
Nadira membuka kedua matanya yang terasa sangat berat. Tangannya meraba nakas di sampingnya untuk mencari ponsel. Setelah memegang benda pipih itu, dia segera menghidupkan kunci layar ponsel dan membuka applikasi kamera. Pantulan wajahnya terlihat memenuhi hampir seluruh layar ponsel itu.
"Kenapa mataku bengkak? Kayaknya aku enggak nangis deh," gumamnya, menatap kedua mata yang sangat sembab.
Nadira menoleh saat mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Nathan keluar dari balik pintu hanya menggunakan handuk yang membelit dari pinggang sampai lutut. Wajah Nadira merona saat melihat tubuh atas suaminya yang kekar, masih sedikit basah yang justru menampilkan kesan sexy.
"Kamu sudah bangun?" tanya Nathan. Berjalan mendekati tempat tidur, lalu mendaratkan ciuman di puncak kepala istrinya.
"Maaf, aku telat bangun, Kak." Nadira segera beranjak bangun, tapi Nathan menahannya.
"Kalau masih ngantuk, tidur aja." Nathan tersenyum simpul yang membuat Nadira begitu terpikat. Apalagi, hidung Nadira mencium aroma sabun yang menguar, membuatnya semakin tergoda.
"Kak Nathan mau kerja?" tanya Nadira berusaha mengusir pikirannya yang mulai tercemar.
"Ya, tentu saja." Nathan mengambil paper bag yang tergeletak di atas nakas. Nadira hanya mengamati suaminya dengan bingung.
"Itu apa?" tanya Nadira heran.
"Baju kantorku. Aku lupa kalau di sini belum ada baju kantorku," sahut Nathan santai. Dia mengambil kemeja dari dalam paperbag itu, lalu memakainya.
"Siapa yang mengantarnya?" tanya Nadira lagi.
"Jasmin. Dia sudah menunggu di bawah karena kita ada rapat penting hari ini." Wajah Nadira langsung terlihat masam setelah mendengar nama Jasmin. Ya, meskipun dia tahu kalau Jasmin adalah kekasih adiknya, tapi bayangan kejadian menyakitkan kembali datang mengganggu pikirannya. Nadira menarik selimut sampai menutupi lehernya, lalu tidur membelakangi suaminya.
"Kamu cemburu?" tanya Nathan, bibir lelaki itu tersenyum senang.
"Tidak!" jawab Nadira ketus.
"Kamu marah?"
__ADS_1
"Tidak!"
"Kamu sebel kalau aku dekat dengan Jasmin?"
"Tidak!"
"Kamu ikhlas kalau aku menikah lagi?"
"Tidak!" Suara Nadira semakin terdengar ketus.
"Kamu sedih kalau aku punya istri lebih dari satu?"
"Tidak! Eh!" Nadira langsung terdiam begitu saja karena dia baru sadar kalau sudah salah menjawab.
"Baiklah, kalau begitu aku akan punya tujuh istri!" ucap Nathan diiringi gelak tawa.
"Apa, Sayang?" Nathan bicara dengan begitu tenang.
"Emang Kak Nathan mampu melayani tujuh istri sekaligus?" tanya Nadira yang justru membuat gelakan Nathan semakin terdengar mengeras.
"Tidak sekaligus, Sayang. Bergantian tiap hari dan karena kamu istri yang paling kucintai, maka kamu aku kasih spesial hari Kamis malam Jum'at. Sunah 'kan? Katanya satu ronde di malam Jum'at bisa membunuh delapan puluh setan, nanti kita lakukan sepuluh kali biar banyak setan yang mati," seloroh Nathan.
"Heh mana ada! Yang ada aku yang mati karena kelelahan," cebik Nadira. Melihat Nathan yang sudah selesai memakai kemeja, Nadira lalu beranjak bangun dan membantu memakaikan dasi di kerah kemeja suaminya.
Senyum Nathan semakin terlihat melebar, menatap istrinya yang terlihat begitu serius. "Apa Kak Nathan yakin akan menikah lagi?" tanya Nadira menuntut jawaban.
"Tidak akan. Hanya kamu satu-satunya istriku, tidak ada yang lain lagi. Aku mencintaimu, El." Nathan mencium kening Nadira dengan penuh cinta, tapi Nadira justru terdiam mendengar panggilan Nathan untuknya.
"Kenapa Kak Nathan memanggilku El?" tanya Nadira bingung.
__ADS_1
"Memang Kenapa? Bukankah namamu Elvina?" tanya balik Nathan.
Nadira mengangguk lemah. "Ya, tapi biasanya Kak Nathan tidak memanggilku seperti itu." Senyum di bibir Nadira memudar. Sekelebat bayangan tentang Rendra tiba-tiba terlintas dalam benaknya.
"Jangan memikirkan lelaki lain, Sayang!" Nadira tergagap mendengar suara Nathan yang sedikit membentak.
"Aku hanya sedih, Kak. Aku bakalan jauh dari Kak Nathan." Wajah Nadira terlihat sendu.
"Kenapa begitu?" Kening Nathan terlihat mengerut.
"Kak Nathan mengelola Saputra Group di sini, sedangkan aku masih kerja di Bandung sebagai sekretaris Mas Rendra. Tentu saja kita akan hidup terpisah jauh," sahut Nadira lesu.
"Jadi kamu takut jauh dariku?" Nathan terkekeh melihat wajah istrinya yang begitu menggemaskan. Nadira mengangguk lemah. "Kamu tidak perlu lagi bekerja dan hanya cukup di rumah menungguku pulang kerja. Karena aku sudah mengatakan pada Rendra kalau kamu mengundurkan diri." Mata Nadira membola mendengar jawaban suaminya.
"Jadi sekarang aku pengangguran?" tanya Nadira kesal.
"Ya, tenang saja. Walau kamu pengangguran aku akan mencukupi apa pun kebutuhanmu." Nathan mengusap rambut Nadira dengan perlahan.
"Aku enggak bisa, Kak. Aku terlalu bosan kalau harus di rumah terus." Apalagi kalau ingat kamu selalu dekat dengan Jasmin. Nadira hanya berani mengatakan di dalam batin.
"Kapan pun kamu mau ikut ke kantor, aku dengan senang hati mengizinkannya, Sayang." Nathan menyuruh Nadira duduk di tempat tidur dan dia pun duduk di sampingnya.
"Percayalah, Nad. Aku hanya mencintaimu seorang walau banyak wanita di sampingku." Nathan menatap Nadira penuh cinta, menghilangkan rasa curiga dan cemburu yang menyergapi hati Nadira. Kedua mata Nadira sontak terpejam saat Nathan mendekatkan wajahnya hendak mencium bibirnya.
"Nat! Udah siang! Buruan!" Pintu kamar terdengar digedor. Nathan berdecak kesal saat mendengar suara Alvino yang berteriak. Nathan tidak peduli, dan tetap mencium bibir istrinya dengan lembut.
"Kak! Sudah!" Nadira menepuk bahu Nathan untuk menghentikan gerakan Nathan yang mulai menjelajah lehernya.
"Baiklah. Empat hari lagi, aku akan mengajakmu ke Bali untuk berbulan madu. Jadi, persiapkan dirimu, Sayang. Aku mencintaimu." Nathan mencium puncak kepala istrinya sebelum bangkit, lalu berjalan mendekati pintu untuk membukanya.
__ADS_1