Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
144


__ADS_3

Nathan merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Tangan lelaki itu melingkar di perut istrinya, dengan tubuh yang sudah menempel rapat. Bahkan, bau tubuh Nadira, menyeruak masuk ke dalam indera penciuman Nathan, dan seolah membuat lelaki itu mabuk kepayang.


"Kepalamu masih sangat pusing?" tanya Nathan dengan sangat lembut.


"Tidak terlalu. Tubuhku rasanya sakit semua." Nadira menjawab lesu. Tulang wanita itu memang rasanya seperti patah.


"Mungkin kita akan libur beberapa hari," ucap Nathan. Hidung lelaki itu menghirup aroma rambut istrinya yang begitu wangi.


"Memangnya kamu bisa? Puasa berhari-hari," tanya Nadira setengah meledek.


"Aku usahakan, masih ada Tante Citra, Tante Lux, Tante Marina dan tante-tante yang lain," seloroh Nathan. Dengan gemas, Nadira mencubit tangan Nathan yang masih melingkar di perutnya.


"Sakit, Beb. Kamu kejam sekali." Nathan merengek manja, dan Nadira hanya berdecih sebal.


"Mas, emang bener ya si Cacha mau dijodohin sama Mike?" tanya Nadira penasaran.


"Ya, aku malah senang kalau Cacha menikah dengan Mike." Nathan semakin merapatkan tubuhnya.


"Jangan erat-erat, nanti aku mati sesak napas," protes Nadira. Nathan terkekeh sembari melonggarkan pelukan itu.


"Mike itu lelaki bertanggung jawab, dia sudah ikut ayah sejak masih remaja. Jadi, ayah sudah kenal baik buruknya Mike," papar Nathan.


"Oh begitu. Waktu itu si Cacha sempet cerita sih, kalau dia dijodohin sama ayah, tapi dia enggak mau bilang siapa lelaki itu karena Cacha bilang sudah menolaknya," kata Nadira panjang lebar.


"Sudahlah, biarkan saja. Kalau memang mereka berjodoh, aku yakin kalau mereka pasti akan bersatu." Nathan memejamkan mata karena merasa begitu lelah setelah kebakaran jenggot mencari istrinya.


"Aku enggak nyangka kalau yang melamar Cacha itu Mas Rendra. Padahal selama ini hubungan mereka dekat, tapi tidak terlalu."


Mata Nathan kembali terbuka, dan lelaki itu merasa begitu kesal karena Nadira kembali menyebut nama lelaki yang sangat dia benci.

__ADS_1


"Jangan sebut nama lelaki lain di depanku, Beb. Apalagi si Ren itu!" Nada bicara Nathan terdengar sangat datar.


"Ren siapa? Mas Rendra?" tanya Nadira bingung.


"Hmmmm." Nathan semakin kesal karena Nadira justru semakin memperjelasnya.


"Emang kenapa, sih? Padahal Mas Rendra aslinya baik loh," puji Nadira yang membuat emosi dalam diri Nathan menjadi naik.


"Sekali lagi kamu menyebut apalagi memuji lelaki lain di depanku, jangan salahkan aku kalau kamu akan telanjang dan kugarap habis-habisan, bahkan bisa saja kamu tidak akan keluar kamar selama beberapa hari."


"Astaga, kejam sekali. Memangnya kamu tega kaya gitu ke aku?" tanya Nadira penuh menggoda.


"Tidak, sih. Yang ada aku nangis duluan." Nathan tergelak keras, menertawakan dirinya sendiri. "Kalau begitu kita olahraga saja sebelum tidur."


"Katanya mau libur beberapa hari," kata Nadira meledek.


"Liburnya nanti saja pas kamu tanggal merah. Sekarang kamu tanggal item, jadi batal libur." Nathan melepas pelukannya, lalu membalik tubuh Nadira dan menindihnya.


***


Pandangan Cacha mengarah ke halaman depan. Dirinya sekarang berada di balkon kamarnya. Hati Cacha merasa begitu gelisah, dia pikir Mike hanya berbohong untuk menghindarinya kalau sekarang lelaki itu sedang di Bali.


Namun, mendengar dari ayahnya langsung, Cacha pun akhirnya percaya. Cacha menatap layar ponsel yang berada dalam genggaman. Dengan gelisah, menanti seseorang akan mengiriminya pesan ataupun meneleponnya, tetapi sayang sekali. Tidak ada satu pun notif yang masuk ke ponselnya.


"Mungkin ini balasan karena aku sudah sangat melukai perasaan Mike," gumam Cacha.


Ucapannya ketika berada di rumah sakit, kembali terngiang dalam ingatan, dan membuat Cacha merasa begitu menyesal.


Terdengar sebuah notif pesan masuk, dengan antusias Cacha membukanya. Berharap pesan kali ini dari lelaki yang sangat dia tunggu.

__ADS_1


Hai, Cha. Apa kabarmu? Maafkan aku, sudah sangat menyakitimu. Aku benar-benar menyesal, Cha. Aku juga mau minta maaf sama kamu, minggu depan aku akan menikah dengan Anisa atas kehendak orang tuaku. Aku mohon doa restumu, Cha. Aku tidak akan memaksamu untuk datang, tapi kalau kamu mau datang, dengan senang hati aku akan menyambutnya.


Cacha tersenyum getir, hatinya seolah hancur lebur saat ini. Dia sadar, kalau dirinya belum sepenuhnya mencintai Rendra, hanya sebatas kagum dan kini dirinya begitu kecewa karena dipermainkan oleh lelaki itu.


Cacha kembali tersadar dalam lamunan saat sebuah pesan kembali masuk ke applikasi chatnya. Dengan lesu, Cacha membuka pesan itu, masih dengan nama yang sama.


Tolong bilang ke El juga ya, Cha. Karena nomorku sudah diblokir, entah apa salahku. Terima kasih, Cha. Semoga kamu mendapat jodoh yang terbaik.


Cacha meremas ponsel itu dengan kencang, bahkan giginya sampai bergemerutuk. Namun, setelah itu dirinya menghembuskan napas kasar untuk mengurangi beban yang terasa menghimpitnya.


Mungkinkah ini karma untuknya? Dirinya menolak lelaki sebaik Mike, dan memilih lelaki lain yang tidak mencintainya dan kini dirinya dibuat begitu terluka oleh lelaki pilihannya.


Dengan langkah lebar, Cacha kembali masuk ke kamar dan merebahkan diri di atas tempat tidur. Gadis itu berusaha keras memejamkan mata untuk mengurangi emosi yang seolah akan memblundak karena saking penuhnya.


Baru saja Cacha hendak terlelap, ponselnya terdengar berdering. Gadis itu menggeram kesal karena merasa terganggu.


"Kenapa menyebalkan sekali, sih! Nikah tinggal nikah kenapa berkali-kali bilang, bikin makin sakit hati aja!" gerutu Cacha, mengambil ponselnya dengan malas-malasan.


Namun, saat Cacha sudah menatap layar ponselnya, gadis itu membeku saat melihat nama Mike tertera di layar. Bukan hanya pesan ataupun panggilan suara, tapi panggilan video.


Cacha menaruh ponselnya sesaat, lalu turun dari tempat tidur dan menatap pantulan wajahnya di cermin. Memastikan wajahnya masih terlihat cantik. Setelah semua dirasa sudah sempurna, Cacha mengambil ponselnya untuk mengangkat panggilan dari Mike, tapi gadis itu mendesah kecewa karena panggilan itu sudah terputus.


Ingin sekali Cacha menghubungi balik, tetapi dia terlalu gengsi. Akhirnya, Cacha hanya duduk bersandar kepala ranjang, menanti Mike menghubungi lagi.


"Mungkin aku terlalu berharap, palingan juga Mike enggak sengaja menekan tombol panggil."


Cacha melempar ponsel itu ke atas tempat tidur. Namun, baru saja ponsel itu menyentuh kasur, suara deringnya kembali memecah keheningan kamar. Cacha bergegas melihat siapa yang menghubunginya saat ini.


Jantung Cacha kembali berdegup kencang saat melihat nama yang tertera di layar. Dengan segera, Cacha memosisikan ponselnya di depan wajah lalu menekan icon hijau untuk menerimanya.

__ADS_1


Cacha terlihat begitu gugup saat melihat wajah Mike terlihat memenuhi layar ponsel. Wajah yang sangat dia rindukan kini bisa dia lihat meski hanya dalam layar ponsel. Tanpa sadar, mata Cacha terlihat berkaca-kaca. Jujur, dia sangat merindukan lelaki itu.


__ADS_2