
Sudah memasuki jam makan siang, tetapi Cacha dan Mike baru saja keluar kamar. Rambut Cacha masih basah, begitu juga dengan Mike. Dengan telaten Cacha mengambilkan makanan untuk suaminya dan dirinya sendiri. Di saat hendak menyantap makanan mereka, Mila berjalan mendekat juga dengan rambut yang masih basah.
"Ku kira kamu enggak akan bangun, Cha." Mile duduk di samping putrinya disusul Johan di belakang.
"Kalau enggak bangun artinya Cacha mati dong." Cacha mencebik kesal, Mila yang sedang mengambilkan makanan untuk suaminya hanya menunjukkan rentetan gigi putihnya.
"Habis bunda gedor-gedor enggak bangun juga eh ternyata lagi asyik ajeb-ajeb," ucap Mila.
"Biarin. Bunda juga akhirnya ikut gituan juga 'kan?" Cacha memojokkan, dan Mila kembali cengengesan.
"Sudah, lebih baik sekarang kita makan saja." Johan menengahi sebelum istrinya berbicara semakin melenceng. Mereka pun mengiyakan.
Seusai makan siang, kini mereka duduk di ruang santai untuk mengobrol karena sepulang dari Singapura, Cacha dan Mike langsung beristirahat, bahkan mereka berencana akan ke Bandung dua hari lagi karena masih ingin melepas rasa rindu dengan orang tuanya.
"Mike, bagaimana kabar Tuan Richard?" tanya Johan.
"Baik, Yah." Mike menjawab sopan. Mendengar nama Richard disebut, hati Cacha kembali merasa bimbang. Dia menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Kamu kenapa lesu gitu, Cha?" tanya Mila heran.
"Aku galau." Cacha terdiam, menghela napas panjang untuk mengurangi kegelisahannya.
"Kenapa?" tanya Mila lagi. Kening wanita itu terlihat mengerut.
"Aku enggak tega ninggalin kakek dan nenek yang udah setua itu." Cacha menjawab lemah, Mike pun mendaratkan ciuman di puncak kepala istrinya.
"Mereka pasti selalu sehat. Nanti kita video call tiap hari, dan dua minggu sekali aku akan menjenguknya." Mike berkata lembut.
"Apa kamu tidak lelah sering ke luar negeri, Mike?" tanya Johan. Mike menggeleng lemah disertai senyuman simpul. "Lalu perusahaan Anderson?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Saat ini masih dikelola kakek, aku ke sana dua minggu sekali atau saat ada urusan penting, Yah."
"Cha, kamu tidak ingin tinggal di Singapura menemani Nyonya Elie? Mereka pasti sangat menginginkan tinggal bersama cucu semata wayangnya karena hanya Mike yang mereka punya saat ini." Mila bertanya dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan putrinya.
Cacha terdiam, tetapi dari sorot mata wanita itu terlihat jelas sebuah kebimbangan. Mike yang melihat itu hanya mencium kening Cacha sembari merangkul pundaknya. Bibir Mike tersenyum saat Cacha menatapnya dengan lekat.
"Cha, seorang wanita yang sudah bersuami hendaknya menuruti suaminya. Ayah bukannya mengusirmu, tapi ayah juga tidak akan memaksamu. Saran ayah, lebih baik kamu tinggal di Singapura, kasihan Tuan Richard dan istrinya, kasihan Mike juga." Johan memberi nasehat.
"Tidak apa, Yah. Aku tidak mau memaksa Eneng, nanti lama-lama juga aku akan terbiasa, Yah." Mike menimpali dengan pelan. Mila dan Johan tersenyum bahagia saat melihat betapa Mike sangat mencintai putrinya. Terlihat jelas dari segi perlakuan ataupun perkataan Mike kepada Cacha.
"Aku mau tinggal di Singapura saja, Mas." Cacha berkata dengan lembut. Mike terdiam sesaat, lalu menangkup kedua pipi istrinya.
"Neng, kalau kamu belum siap, tidak apa. Jangan dipaksa." Mike berusaha meyakinkan. Dia tidak ingin Cacha merasa tidak nyaman nantinya jika tinggal di luar negeri yang jelas semakin jauh dengan keluarganya.
"Aku yakin, Mike. Aku mau nemenin kakek dan nenek. Kasihan mereka." Kedua mata Cacha terlihat basah saat teringat Richard dan Elie.
"Jangan menangis." Mike mengusap air mata yang hendak membasahi wajah Cacha. "Kalau kamu sudah benar-benar yakin, kita akan ke sana minggu depan. Kita lepaskan rindu di sini dulu." Cacha mengangguk sebagai tanggapan.
"Jangan pikirkan itu. Nanti ayah akan menyuruh seseorang untuk mengelola dan ayah tinggal mengawasi," ucap Johan meyakinkan.
Kening Cacha terlihat mengerut dalam. "Siapa?"
"Ya, pokoknya ada." Wajah Johan terlihat begitu serius, dan Cacha pun hanya bisa terdiam.
"Kamu tidak ke rumah Al, Cha? Nathan dan yang lain sedang berkumpul di sana," ucap Mila. Wajah Cacha mendadak berbinar bahagia.
"Aku lupa belum mengabari mereka. Ayo, Mas, kita ke sana aja. Rasanya aku kangen banget sama mereka." Cacha menggoyangkan lengan Mike seperti anak kecil sedang meminta sesuatu pada ayahnya. Mike mengusap puncak kepala Cacha karena merasa gemas.
"Baiklah." Mike bangkit berdiri disusul Cacha, mereka pun berpamitan pergi ke rumah Alvino.
__ADS_1
***
Mobil yang dikendarai Mike berhenti di pelataran luas milik Alvino, dengan langkah terburu Cacha segera turun dan masuk rumah megah tersebut. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu sahabat yang kini sudah menjadi saudara. Mike pun berjalan cepat mengejar istrinya karena khawatir wanita itu akan terjatuh.
"Aku datang!" seru Cacha mengangetkan semua orang yang masih berada di ruang santai.
"Cacha Maricha Hehey!" pekik Nadira bahagia. Dia berlari mendekati Cacha dan saling memeluk dengan erat.
"Aku kangen kamu, Cha." Nadira semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku juga kangen banget sama kamu, Nad." Cacha pun melakukan hal sama sebelum akhirnya dia melepas pelukan itu lalu mengusap perut Nadira dengan lembut. "Hai, keponakan Onty, apa kabar?" tanya Cacha lembut.
"Kabar baik, Onty. Minta uang dong, kan sekarang udah jadi orang kaya." Nadira menjawab dengan menirukan suara anak kecil. Cacha tergelak lalu menonyor kepala Nadira dengan kencang.
"Sakit, Cha." Nadira merengek padahal dia hanya bercanda.
"Heh! Anak kambing! Jangan kurang aja sama kakak iparmu!" seru Nathan yang saat ini masih duduk di sofa. Dia merasa kesal karena Cacha berani menonyor kepala Nadira, meskipun dulu dia sering melihat mereka seperti itu.
"Kalau aku anak kambing, kakak juga sama dong. Kan kita keluar dari lubang yang sama." Cacha menjawab santai. Dia berjalan mendekati Nathan dan memeluknya erat. "Aku kangen sama Kakak."
Nathan membalas pelukan adiknya dan mendaratkan ciuman di puncak kepalanya. "Kakak juga kangen banget sama kamu, Cha."
Mike yang sedari tadi diam, tak lupa menyalami mereka satu persatu sebelum akhirnya duduk di samping Cacha yang masih memeluk kakaknya. Nadira pun menyusul dan duduk di sebelah suaminya.
"Wah, Tuan Muda Anderson," ucap Alvino yang membuat Mike tersenyum lebar.
"Saya sudah tidak pantas dipanggil tuan muda," timpal Mike.
"Aih, semua bukan perkara umur, Mike, tapi memang status kamu sebagai tuan muda," ujar Alvino. Mike hanya tersenyum simpul karena jujur dirinya belum terbiasa dengan status barunya.
__ADS_1
"An, perutmu udah kelihatan banget," sorak Cacha sembari melepaskan pelukan dari Nathan.
"Iyalah, Cha. Ini hasil entupan lebah yang memiliki madu asin. Jadi, gini deh." Cacha melongo mendengar jawaban Ana yang belum bisa dicerna otaknya dengan baik. Sementara Kenan mencubit pipi istrinya saking gemasnya.