
Sesampainya di hotel, Nathan langsung mengganti pakaian dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia menatap langit-langit kamar dengan airmata yang menetes dari kedua sudut matanya. Dia menghela napas panjang untuk sedikit mengurangi beban yang serasa menghimpitnya.
"Apakah aku benar-benar sudah keterlaluan? Padahal aku hanya berusaha melindungimu." Nathan mengusap airmata itu. Hatinya begitu sakit mendengar ucapan Nadira barusan. Bukannya dia tidak mau menolong Nadira, tapi dia memang sengaja menolong Jasmin yang tidak bisa berenang.
Ponsel Nathan berdering, dia melihat layar ponsel dan melihat nama sang ayah tertera di sana. Nathan yakin pasti ayahnya akan membahas tentang kejadian tadi. "Hallo, Yah."
"Nat, kamu di mana?" tanya Johan.
"Nathan di hotel. Ada apa?" tanya Nathan berusaha tetap terlihat tenang.
"Jangan berpura-pura tidak tahu apa pun, Nat! Kamu sudah sangat menyakiti Nona Muda!" Suara Johan terdengar membentak.
"Yah, bukankah semua ini untuk ...."
"Persiapkan dirimu. Kita harus segera menangkap dan mengungkapnya. Mereka sudah berani bermain senjata," kata Johan.
"Tapi Yah ... bukankah Tuan Davin dan Aunty Aluna belum sadar?" tanya Nathan pelan.
"Ya, doakan mereka. Ayah sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Tuan Marvel tadi menghubungi Ayah kalau keadaan mereka sedang gawat." Nathan bisa mendengar suara Johan yang begitu berat, nada bicaranya menyiratkan sebuah kesedihan.
"Pasti, Yah."
"Jangan pernah tinggalkan senjatamu, Nat. Meskipun Nona Muda jauh darimu, kamu tetap harus mengawasi. Mereka ada di sekitarmu. Ayah juga sudah menyuruh Cacha jangan sampai jauh dari Nona Muda. Kita harus bergerak cepat sebelum Dharma kembali ke Singapura. Ayah tutup dulu." Setelah Nathan mengiyakan, Johan lalu mematikan panggilan itu.
Nathan meremas ponsel di tangannya. Rahangnya kembali terlihat mengeras. "Aku harus bisa menangkap kalian secepatnya!"
***
__ADS_1
Cacha duduk di tepi tempat tidur. Hatinya masih merasa sangat kesal dengan kakaknya yang sudah bertindak dengan begitu bodoh. Seandainya ayahnya melihat dengan mata kepala sendiri, Cacha tidak tahu bagaimana nasib kakaknya itu. Karena bagi sang ayah, keluarga Alexander adalah segalanya.
Dia mengambil ponsel, melihat apakah ada pesan masuk dari kekasihnya. Karena semenjak dirinya di Bogor, James tidak menghubungi sama sekali. Mungkinkah James cemburu karena Cacha mengatakan kalau dia menginap di rumah orang tua Rendra.
"Biarin lah. Lagian besok aku akan pulang ke Jakarta," gerutu Cacha. Dia melemparkan ponsel ke atas kasur dengan sembarang.
Namun, baru saja ponsel itu menyentuh kasur, suara deringnya sudah memenuhi kamar itu. Wajah Cacha begitu semringah. Dia yakin pasti James yang menghubunginya saat ini, tapi senyum di wajah Cacha kembali memudar saat melihat nama ayahnya yang tertera di sana.
"Hallo, Yah."
"Cha, di mana Nona Muda?" Cacha menautkan kedua alisnya saat mendengar suara ayahnya yang begitu gugup.
"Sedang di dapur, Yah. Kenapa?" tanya Cacha heran.
"Cha, pulang sekarang bersama Nona Muda, tapi Ayah harap Nona Muda jangan sampai tahu terlebih dahulu." Suara Johan terdengar begitu berat. Bahkan, Cacha bisa menangkap kesedihan dari suara ayahnya. Perasaan Cacha mendadak tidak enak.
"Cha ... Tuan Davin dan Nyonya Aluna sudah meninggal dunia," sahut Johan menahan isak tangisnya.
"Apa?! Ayah jangan bercanda!" Cacha menutup mulutnya dan kedua matanya terlihat berkaca-kaca. Dia masih belum percaya dengan apa barusan ayahnya katakan.
"Mana mungkin Ayah bercanda untuk kabar semenyakitkan ini. Nyonya Aluna meninggal dua puluh menit yang lalu, sepuluh menit kemudian Tuan Davin menyusulnya," tutur Johan. Kali ini Cacha bisa mendengar dengan jelas suara tangis ayahnya.
"Yah ...." Cacha terdiam dengan derai airmata membasahi seluruh wajahnya.
"Ayah mohon, jangan sampai Nona Muda tahu kalau kedua orang tuanya sudah meninggal. Bilang saja ada urusan darurat," pinta Johan.
"Baik, Yah. Cacha akan usahakan Nadira tidak tahu kalau Tuan Davin dan Aunty Aluna sudah meninggal. Kita akan segera pulang."
__ADS_1
Prang!
Cacha terlonjak saat mendengar suara gelas pecah, dia menoleh ke arah pintu dan semakin terkejut saat melihat Nadira sudah berdiri di ambang pintu dan sedang menatap ke arahnya.
"Nad ...," panggil Cacha, tapi kemudian dia terdiam saat melihat Nadira yang mulai menangis.
Dengan langkah lebar Nadira mendekati Cacha dan menggoyangkan secara kasar kedua bahu gadis itu. "Cha! Katakan kalau aku salah dengar! Katakan kalau daddy dan mommy belum meninggal! Katakan, Cha!"
Airmata Cacha semakin mengalir deras, dia sungguh tak kuasa mengatakan yang sebenarnya, tapi Nadira sudah terlanjur mendengarnya.
Cacha menggeleng lemah, bahkan wajahnya masih penuh dengan jejak airmata. "Maafkan aku, Nad. Tapi semua benar. Kamu yang sabar, Nad."
"Ini tidak mungkin!" tubuh Nadira luruh ke lantai begitu saja. Dia menutup wajahnya yang sudah penuh airmata. "Katakan kalau kamu berbohong, Cha."
Cacha semakin tak kuasa menahan tangisnya saat melihat Nadira yang menangis tersedu. "Nad! Kamu mau ke mana?" tanya Cacha berteriak saat Nadira dengan gerakan cepat bangkit dan berlari ke luar kamar.
"Aku mau pulang sekarang." Cacha berlari mengejar Nadira. "Nadira!" teriak Cacha saat melihat Nadira terjatuh dari tangga karena tidak bisa menyeimbangkan kakinya. Rendra yang baru mendekati tangga begitu terkejut melihat Nadira yang sudah tergeletak tak sadarkan diri di tangga paling bawah. Dia segera membopong tubuh Nadira dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
_______________________________________
Kelanjutannya besok π
Semoga hari kalian menyenangkan π
Jangan lupa dukungannya masih terus ditunggu.
Othor mau kaburr dulu. Othor Libur update 3 hari ya ππ
__ADS_1
Ishh! Enggak deng π bercanda doang π