Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
198


__ADS_3

"Siap tidak siap, aku pasti akan menghadapinya, Kek." Mike menjawab tegas. Senyum di bibir Richard semakin mengembang sempurna.


"Kakek yakin kalau kamu pasti bisa. Bukankah kamu adalah anak buah Johan Saputra yang paling handal. Bahkan tidak diragukan lagi," puji Richard. Dia sudah mendengar semua tentang Mike dari hasil penyelidikan anak buahnya.


"Tapi ...." Mike terlihat ragu untuk meneruskan kata-katanya.


"Tapi apa, Mike?" tanya Richard tidak sabar saat melihat Mike yang hanya terdiam.


"Kalau suatu saat Kakek Yosie menyerang Mike, dan tanpa sengaja terjadi sesuatu hal, apakah Nenek akan membenci Mike? Bukankah Kakek Yosie adalah adik kandung Nenek?" Suara Mike terdengar ragu.


"Semoga tidak terjadi hal-hal buruk. Kalaupun suatu saat terjadi hal buruk kepada Yosie, itu karena keserakahan dia. Padahal aku sudah berulang kali menasehatinya," ucap Elie dengan raut sendu.


"Baiklah kalau begitu, Mike juga harus mengerahkan anak buah untuk menjaga Cacha."


Mendengar nama Cacha disebut, wajah Elie kembali terlihat semringah. Richard pun sama. Mereka sudah tahu kalau Cacha adalah putri bungsu Tuan Johan, yang sekarang sudah menjadi istri cucunya tersebut.

__ADS_1


"Kapan kamu akan membawa cucu menantu kita ke sini?" tanya Elie bersemangat.


"Belum waktunya untuk sekarang. Kalau semua urusan sudah selesai, aku pasti akan memperkenalkan Cacha pada kalian," sahut Mike dengan tenang.


"Rasanya kakek sudah tidak sabar ingin bertemu langsung cucu menantu yang katanya pandai menembak dan bela diri." Wajah Richard tampak berbinar. Jujur, selama ini mereka berdua sangat kesepian setelah kehilangan Louis karena mereka tidak punya keturunan lagi. Elie harus angkat rahim ketika Louis masih kecil karena ada penyakit yang bersarang di sana.


Mike tidak menjelaskan lebih detail siapa istrinya karena dia yakin kalau sang kakek pasti sudah meyelidiki semuanya lebih dalam. Setelah tidak ada lagi obrolan di antara mereka, Mike berpamitan kembali ke kamar. Dia sudah tidak sabar ingin segera menghubungi istrinya.


***


"Aku tidak menyangka kalau Louis ternyata dulu bisa selamat dan bahkan sekarang sudah mempunyai seorang putra!" Suara bariton itu terdengar penuh kekesalan. Dia menghisap rokoknya dengan dalam.


"Besok, aku akan berkunjung ke Mansion Anderson. Aku ingin lihat seperti apa tampang anak Louis." Bibir lelaki itu terlihat menyeringai. "Sekarang kalian kembalilah ke kamar," suruh lelaki itu. Dua anak buah tersebut mengangguk, lalu berpamitan pergi.


Selepas kepergian anak buahnya, Yosie beralih duduk bersandar masih dengan berkali-kali menghisap rokok yang tinggal setengah batang. Tiba-tiba datang wanita cantik dengan tinggi semampai, rambut pirang dan make up cukup tebal berjalan mendekati Yosie. Wanita itu duduk di samping Yosie dan memeluknya erat.

__ADS_1


"Pa, aku mau beli mobil keluaran terbaru," rengeknya manja. Yosie mematikan rokoknya di asbak, lalu beralih merangkul putri kesayangannya.


"Akan papa belikan, tapi kali ini dengan satu syarat." Yosie berbicara dengan senyum licik.


"Syarat apa, Pa? Kenapa Papa jadi menyebalkan gini?" Wanita itu mencebik kesal.


"Besok kita akan mengunjungi Tante Elie, papa yakin kalau kamu akan terkejut saat berkunjung ke sana," ucap Yosie.


"Memang ada apa di tempat Tante Elie? Bukankah yang ada hanya dua orang tua itu. Fey tidak mau! Pasti mereka akan terus-terusan meledek Fey yang selalu gagal dalam percintaan," tolaknya dengan tangan terlipat di dada.


"Tidak akan. Kali ini papa tidak akan membiarkan mereka meledekmu. Sekarang lebih baik kamu tidur dan jangan lupa besok pagi harus berdandan yang cantik," suruh Yosie. Dia mengusap punggung putrinya dengan lembut.


"Tapi Papa janji akan belikan Fey mobil baru?" Fey menunjukkan jari kelingkingya.


"Baiklah." Yosie menautkan kelingkingnya. Setelah itu, Fey berpamitan kembali ke kamar. Yosie hanya mengiyakan, dan menatap punggung putrinya yang perlahan menjauh dari pandangannya.

__ADS_1


"Aku yakin kalau anak Louis bisa jatuh cinta dengan putriku. Setelah mereka menikah, maka aku bisa menikmati semua harta Anderson! Hahaha." Tawa Yosie menggelegar, memecah keheningan di ruangan yang terasa sepi. Rasanya, Yosie sudah tidak sabar ingin segera menemui mereka.


__ADS_2