhirnya sampai di pelataran mansion. Nadira bergegas turun tanpa menunggu suaminya.
"Beb! Tunggu aku!" teriak Nathan sembari berlari mengejar istrinya yang sudah berjalan masuk.
Alvino yang baru hendak ke dapur untuk minum, merasa heran saat melihat Nadira berjalan menghentak bahkan tanpa menyapa sama sekali. Ketika Nadira sudah menaiki tangga, Alvino menahan Nathan agar berhenti.
"Apa sih, Al?" tanya Nathan lesu. Pandangannya tidak lepas dari Nadira yang sudah sampai di tangga teratas.
"Kamu apain Nadira? Kalian berantem?" tukas Alvino.
"Ini masalah hidup dan mati adik kecil aku, Al. Bisa bahaya kalau sampai Ayang Bebeb marah terus." Nathan tidak mau berbicara jujur karena dia tidak mau menjadi bahan ledekan kakak iparnya itu.
Alvino menonyor kepala Nathan sampai lelaki itu terhuyung dan hampir terjatuh kalau tidak berpegangan pada lengan Alvino. Nathan membalas dengan memukul lengan Alvino tak kalah kencang sampai lelaki itu mengaduh kesakitan.
"Kaleng Rombeng!" hardik Alvino.
"Aku juga sakit, Al. Jadi kakak ipar jangan egois, suka nyakitin aku tapi enggak mau ikutan sakit," cebik Nathan.
"Masa bodoh! Kubilang ke Nadira biar dia makin marah sama kamu!" ancam Alvino. Dia hendak berjalan meninggalkan Nathan, tetapi si manusia somplak itu segera menahan.
__ADS_1
"Jangan dong, Al. Seneng banget lihat rumah tangga adiknya kacau balau." Nathan menghentakkan kaki. Namun, Alvino justru terkekeh.
"Semakin lama kamu di sini, semakin terancam pula hidup adik kecilmu, Nat." Ucapan Alvino menyadarkan Nathan yang langsung bergegas menuju ke kamar.
Namun, baru saja Nathan sampai di anak tangga kelima, terlihat Nadira yang sedang berjalan turun kembali. Secara refleks Nathan pun menghentikan langkahnya dan tersenyum lebar.
"Kamu enggak jadi marah, Beb?" tanya Nathan cengengesan.
"Kenapa kamu enggak ngejar aku? Kamu udah enggak sayang aku?" Nadira merengek bahkan menangis. Nathan pun berjalan cepat untuk menenangkan istrinya itu, tetapi Nadira justru berjalan cepat menaiki tangga.
"Beb, hati-hati!" teriak Nathan khawatir. Nadira tidak peduli dan tetap berlari lalu menutup pintu dengan keras hingga membuat Nathan yang baru sampai di ambang pintu sampai terlonjak kaget.
"Beb, kamu keras sekali, bikin aku jantungan." Nathan mengetuk pintu tersebut berkali-kali, tetapi Nadira tidak peduli dan memilih tiduran di kasur. "Beb! Buka pintunya!" teriak Nathan.
"Buka aja sendiri!" balas Nadira berteriak.
"Kan pintunya ditutup, Beb." Nathan masih saja mengetuk pintu itu.
"Ku kira kamu kunci, Beb. Ternyata CEO bisa terlihat bodoh juga." Nathan berjalan mendekati tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya di samping Nadira.
Nadira tidak menjawab, masih tetap tiduran santai di atas kasur tanpa peduli pada suaminya. Nathan pun melingkarkan tangan di perut istrinya dan mendaratkan ciuman dengan penuh sayang.
"B, mamimu marah sama papi," ucap Nathan tepat di perut Nadira. Tangan lelaki itu mengusap perut istrinya dengan sangat lembut. "Katanya karena papi udah lama enggak jengukin kamu."
Nadira mencubit lengan Nathan saking gemasnya. Bibir wanita itu masih saja mencebik diiringi helaan napas panjang berkali-kali. Melihat istrinya yang masih saja marah, akhirnya Nathan memilih bangkit berdiri dan berjalan menjauhi tempat tidur.
"Kamu mau ke mana?" tanya Nadira tanpa lepas menatap gerak-gerik suaminya.
__ADS_1
"Aku mau mandi, Beb. Kamu mau ikut?" tanya Nathan menggoda. Dia mengerlingkan satu matanya. Nadira melengos, dengan tangan terlipat di atas perut. Karena istrinya tidak menjawab, dia berbalik dan hendak berjalan kembali ke kamar mandi.
Bibir Nathan tersenyum lebar karena dia yakin setelah ini istrinya akan berteriak meminta ikut. Bayangan mandi bersama dan saling bertukar cairan kenikmatan menari-nari dalam pikiran Nathan, membuat adik kecilnya mulai bereaksi.
Namun, saat sudah sampai di pintu kamar mandi, perlahan senyum Nathan memudar karena prediksinya salah. Nadira tidak mengejar ataupun sekedar memanggil namanya.
"Beb, kamu yakin tidak mau mandi bareng?" tanya Nathan sembari berbalik untuk memastikan.
"Tidak, aku mau sama kamu kalau sudah mandi. Aku tidak mau Baby B pingsan saat bertemu adik kecilmu karena bau ompol." Nadira menjawab dengan santai. Nathan menghela napasnya panjang.
"Aku kan sudah cebok tadi di kamar mandi, Beb. Udah ganti celana juga, jadi dijamin sudah steril, Beb." Nathan bersandar di pintu kamar mandi, membuka kaos yang dikenakan sehingga perut sixpack nya terlihat jelas. Nadira memalingkan wajah yang telah merona merah saat melihat otot kekar suaminya.
"Sudah sana mandi dulu. Kamu udah cebok tapi belum pakai sabun. Aku enggak mau." Nadira tetap bersikukuh. Akhirnya, Nathan pun menyerah dan memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lelaki itu menatap pantulan wajahnya di cermin besar yang berada di kamar mandi. Mengamati tubuhnya yang bertelanjang dada dengan sesekali mengusapnya. "Memangnya aku kurang perkasa ya? Kenapa Nadira tidak tergoda sama sekali? Padahal kalau dia telanjang dada gini, tubuhku langsung panas dingin." Nathan masih terus mengamati pantulan tubuhnya.
Tiba-tiba Nathan terkejut saat melihat bayangan sang istri yang saat ini sedang berdiri tepat di belakang dengan raut wajah yang susah dijelaskan. Nathan berbalik dan menunjukkan rentetan gigi putihnya saat melihat Nadira yang saat ini sedang berjalan mendekat.
"Kamu berubah pikiran, Beb?" tanya Nathan percaya diri.
"Ya," sahut Nadira singkat masih dengan melangkah mendekati Nathan.
"Baiklah, kalau begitu kita lakukan sekarang. Kebetulan aku lagi butuh asupan tenaga." Nathan bersorak kegirangan dan langsung menarik tubuh Nadira dan menghujami dengan banyak ciuman. Nadira pun lama-kelamaan tergoda dengan sentuhan suaminya.
"Bentar, Beb. Aku lepas celana dulu." Nathan menjeda kegiatannya dan melepas celana, tetapi dia terkejut saat Nadira tiba-tiba berteriak keras bahkan hampir memecahkan gendang telinganya.
"Kamu yang benar saja!" teriak Nadira benar-benar kesal.
__ADS_1
"Kenapa marah-marah mulu sih, Beb?" Nathan menjawab santai dengan terus melepas celananya.
"Mas! Kamu ini pria macho kenapa boxermu gambar Hello Kitty warna pink pula!" protes Nadira, tetapi Nathan hanya menunjukkan senyum tanpa dosa.