
Setelah kematian Yosie, hidup keluarga Anderson sudah tenang. Fey telah menjadi manusia yang lebih baik, dan ditemani Alan dengan setia. Sementara Mike dan Cacha masih merasa begitu bimbang. Richard menyuruh mereka tetap tinggal di Singapura untuk menemani masa tuanya, tetapi Cacha belum mau meninggalkan Indonesia.
Cacha dan Mike sudah bersiap pulang ke Indonesia setelah dua minggu lebih mereka berada di sana. Richard dan Elie merasa sangat berat saat melepas kepergian Mike dan Cacha , tetapi mereka tidak berani melarang. Mike pun sama, dia merasa tidak tega saat harus meninggalkan kakek-neneknya, tetapi dia tidak mau memaksa Cacha untuk tinggal di Singapura.
Dengan lembut, Mike mengusap wajah Cacha yang saat ini sedang bersandar di bahunya. Wanita itu terlihat begitu bimbang. "Mike ...."
"Kenapa?" tanya Mike saat Cacha justru terdiam.
"Aku pengen nemenin kakek sama nenek, tapi aku belum siap ninggalin Indonesia," ucap Cacha lirih. Mike mendaratkan ciuman di puncak kepala Cacha.
"Jangan memaksa dirimu. Kalau kamu masih ingin tinggal di Indonesia, aku tidak akan memaksa kamu untuk tinggal di Singapura. Kenyamananmu lebih utama, Neng." Mike menggenggam tangan Cacha dengan erat.
"Tapi aku enggak tega ninggalin kakek sama nenek," timpal Cacha sembari mengembuskan napas kasar.
"Jangan terlalu dipikirkan, lebih baik sekarang kamu tidur saja. Kamu butuh banyak istirahat supaya tubuhmu benar-benar sehat," ucap Mike lembut. Cacha semakin merapatkan tubuhnya untuk memeluk lelaki itu, sedangkan Mike merangkul Cacha dan mengusap kepala wanita dengan lembut sampai membuatnya terlelap.
***
Mansion Alexander
"Kak Nathan!" Suara pekikan menggelegar dari arah tangga. Wanita berperut sedikit buncit turun dengan langkah terburu.
"Hati-hati, Beb!" teriak Nathan, berlari menyusul sang istri.
"Kak Nathan nyebelin banget sih!" Nadira berkacak pinggang, tetapi Nathan tetap terlihat tenang. Beberapa ciuman mendarat di pipi wanita itu untuk meredam emosinya.
"Beb, jangan marah-marah dong. Kasihan baby B di dalam pasti nangis." Nathan berdiri setengah jongkok, lalu mencium perut Nadira yang sudah terlihat sedikit membuncit. "Sehat-sehat, Sayang."
__ADS_1
Nadira tersenyum saat Nathan mencium perutnya dengan penuh sayang. Bahkan tangannya tanpa sadar mengusap rambut suaminya yang masih dalam posisi setengah jongkok.
"Nanti kita main ke rumah Jin dan Jun. Rasanya aku tidak sabar ingin segera memeluk si gembul." Nathan mencium perut Nadira sekali lagi sebelum kembali bangkit berdiri. Kemudian, dia beralih mencium kening Nadira.
Nadira tidak menyahut, hanya berjalan kasar dan menghempaskan tubuhnya di sofa. Tangannya terlipat di depan dada dengan bibir mengerucut. Nathan pun menyusul duduk di samping Nadira, berusaha merayu istrinya yang sedang merajuk. Hanya karena hal sepele ibu hamil itu marah-marah seperti sekarang.
"Pokoknya kamu harus cariin rambutan buat aku lagi! Aku maunya metik langsung di pohon!" seru Nadira. Dia memalingkan wajah untuk menunjukkan kalau dia sedang marah saat ini.
"Beb, mana ada sih!" Nathan memelas. Dia sudah capek harus bolak-balik mencari apa yang diinginkan istrinya.
"Ada! Pokoknya kamu harus nyari sampai dapat!" Nadira masih saja merajuk.
"Beb, aku beliin di pasar ya. Kan kamu cuma mau megang rambutnya yang agak keriting doang." Nathan mendengkus kasar, tetapi saat melihat sorot mata istrinya yang begitu tajam, lelaki itu segera menunjukkan rentetan gigi putihnya dengan dua jari tanda damai.
"Enggak mau! Pokoknya aku mau yang masih di pohon dan kamu sendiri yang metik!" Nadira bersikukuh. Persis seperti anak kecil yang merajuk.
"Pokoknya harus bisa!" Ibu hamil itu benar-benar tidak terkalahkan.
"Aku cuma bisa manjat kamu doang. Ayo ke kamar," ajak Nathan, tetapi Nadira semakin terlihat kesal. Dia bangkit berdiri dengan raut wajah datar yang membuat Nathan susah payah menelan salivanya.
"Ya udah kalau enggak mau. Aku cari sendiri aja nanti aku kencanin tuh pemilik pohon rambutan." Nadira berjalan menghentak menuju ke pintu keluar, Nathan pun kalang kabut mengejar istrinya.
"Beb, tunggu aku! Baiklah, aku cariin rambutan sekalian kita ke rumah Al, ya." Nathan berdiri di depan Nadira untuk menghalangi jalan.
"Beneran?" tanya Nadira memastikan.
Nathan mengangguk dengan cepat. "Bener, Beb. Aku enggak rela kalau kamu kencan sama pemilik pohon. Iya kalau gagah ganteng, lah kalau tua, kumis tebal, perut buncit, kulit hitam legam." Nathan bergidik ngeri sendiri saat membayangkan apa yang dia bicarakan. Sesaat kemudian, dia mengusap perut Nadira dengan cepat. "Amit-amit jabang bayi."
__ADS_1
***
Nathan melajukan mobilnya dengan perlahan. Dia mengamati seluruh pinggir jalan untuk mencari pohon rambutan yang sedang berbuah. Hampir setengah jam mencari, tetapi tidak ada satu pun pohon tersebut yang terlihat. Nathan mendengkus kasar dan hampir saja putus asa.
"Beb, kita beli aja ya, enggak ada pohon rambutan." Nathan berusaha merayu, tetapi Nadira menggeleng dengan cepat.
"Aku pengen lihat kamu manjat, Mas." Nadira berbicara dengan lembut.
"Baiklah, kita cari lagi." Nathan melajukan mobilnya sedikit lebih cepat. Kembali menyusuri jalan. Nathan mengerem mobilnya secara mendadak saat melihat rumah tidak terlalu mewah dan ada pohon rambutan yang sedang berbuah. Nathan tersenyum lebar dan bersyukur ternyata Dewi Fortuna sedang berpihak padanya.
Nadira pun ikut tersenyum setelah menemukan apa yang dicarinya. Mobil mewah milik Nathan masuk ke halaman rumah itu dan terparkir tidak jauh dari pohon tersebut. Pintu rumah itu terbuka bersamaan dengan Nathan yang keluar dari mobil, Nadira pun mengikuti suaminya.
Perasaan Nathan mendadak tidak enak saat melihat seorang wanita dewasa dengan baju ketat sampai menampilkan lekukan tubuhnya yang sudah tidak sexy lagi dan juga make up tebal yang membuat wajahnya begitu putih, tetapi bagian leher ke bawah berwarna sawo matang.
"Beb, jangan lupa amit-amit," bisik Nathan tepat di telinga Nadira. Dia tidak mau anaknya kelak seperti itu. Nadira hanya mengangguk dan menahan tawa saat melihat penampilan wanita itu yang saat ini sedang berjalan melenggok mendekati mereka.
"Wah, cakep sekali seperti artis," sorak wanita itu kegirangan. Dia berjalan semakin mendekati Nathan yang memundurkan tubuhnya.
"Maaf, Mbak. Saya mengganggu waktunya," ucap Nadira lembut. Wanita itu menoleh ke arah Nadira dengan begitu malas.
"Ada perlu apa?" tanya wanita itu dengan ketus.
"Em, Mbak, bolehkah saya membeli rambutan ini? Istri saya sedang ngidam." Nathan berusaha mengumpulkan segala keberaniannya.
"Boleh, tapi ada syaratnya," kata wanita itu dengan bibir tersenyum sinis. Perasaan Nathan semakin merasa tidak enak.
"Apa syaratnya, Mbak?" tanya Nathan curiga.
__ADS_1
"Gampang kok. Aku cuma mau kita foto bersama. Kapan coba kamu bisa foto sama wanita cantik seperti aku. Udah cantik, sexy lagi." Wanita itu menjawab dengan penuh percaya diri.