Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
203


__ADS_3

Cacha memarkirkan secara asal mobilnya di depan pelataran. Kemudian, dia masuk ke rumah dengan langkah lebar. Tujuannya saat ini adalah kamar, tetapi baru saja sampai di ruang tamu, Johan dan Mila sudah menyambut dengan khawatir.


"Kamu dari mana, Cha?" tanya Mila, mendekati putrinya.


"Jalan-jalan, Bun. Kalian sudah pulang dari kantor?" tanya Cacha balik.


"Sudah. Pengawal bilang kamu habis kabur, ke mana?" Johan bertanya dengan suara tegas.


"Ish! Cacha cuma jalan-jalan, Yah. Nyari angin biar otak seger." Cacha menjawab manja.


"Kamu yakin?" tanya Johan memastikan. Cacha mengangguk dengan cepat. "Ya sudah sana, istirahatlah."


"Cacha masih mau di sini." Dia menghempaskan tubuhnya di sofa, dan melingkarkan tangan di perut Mila dengan kepala bersandar di dada wanita tersebut.


"Ada hal yang menganggu pikiranmu?" tanya Mila lembut. Kalau putrinya bersikap seperti ini, biasanya ada sesuatu hal yang membuat Cacha begitu gelisah.


"Bun, semalam aku lagi teleponan sama Mike, tapi tiba-tiba ada suara wanita yang lembut banget. Setelah itu, Mike mematikan panggilan bahkan nomornya sekarang tidak aktif sama sekali," papar Cacha. Suaranya terdengar sedang menahan tangis.

__ADS_1


"Suara wanita?" tanya Mila. Cacha mengangguk dengan cepat.


"Mungkin itu suara Nona Fey," timpal Johan. Cacha beranjak bangkit dan menatap ayahnya lekat.


"Fey? Siapa, Yah?" tanya Cacha tidak sabar.


"Nona Fey itu putri tunggal Tuan Yosie, pamannya Louis Anderson."


"Apakah Tuan Yosie yang mau merebut harta Anderson?" sela Cacha. Johan mengangguk mengiyakan.


"Ayah yakin kalau Tuan Yosie sengaja menjadikan putrinya menjadi umpan. Mungkin dengan cara mendekati Mike, tapi kamu harus percaya kalau Mike tidak akan pernah tergoda," tegas Johan. Mendengar ucapan sang ayah, Cacha kembali duduk bersandar.


"Kamu mencintai Mike?" tanya Johan. Cacha tidak menjawab, dan hanya mengangguk lemah. "Kalau begitu kamu harus membantu Mike."


"Membantu apa, Yah?" Kening Cacha terlihat mengerut sampai alisnya saling bertautan.


"Cha, ayah sudah cerita kan kalau Tuan Yosie berkali-kali mencelakai Louis karena dia keturunan Anderson. Sekarang, Mike yang menjadi pewaris tunggal segala harta kekayaan Anderson, jadi besar kemungkinan nyawa Mike akan dalam bahaya."

__ADS_1


Raut wajah Cacha mendadak khawatir setelah mendengar ucapan Johan. Kenapa dirinya tidak berpikir sejauh itu. Dia yakin kalau Yosie punya banyak cara untuk mencelakai Mike.


"Kamu sudah berlatih bela diri dan bahkan ahli menembak. Ayah yakin kalau kamu bisa membantu suamimu melindungi apa yang akan menjadi haknya. Percayalah pada Mike kalau dia tidak akan pernah berpaling darimu."


"Tapi aku masih takut kalau Mike akan benar-benar tergoda dengan Nona Fey, Yah."


"Kalau begitu tunjukkan siapa sebenarnya dirimu. Buktikan kalau kamu ini mampu dan layak menjadi pendamping Mike. Walau predikat Mike hanyalah anak buah, tapi dia handal dalam segala hal." Johan berusaha menyemangati putri bungsunya.


"Cha, kamu harus ingat kalau Mike sekarang bukan lagi seorang anak buah, tetapi dia adalah pemimpin. Bahkan kekayaan Anderson dan Alexander hampir seimbang."


Cacha terdiam, otaknya berpikir keras. Benar yang diucapkan ayahnya, kalau dia harus bisa menunjukkan pada dunia bahwa dia pantas bersanding dengan seorang Mike Anderson.


"Baik, Yah. Akan aku buktikan seorang istri Mike Anderson dan keturunan Johan Saputra itu bukan wanita lemah," tegas Cacha. Kedua tangannya terkepal erat dan saling memukul. Dia merasa begitu gemas ingin menghancurkan siapa pun yang berniat mengusik rumah tangganya.


"Bagus sekali, ayah bangga padamu." Johan berbicara dengan senyum mengembang.


"Jangan lupa selalu jaga dirimu, Cha." Mila memeluk putrinya erat. Dia merasa begitu gelisah, ada rasa khawatir yang teramat besar yang sedang dia rasakan saat ini. Namun, Mila hanya diam dan berdoa untuk keselataman putrinya.

__ADS_1


Semoga tidak ada hal buruk yang akan menimpamu, Cha.


__ADS_2