Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
102


__ADS_3

Jam kantor sudah masuk setengah jam lalu, tapi lelaki tampan dengan sejuta pesona masih sibuk di rumah bahkan dirinya baru saja selesai mandi. Namun, Bukan mandi junub seperti pengantin baru pada umumnya.


"Kamu ini pemimpin perusahaan, tapi jam segini baru aja selesai mandi, Yang." Nadira memakaikan dasi di kerah meja Nathan dengan raut wajah kesal. "Harusnya tuh kamu disiplin, kamu tuh panutan."


Nathan mencium pipi Nadira berkali-kali setelah wanita itu selesai memakaikan dasi. "Iya, istriku yang paling kusayangi."


"Kamu tidak sarapan dulu, Yang?" tanya Nadira.


"Nanti aja sarapan tempat bunda sekalian nganter kamu. Kamu manggil aku Yang itu maksudnya sayang 'kan? Bukan pala lu peyang," celetuk Nathan.


"Tentu saja." Wajah Nathan terlihat semringah. "Artinya Kuyang," imbuhnya, memudarkan senyum lelaki tampan tersebut begitu saja. Sementara Nadira tergelak keras. Rasanya dia begitu puas bisa membuat suaminya kesal.


"Kalau saja kamu lagi enggak tanggal merah, udah pasti aku telanjangi kamu saat ini juga, Beb." Nathan menyeringai tipis.


"Sudah ayo berangkat. Nona Jasmin kesayanganmu pasti sudah menunggu." Nadira berjalan dengan santai melewati suaminya begitu saja.


"Kenapa kamu bicara seperti itu, Beb? Kamu masih saja cemburu dengan Jasmin? Padahal dia bakal jadi adik ipar kamu loh," kata Nathan, berjalan mengekor di belakang Nadira.


"Buat apa aku cemburu kalau aku tahu cintamu hanya untukku. Kalau kamu mau selingkuh mah boleh aja, aku juga bakal selingkuh." Nadira bicara dengan tenang, tapi sepersekian detik kemudian, dia berteriak saat tubuhnya terasa ringan karena Nathan membopongnya ala bridal style.


"Kalau kamu selingkuh maka aku akan mengurungmu di kamar dan menggenjotmu sampai kamu lemas."


"Astaga, kamu ini jahat banget." Nadira mengalungkan tangannya di leher Nathan.

__ADS_1


"Itu hukuman paling nikmat, Beb. Kamu akan merasakan terbang ke Nirwana berkali-kali," timpal Nathan.


"Ya, dan aku bisa saja mati karena lemas setelahnya," sahut Nadira malas.


"Jangan bicara mati! Aku paling benci!" Nathan mencium lembut bibir Nadira, sambil melangkah keluar mansion. Dia tidak peduli meski ada beberapa pelayan yang melihat mereka.


"Awas nanti kita kebentur pintu." Nadira melepas ciumannya itu lalu memukul dada bidang suaminya. Nathan hanya menaik turunkan alisnya.


Dia pun mendudukkan Nadira di kursi penumpang, tak lupa memakai sabuk pengaman. Setelah itu, Nathan mausk melalui pintu sebelah, duduk di kursi kemudi dan melajukan mobil itu menuju kediaman Saputra.


***


Seusai sarapan bersama keluarganya, Nathan segera berpamitan ke kantor karena sebentar lagi dia ada rapat. Tak lupa sebuah kecupan mendarat di kening Nadira sebelum lelaki tampan itu melajukan mobilnya meninggalkan Kediaman Saputra.


"Nad, kamu jadi honeymoon ke Bali?" tanya Mila saat mereka sudah duduk berdua di ruang keluarga.


"Jadi, Bun." Mila mengerutkan keningjya saat melihat raut wajah Nadira terlihat sendu.


"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Nad?" tanya Mila. Nadira menatap ibu mertua sekilas lalu menghela napas panjang.


"Jujur, Nadira takut buat malam pertama, Bun. Katanya rasanya sangat sakit bahkan sampai kita enggak bisa jalan. Apa Bunda dulu juga seperti itu waktu ayah mengambil keperawanan Bunda?"


Kali ini bukan Nadira yang muram, tapi Mila yang terlihat begitu sedih. Bahkan tidak ada sedikit pun senyum di wajah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Bayangan masa lalu yang menyakitkan kembali terputar dalam benaknya meski kejadian itu telah terjadi bertahun-tahun lalu bahkan sebelum dirinya menikah dengan Johan.

__ADS_1


"Bun?" panggil Nadira, memukul lengan Mila yang tampak melamun. Mila terlonjak kaget dan dia pun berusaha terlihat biasa saja di depan Nadira. "Apa ada sesuatu yang salah?"


"Tidak," sahut Mila singkat.


"Kenapa wajah Bunda tampak begitu sedih?" tanya Nadira lagi dengan penasaran karena jarang sekali dirinya melihat ibu mertuanya sesedih itu.


"Waktu selaput dara Bunda robek memang rasanya sangat sakit, bahkan sangat sakit sekali." Suara Mila terdengar berat dengan raut wajah yang terlihat sangat sedih. Nadira bisa melihat kedua mata Mila terlihat berkaca-kaca.


"Apa Uncle Jo melakukannya dengan kasar?" Mila menanggapi dengan gelengan lemah, raut kesedihan semakin jelas terlihat dari raut wajah wanita itu.


"Bukan Mas Johan yang mengambil keperawanan Bunda, tapi mantan kekasih Bunda. Namanya Om Dimas." Mila tersenyum getir melihat wajah Nadira yang penuh raut terkejut. "Bukan diambil, Nad ... tapi direnggut secara paksa!" Bersamaan dengan itu, airmata Mila mengalir membasahi wajahnya. Luka itu masih terasa sakit meski sudah berpuluh-puluh tahun terjadi, dan meninggalkan bekas yang tidak mungkin dia lupakan sampai kapan pun.


Nadira segera memeluk Mila dengan sangat erat. "Maafkan Nadira, Bun."


Mila menghapus airmata yang masih saja mengalir. "Tidak apa, bukan salah kamu. Hanya sekarang, Bunda merasa sudah sangat bahagia karena ayah mertuamu saat itu menerima Bunda dan mencintai Bunda dengan sangat tulus."


"Nadira bisa tahu kalau Uncle Jo sangat sayang sama Bunda." Nadira semakin mengeratkan pelukannya.


"Jangan lagi manggil uncle, tapi panggilah ayah karena sekarang dia sudah menjadi ayahmu," suruh Mila.


"Nadira akan coba, Bun." Mila mencium kening Nadira dengan penuh kasih sayang.


Aku tidak menyangka kalau putrimu benar-benar menjadi anak menantuku. Bahagialah di Surga, Lun. Aku janji akan menjaga dan menyayangi putrimu dengan baik, seperti aku menyayangi Cacha, putri kandungku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2