Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
177


__ADS_3

"Bilang aja kamu ingin aku gendut? Biar kamu bisa nyari cewek seksi lagi?" tukas Nadira. Kedua bola mata Nathan melebar mendengar pertanyaan yang lebih seperti tuduhan untuknya.


"Astaga, Beb! Kenapa kamu bilang begitu? Aku tidak sedikit pun berpikir seperti itu. Walaupun kamu gemuk, aku tetap akan sayang sama kamu," ucap Nathan membela diri.


"Jadi, kamu doain aku gemuk?" Nadira melipat tangan di dada, masih dengan posisi tidur, seperti anak kecil yang sedang marah.


"Aku enggak doain, Beb. Ayo makan, aku suapi." Nathan berusaha merayu, tetapi Nadira masih saja merajuk.


"Pergilah, aku udah kenyang." Nadira membelakangi suaminya dan kembali menarik selimut sampai sebatas leher.


"Kamu yakin tidak mau makan? Sudah aku tambahin lima sendok kecap, Beb. Tidak kurang atau lebih," ucap Nathan dengan lembut.


"Aku udah enggak laper! Buang saja atau kamu makan saja. Aku mau tidur."


Nathan menghela napas panjang lalu mengembuskan secara perlahan. Dia meletakkan piring itu di atas nakas. Kemudian, dia naik ke atas tempat tidur dan memeluk erat istrinya dari belakang, beberapa ciuman pun mendarat di puncak kepala Nadira.


"Kenapa kamu marah-marah?" tanya Nathan dengan lembut. Dia tahu, saat istrinya sedang merajuk, dan yang harus dia lakukan adalah memperlakukan dengan lembut, bukan dengan bentakan.


"Aku laper," jawab Nadira sekenanya.


"Ya udah ayo makan. Kamu sudah susah payah bikin nasi goreng 'kan?" Nathan mengusap perut Nadira dengan lembut, entah mengapa Nadira merasa begitu nyaman.


"Aku enggak mau! Aku maunya nasi goreng pucat," ucap Nadira masih dengan suara kesal.


"Aku enggak mau kamu mual atau muntah kalau makan nasi goreng pucat kaya tadi beb." Nathan masih berusaha merayu.


"Ya udah kalau gitu aku enggak jadi makan. Aku mau tidur aja." Nadira masih saja merajuk.

__ADS_1


"Makanlah, aku tidak mau perutmu sakit." Nathan mengeratkan pelukannya, dengan beberapa kali membenamkan ciuman.


Nadira tidak menyahut, hanya dengkuran halus yang terdengar dari wanita itu. Nathan melepas pelukannya dan berusaha memastikan pendengarannya tidaklah salah.


"Astaga. Dia aneh sekali. Barusan ngambek, eh enggak ada satu menit udah terlelap. Dasar istriku yang aneh!" Nathan memeluk istrinya dengan gemas, tetapi wanita itu tidak terusik sama sekali dan tetap mendengkur halus.


***


Cahaya matahari mulai menampakkan silaunya, jam sudah hampir menunjuk angka delapan. Nathan sudah bersiap hendak berangkat ke kantor, tetapi istrinya masih saja tertidur lelap. Nathan melangkah mendekati tempat tidur dan mencium kening istrinya dengan penuh sayang.


"Aku berangkat, Beb."


Baru saja Nathan menyudahi ciumannya, kedua mata Nadira tampak mengerjap, tatapan mata mereka pun akhirnya bertemu. Nathan yang merasa begitu gemas, kembali mendaratkan ciuman di seluruh wajah Nadira.


"Aku belum gosok gigi." Nadira menutup mulutnya.


"Kamu sudah mau berangkat?" tanya Nadira. Nathan tidak menjawab, hanya mengangguk perlahan sebagai jawabannya. Dengan bergegas, Nadira beranjak bangun tanpa melepaskan cekalan tangannya di lengan Nathan.


"Kenapa pagi sekali? Aku bahkan belum memakaikan dasi padamu," ucap Nadira lirih.


"Aku bisa memakai sendiri, Beb. Lihatlah." Satu tangan Nathan yang bebas, menunjuk dasi yang sudah terpasang rapi di kemeja biru dongker yang dia kenakan.


"Tapi aku mau memakaikan dasi padamu." Raut wajah Nadira tampak begitu memelas.


"Beb, aku sudah kesiangan. Zack sudah menunggu di bawah." Nathan melepas cekalan tangan Nadira, lalu menangkup kedua pipi istrinya dengan lembut. "Nanti siang aku akan pulang. Sekarang aku berangkat dulu ya."


Nathan berbicara dengan lembut, tetapi kening lelaki itu terlihat mengerut saat melihat Nadira yang justru terisak.

__ADS_1


"Kenapa kamu menangis? Kamu mau ikut ke kantor? Nanti kamu bisa menyusul bersama Mang Ujang." Ibu jari Nathan bermain dengan lembut di pipi Nadira, mengusap air mata yang mulai membasahi wajah cantik wanita itu.


"Aku tidak mau," sahut Nadira di sela isak tangisnya.


"Lalu?"


"Aku mau memakaikan dasi ini!" Nadira menunjuk dasi yang sudah terpasang rapi.


"Aku sudah siang, Beb." Kali ini, Nathan yang terlihat memelas untuk menahan emosinya. Dia melirik jam tangan yang hampir menunjuk angka delapan.


"Kalau kamu tidak ngebolehin ya udah! Sana berangkat! Nanti siang jangan pulang, aku mau tidur!" Nadira menghempaskan tangan suaminya dengan kasar, bahkan air mata semakin memenuhi wajah cantik Nadira.


"Baiklah, aku akan lepaskan lagi." Nathan mengalah, dia melepas dasi itu dan langsung menyerahkan pada Nadira.


"Asiikk." Nadira bersorak kegirangan, dengan senyum yang mengembang, wanita itu memakaikan dasi bahkan sambil berdendang. Nathan yang melihat itu, hanya tersenyum simpul meski dalam hati dia bertanya-tanya kenapa sejak semalam istrinya terlihat sangat berbeda.


💦💦💦💦


Wah, sabar ya, Nat. Wanita mah emang gitu.


Ingat, wanita itu selalu benar.


Selamat pagi dan selamat beraktivitas gaess


Jangan lupa dukungannya, selalu Othor tunggu


Semakin banyak dukungan, semakin rajin pula si othor update.

__ADS_1


__ADS_2