
Nathan melajukan mobilnya dengan kencang menuju ke apartemen. Selain untuk menjemput Jasmin, dia juga akan memastikan keberadaan istrinya. Namun, baru saja sampai di depan area apartemen, Nathan menghentikan mobilnya dan meremas setir kemudi dengan kuat saat melihat Nadira sedang masuk ke dalam mobil Rendra. Bahkan Rendra sendiri yang membukakan pintu mobil untuk gadis itu.
Setelah mobil Rendra keluar dari area apartemen, Nathan langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Jasmin kalau dia sudah menunggu di area apartemen. Hari ini mereka akan melihat gedung cabang Saputra Group.
Nathan menyalakan mobilnya saat melihat Jasmin berjalan mendekat. "Kamu sudah menunggu daritadi, Kak?" tanya Jasmin sambil masuk ke mobil.
"Belum lama." Nathan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Bagaimana keadaan Tuan dan Nyonya Alexander?" tanya Jasmin memecah keheningan di dalam mobil itu.
"Keduanya masih koma," sahut Nathan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. "Kapan kita ada pertemuan dengan Rendra lagi?"
"Nanti sehabis makan siang." Jasmin membuka ponselnya untuk melihat jadwal kegiatan Nathan.
"Bilang saja kepadanya, pertemuan diajukan saat jam makan siang saja. Nanti kita sekalian makan siang bersama," perintah Nathan. Jasmin hanya mengangguk mengiyakan lalu menghubungi Rendra.
"Ya, Tuan Rendra sudah setuju," kata Jasmin saat panggilan itu sudah terputus. Nathan hanya mengangguk mengiyakan.
***
Mobil Nathan berhenti di depan sebuah perusahaan berlantai sepuluh dengan tulisan JS Group terpampang besar di perusahaan itu. Sebenarnya, perusahaan ini sudah dibangun sekitar satu tahun yang lalu, tetapi Nathan tidak mengelola langsung. Bahkan tidak semua orang mengetahui termasuk keluarga Alexander kalau perusahaan itu adalah milik Saputra Group. Karena yang mengelola perusahaan itu adalah Herman, sahabat Johan selain Dharma Adhiwinata.
"Tuan Muda." Seorang lelaki paruh baya berdiri membungkuk di depan Nathan saat lelaki itu sudah memasuki ruangan presdir.
__ADS_1
"Pak Herman, bagaimana kemajuan perusahaan ini?" tanya Nathan.
"Semua aman terkendali, Tuan." Herman berbicara dengan begitu sopan. "Apa Anda jadi mengelola sendiri perusahaan ini, Tuan?" tanya Herman memastikan.
"Tentu saja, Pak. Mungkin minggu depan aku akan mulai mengelola dan siapkan pesta penyambutan, tetapi jangan terlalu mewah. Aku tidak mau membuat pesta ketika Keluarga Alexander sedang bersedih. Cukup undang rekan bisnis kita saja," perintah Nathan. Herman mengangguk setuju.
"Berarti saya sudah pensiun, Tuan?" Herman bertanya dengan hati-hati.
"Mana mungkin. Pak Herman tetap bekerja sebagai wakilku, karena Bapak yang lebih tahu tentang perusahaan ini," kata Nathan. Herman kembali mengangguk setuju. Setelah memberi perintah itu, mereka lalu berbincang di sofa. Herman menceritakan banyak hal yang terjadi di perusahaan.
Sementara itu di Alfa Group, Nadira masih duduk dengan tenang di kursinya. Rendra menatap lekat wajah gadis itu. Gadis yang sampai saat ini sama sekali belum bisa dia rebut hatinya.
"Nad, nanti pertemuan dengan Tuan Nathan dimajukan menjadi saat jam makan siang. Katanya sekalian makan siang bersama. Apa kamu tidak keberatan?" tanya Rendra menatap penuh harap ke arah Nadira.
"Siapa?" tanya Rendra menyelidik.
"Ya pokoknya ada. Bagaimana kalau Mario saja yang menemani Anda?" Nadira memberi tawaran.
"Nad, kamu 'kan yang bertanggung jawab atas kerjasama ini. Kalau sampai kehadiranmu digantikan Mario. Aku takut, perusahaan kita dicap sebagai perusahaan yang tidak kompeten," kata Rendra.
Nadira menghembuskan napas kasar. "Baiklah, biar saya batalkan janji saya," kata Nadira dengan lesu. Rendra hanya mengiyakan lalu kembali fokus menatap layar komputernya.
Semangat kerja Nadira langsung down begitu saja. Sebenarnya, dia tidak memiliki janji dengan siapa pun. Dia hanya menghindari makan siang bersama Nathan dan Jasmin. Karena dia takut jika melihat kebersamaan mereka akan semakin membuat selera makannya hilang dan hatinya semakin terluka.
__ADS_1
Nadira tersenyum getir saat melihat kedua jari manisnya begitu bebas. Tidak ada cincin yang melingkar di sana. Hati Nadira tiba-tiba kembali berdenyut sakit. Ya, dirinya dan Nathan sudah resmi menjadi suami istri. Bahkan Nadira mendapat maskawin yang cukup fantastik, tetapi Nathan melupakan satu hal. Dia tidak memberikan sebuah cincin.
Seharusnya aku sadar sedari awal kalau semua akan terasa sesakit ini dan aku harus menguatkan hatiku. Pernikahan kita bahkan ditutup rapat dari siapa pun kecuali keluarga. Harusnya kamu sadar, Nad! Kenapa Kak Nathan tidak memberimu cincin karena dia tidak ingin pernikahan kalian terbongkar. Jika maskawin bisa disembunyikan, tapi cincin pernikahan? Ah, padahal aku bisa menyimpan tanpa memakai jika diberi.
Nadira mendesah kasar untuk sekedar mengurangi batinnya yang saat ini sedang bergejolak hebat. Dia berusaha fokus, tetapi bayangan Nathan seolah datang menggoda.
"Aku yakin semua akan baik-baik saja," gumam Nadira dengan sangat lirih. Karena dia takut Rendra akan mendengarnya.
______________________________________________
Cukup untuk hari ini ๐
Dukungannya jangan lupa ditunggu ya gaess
Yuk, follow akun Othor Kalem Versi Sendiri ini ๐
Fb : Rita Anggraeni (Tatha)
IG : @tathabeo
Eh, nih ada karya temen Othor yang bagus untuk dibaca. Jangan lupa mampir yukk
__ADS_1