Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
235


__ADS_3

Di ruangan pemimpin Anderson Group, Mike duduk dengan tenang di kursi kebesarannya, sedangkan Frans, asisten pribadinya, berdiri tenang di belakang. Mike memijat pelipis dengan perlahan saat dia merasa begitu pusing. Satu minggu tidak bertemu istrinya, ternyata rasa rindu kepada wanita itu membuat kepalanya berdenyut karena hampir setiap malam tidak bisa tidur.


Rencananya, besok pagi Mike akan ke Indonesia untuk menjenguk istrinya, tetapi semua akan diurungkan karena dirinya benar-benar merasa tidak enak badan.


"Tuan Muda, Anda baik-baik saja?" tanya Frans khawatir.


"Aku baik, Frans, hanya sedikit pusing. Sepertinya aku kurang istirahat." Mike menyandarkan tubuhnya. Namun, ketika dia menatap langit ruangan, tiba-tiba semua terasa berputar dan membuat Mike merasa mual. Lelaki itu dengan cepat menunduk untuk mengurangi rasa pusing itu.


"Saya panggilkan dokter, Tuan." Frans memegang pundak Mike, dia terlihat semakin khawatir.


"Tidak usah, Frans. Aku akan istirahat dulu." Dengan langkah sedikit sempoyongan Mike berjalan menuju ke sofa dan merebahkan tubuhnya secara kasar di sana. Dia masih terus memijat pelipisnya, tetapi rasa pusing itu tetap tidak berkurang sedikit pun. Merasa begitu cemas, Frans secara diam-diam memanggil Dokter Vano, dokter pribadi keluarga Anderson.


Di saat sedang sibuk dengan rasa pusing, tiba-tiba ponsel Mike terdengar berdering. Mengejutkan lelaki itu yang hampir terlelap. Dia menyuruh Frans untuk melihat siapa yang memanggil karena ponsel nya tergeletak di atas meja.


"Nona muda, Tuan."


Mike bergegas bangun, tetapi saat baru saja terduduk, semua yang dilihat berputar-putar membuat Mike semakin pusing bahkan mual. Frans mendekati Mike dengan membawa ponsel milik tuan mudanya.


"Anda mau mengangkatnya, Tuan?" tanya Frans.


"Bilang saja aku sedang rapat, Frans. Aku tidak mau dia khawatir kalau tahu aku sakit." Mike menjawab lesu. Frans hanya mengangguk lalu mengangkat panggilan tersebut dan mengatakan pada Cacha sesuai apa yang diperintahkan oleh Mike.


"Sudah, Tuan." Frans hendak menyerahkan ponsel itu, tetapi Mike menyuruhnya untuk menaruh kembali di atas meja.

__ADS_1


Pintu ruangan itu terbuka, Dokter Vano masuk dengan langkah tergesa. Melihat kedatangan dokter itu, Mike menatap tajam ke arah Frans, tetapi lelaki yang ditatap justru tetap terlihat begitu tenang.


"Anda sakit apa, Tuan?" tanya Dokter Vano yang saat ini sudah berada di samping Mike.


"Yang dokter 'kan kamu, harusnya kamu yang lebih tahu aku sakit apa." Mike menjawab dengan sedikit ketus.


Dokter Vano tidak menjawab lagi, dan hanya memeriksa lelaki itu. Namun, keningnya terlihat mengerut setelah selesai memeriksa. Mike dan Frans yang melihat raut wajah Dokter Vano mendadak khawatir, takut ada penyakit berbahaya yang bersarang di tubuh Mike.


"Apa ada penyakit yang serius?" tanya Mike tak sabar.


"Tidak. Justru semuanya normal dan baik-baik saja. Apa Anda sering pusing akhir-akhir ini?" tanya Dokter Vano balik. Mike mengangguk lemah.


"Dua hari ini aku sering pusing, apalagi saat pagi. Mungkinkah karena aku susah tidur kalau malam?"


Mike menatap Dokter Vano dengan tatapan yang susah dijelaskan. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Nada bicara Mike sudah naik satu oktaf.


"Sabar, Tuan. Dengarkan penjelasan Dokter Vano terlebih dahulu." Frans berusaha menenangkan.


"Bisa jadi Anda mengalami couvade syndrome atau kehamilan simpatik, Tuan."


Mike terdiam mendengar ucapan yang keluar dari mulut Dokter Vano. Di saat dia masih terdiam, terdengar bunyi ponsel miliknya yang kembali menggema di ruangan itu. Dengan tak sabar Mike menyuruh Frans kembali mengambil ponselnya. Benar saja sesuai yang dia duga kalau yang menghubunginya saat ini adalah Cacha.


"Hallo, Neng."

__ADS_1


"Mas, kamu sedang apa?" Suara Cacha terdengar gelisah.


"Aku baru selesai rapat. Kamu merindukanku?" tanya Mike menggoda meski dia sedikit merasa tidak nyaman karena sudah berbohong.


"Ya, apa kamu besok jadi ke sini?"


"Aku usahakan ya, Neng. Kalau pekerjaanku tidak terlalu sibuk aku akan ke situ." Mike menatap Dokter Vano yang memberi kode untuk bertanya tentang datang bulan kepada Cacha.


"Neng, apa kamu sudah datang bulan?" tanya Mike penasaran.


"Bulan ini belum, lebih tepatnya telat dua minggu. Kenapa kamu bertanya seperti itu? Bukankah sebulan lalu kamu menggempurku tanpa libur." Cacha tergelak, tetapi Mike justru kembali terdiam. Sepertinya wanita itu belum menyadari ucapannya barusan.


"Neng, maukah kamu melakukan testpack sekarang?" pinta Mike menghentikan gelakan tawa Cacha seketika.


"Ma-maksud kamu?"


"Neng, kamu sudah telat dua minggu, mungki lebih baik sekarang kamu cek, siapa tahu dia sudah kembali hadir di antara kita."


"Mike, aku takut hanya telat datang bulan karena pikiranku saat ini sedang kacau sejak jauh darimu."


Bibir Mike tersenyum lebar saat mendengar ucapan Cacha. Andai wanita itu saat ini ada di sampingnya, sudah pasti dia akan menciumi dengan sangat gemas.


"Neng, kalau kamu belum hamil berarti belum rezeki kita, dan kita masih memiliki banyak waktu untuk mencoba." Mike berbicara dengan sangat lembut dan tenang.

__ADS_1


"Baiklah, tunggu sebentar. Setengah jam lagi aku telepon kamu."


__ADS_2