
Ciee ada yang kangen penganten baru yaa
Othor juga mau dong dikangenin π π
Kita kembali ke Kaleng Rombeng dulu ya gaes, kisah Cacha Othor skip sementara waktu.
Happy Reading. Jangan lupa tinggalkan like, komen di setiap bab nya.
πππ
Mansion Alexander.
Sebuah kamar luas bernuansa biru tosca, terdapat sepasang pengantin yang masih terbilang baru, sedang tidur bersama dalam satu selimut. Namun, wajah wanita muda itu tampak kesal, bahkan sedari tadi dirinya tidur memunggungi suaminya.
"Ayolah, Nad. Aku minta maaf ya." Nathan berusaha memeluk Nadira yang sedang ngambek.
"Tidurlah, Kak! Gara-gara Kak Nathan aku jadi tidak punya muka lagi!" dengus Nadira. Raut wajahnya sedari acara bakar-bakar tadi, terlihat cemberut bahkan sampai sekarang, padahal hampir tengah malam. Ketika acara bakaran berlangsung, Nadira menjadi bulan-bulanan mereka karena stempel kepemilikan yang Nathan ciptakan.
"Coba aku lihat wajah cantik istriku yang tidak ada tandingannya." Nathan mencoba merayu dengan mendekatkan wajahnya, tapi Nadira langsung membenamkan wajahnya di bantal karena tak mau Nathan melihat senyumnya. "Jangan malu-malu gitu. Kalau saja kamu tidak kedatangan si bulan, udah pasti aku bakal menerkammu. Woaarmmm!"
Nathan menirukan suara harimau. Nadira pun tak kuasa menahan gelakan tawanya. Tubuhnya terlihat bergerak karena tawa, meski wajahnya masih saja terbenam di bantal.
__ADS_1
"Menjauhlah, Kak! Aku sebel! Sebel! Sebel!" Nadira mendorong tubuh Nathan agar menjauh sembari berusaha menetralkan suaranya dari tawa.
"Nad." Bukannya menjauh, Nathan justru menindih tubuh Nadira.
"Turunlah, Kak! Kamu berat!" Nadira berusaha menyingkirkan tubuh Nathan, tapi percuma. Dia kalah tenaga dengan suaminya.
"Apa kamu benar-benar mencintaiku?" bisik Nathan tepat di telinga Nadira hingga membuat seluruh tubuhnya meremang. Nadira tidak menjawab, dia terlalu malu untuk mengatakan 'iya'.
"Kamu tidak mau menjawab?" Nathan beralih mendaratkan ciuman di tengkuk istrinya. Nadira pun menggigit bibir bawahnya untuk menahan desah*nnya. "Baiklah. Sepertinya aku punya cara biar kamu mau bilang cinta." Nathan tersenyum licik, sedangkan Nadira langsung mendongak. Dia merasakan perasaannya tidak enak.
Nathan kembali mencium tengkuk Nadira, tapi kali ini dengan sangat lembut. Tangannya mendesak ke masuk, mencari dua benda kenyal dan merem*snya.
"Katakan dengan jujur, kamu mencintaiku atau tidak, Sayang?" tanya Nathan, napasnya terdengar memburu. Dia pun mulai dirasuki gairah yang begitu menggelora. Bibirnya terus saja menjelajahi leher jenjang istrinya dan kembali menciptakan stempel kepemilikan di sana.
"Ya, aku mencintaimu, Kak. Bahkan sangat mencintaimu." Nadira kembali mendesah. Dia benar-benar tak kuasa setelah menerima sentuhan-sentuhan lembut dari tangan dan bibir suaminya.
"Aku juga mencintaimu." Nathan mengecup pipi Nadira, lalu beranjak bangun dan turun dari tempat tidur.
"Kak Nathan mau ke mana?" tanya Nadira. Wajahnya terlihat kecewa karena Nathan tak lagi menyentuhnya. Dia berbalik dan melihat suaminya yang hendak melangkah.
"Kamar mandi. Aku mau main sama Tante Citra." Kening Nadira mengerut setelah mendengar jawaban suaminya.
__ADS_1
"Tante Citra?" tanyanya tak paham.
"Ya. Sabun maksudku, Sayang. Atau kamu mau membantuku menidurkan si Othong lagi?" Nathan menaik turunkan alisnya. Pandangan Nadira teralihkan ke celana Nathan yang sudah menunjukkan benjolan besar di sana. Kemudian, dia menghembuskan napas kasar.
"Main sendiri dulu, Kak. Aku udah lelah banget," tolak Nadira. Menarik selimut sampai sebatas dada.
"Baiklah. Aku bersolo karir dulu." Nathan melangkah menuju ke kamar mandi. Setelah pintu kamar mandi tertutup, Nadira hanya bisa menghela napas panjangnya.
Dalam hati Nadira sedikit bersyukur karena kedatangan tamu bulanan, karena dia masih terlalu takut untuk melepas keperawannya. Dari yang ia dengar dari beberapa temannya, termasuk Ana dan Rania, malam pertama itu rasanya sangat menyakitkan. Nadira sampai merinding meski hanya membayangkan saja.
Namun, menerima sentuhan demi sentuhan lembut suaminya, dirinya seolah merasa candu bahkan merasa tak rela kalau suaminya menyudahinya. Dia menginginkan yang lebih lagi.
"Lebih baik aku tidur! Daripada otakku makin konslet saja!" gerutunya. Nadira berusaha memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah merasa sangat lelah.
Setengah jam lebih kemudian, Nathan keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah tampak segar. Dia berjalan mendekati tempat tidur, bibirnya tersenyum simpul kala mendengar dengkuran halus dari istrinya. Wajah Nadira tampak terlihat damai dalam tidurnya.
Nathan pun segera naik ke tempat tidur, lalu mendaratkan ciuman di kening istrinya dengan sangat lama. Menyalurkan perasaan cinta dan kasih untuk wanita itu. Lalu ciumannya beralih ke seluruh wajah istrinya dan terakhir bibir sexy yang begitu menggoda.
"Selamat tidur, Sayang." Nathan pun merebahkan tubuhnya dan ikut berkelana ke alam mimpi. Namun, belum juga terlelap, mata Nathan kembali terbuka saat mendengar igauan istrinya.
"Mommy ... daddy ... Nadira kangen." Igauan diiringi isakan tangis itu, seolah meluluh lantahkan hati Nathan. Dia segera memeluk Nadira yang terlihat begitu gelisah dalam tidurnya.
__ADS_1