Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
119


__ADS_3

Setelah hampir dua jam perjalanan, Mobil yang dikendarai Mike berhenti di area rumah sakit. Johan dan Mila segera turun, dengan langkah teburu mereka menuju ke ruangan VVIP, ruangan di mana Cacha dirawat.


Johan membuka pintu ruangan itu, Cacha yang sedang mengobrol dengan Rendra langsung terkejut melihat kedatangan orang tuanya.


"Ayah, Bunda." Wajah Cacha terlihat gugup, apalagi saat melihat raut wajah sang ayah yang terlihat datar meski ada gurat kekhawatiran di sana.


"Bagaimana kamu bisa terluka, Cha?" tanya Mila. Wanita paruh baya itu duduk di samping putrinya.


"Cacha tidak apa-apa kok, Bun." Cacha tersenyum simpul, seolah menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja.


"Kamu yakin tetap baik-baik saja padahal kamu habis operasi patah tulang di bahu mu, Cha?" tanya Johan.


"Bagaimana Ayah bisa tahu?" tanya Cacha balik. Padahal dia sudah menyuruh dokter yang menangani untuk bungkam dan mengatakan dirinya hanya terluka ringan.


"Ayah tidak menyangka kalau sekarang kamu jadi gadis yang pandai berbohong! Apa ayah mengajarimu untuk berbohong?" Johan terlihat menatap Cacha, tapi ekor matanya melirik Rendra yang sedang menunduk.


"Maafkan Cacha, Yah." Suara Cacha terdengar penuh sesal.


"Mas, sudahlah. Anak gadismu sedang sakit, jangan marahi dia dulu. Lebih baik kamu selesaikan urusanmu dulu." Mila mencoba menengahi. Johan pun akhirnya menghentikan bicaranya.


"Maafkan saya, Tuan. Semua salah saya, Cacha terluka karena menolong saya. Kalau saja bukan karena saya, mungkin Cacha tidak akan—"


"Bisakah Anda pulang dulu, Tuan Rendra." Johan memotong ucapan Rendra begitu saja.

__ADS_1


Rendra terdiam sesaat, dia ingin menjelaskan dan meminta maaf. Namun, sorot mata Johan yang begitu tajam, membuat Rendra mengurungkan niatnya dan akhirnya berpamitan pergi. Bukannya menjadi seorang pengecut, dia hanya ingin memberi waktu untuk saling menenangkan diri. Karena dia tahu, orang tua Cacha sedang marah dan kecewa saat ini.


Setelah kepergian Rendra, tatapan Johan ke arah Cacha semakin menajam. Lelaki paruh baya itu, mendudukkan tubuhnya di tepi brankar dan menatap sang putri dengan tatapan yang susah dijelaskan.


"Katakan pada ayah, kenapa kamu berbohong dan berpura-pura menjadi pacar Rendra?" Cacha terkejut mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut ayahnya.


"Mas, kasihan Cacha masih sakit." Mila berusaha membela Cacha. Dia tahu, putrinya sedang takut saat ini.


"Apa Mike yang bilang sama Ayah? Dasar tukang ngadu!" umpat Cacha kesal.


"Bukan!" sanggah Johan, "Mike justru ayah hukum karena sudah membantumu menutupi semuanya dari ayah. Kemarin pagi, Tuan Bastian datang menemui ayah dan mengatakan kalau putri ayah ini menjalin hubungan dengan putranya. Apa itu benar, Cha?" tanya Johan penuh penekanan.


"Yah ...." Cacha terdiam karena merasa begitu bimbang jawaban apa yang harus diberikan.


"Memang Ayah berani?" tanya Cacha sedikit mengejek. Karena dia tahu, ayahnya hanyalah mengancam dirinya.


"Kenapa ayah mesti takut? Kamu sudah berbohong dan itu sangat melukai hati ayah, Cha!" Johan terdengar membentak, tapi raut wajah lelaki itu penuh dengan kecewa.


"Maafkan Cacha, Yah." Suara Cacha terdengar begitu lirih bahkan nyaris tidak terdengar.


"Hentikan sandiwara kalian. Tuan Bastian juga sudah tahu kalau kalian hanya berbohong. Ayah sudah menjodohkan kamu dengan seseorang."


"Dengan siapa?" tanya Cacha menuntut jawaban.

__ADS_1


"Mike!" tegas Johan. Kedua mata Cacha terlihat melebar sempurna. Dia masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya saat ini.


"Ayah yang benar saja! Cacha tidak mau menikah dengan Mike!" tolak Cacha. Suara gadis itu bahkan terdengar meninggi.


"Kenapa? Ayah mencarikanmu lelaki yang bisa menjadi pelindungmu! Bukan justru kamu yang melindungi lelaki itu!" sindir Johan.


"Yah, bukannya Mas Rendra tidak melindungiku, semua memang sudah jalannya aku harus terluka seperti ini." Cacha masih berusaha membela diri.


Mila beranjak bangun dan berpindah duduk di pangkuan suaminya. Dia memeluk suaminya dengan erat untuk meredam emosi lelaki itu, yang mulai terlihat naik.


"Sekarang kamu pilih siapa? Mike atau Rendra?" tanya Johan. Cacha terdiam karena dirinya merasa begitu bimbang.


"Cacha tidak mau dengan Mike, Yah." Suara Cacha terdengar lirih.


"Kenapa?" tanya Johan penuh selidik.


"Ayah masih tanya kenapa? Ayah pikir Cacha mau menikah dengan anak buah Ayah yang bahkan umurnya sangat berbeda jauh. Bisa jadi Cacha dikira nikah dengan bapak sendiri!"


"Jaga bicaramu, Cha!" bentak Johan. Tatapan mata ke arah putrinya terlihat sangat menajam.


"Sudahlah, Mas. Bicarakan ini nanti saja. Kasihan putrimu." Mila semakin memeluk erat suaminya.


"Maaf saya mengganggu kalian." Suara familiar dari arah pintu, membuat mereka bertiga terdiam seketika. Bahkan tubuh mereka menegang saat baru menyadari sosok lelaki itu.

__ADS_1


__ADS_2