
Hampir setengah jam berlalu, tetapi Mike rasanya sudah tidak sabar menunggu kabar dari istrinya. Ponselnya sedari tadi terus saja digenggam dengan tatapan yang tak lepas dari layar. Dokter Vano dan Frans sama tak sabarnya seperti tuan muda mereka.
"Kenapa lama sekali?" gumam Mike.
"Mungkin sebentar lagi, Tuan." Frans mencoba menenangkan. Benar saja, ponsel tersebut langsung berbunyi dan tanpa menunggu lama Mike segera mengangkat panggilan itu.
"Hallo, Neng. Bagaimana?" tanya Mike tak sabar, tetapi Cacha tidak menyahut. "Neng?"
"Mas, aku hanya telat datang bulan." Suara Cacha terdengar lirih. Mike menghela napas panjangnya. Dia berusaha tetap terlihat tenang meski ada rasa kecewa yang menyusup masuk ke dalam hati.
"Tidak apa, Neng. Mungkin kita harus berusaha lebih keras lagi." Mike berusaha menenangkan. Dia menggeleng ke arah Frans dan Dokter Vano yang juga ikut mendesah kecewa.
"Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu." Suara Cacha melirih, dan Mike tahu kalau sebentar lagi istrinya bisa saja menangis.
"Neng, jangan bersedih. Kamu adalah istriku terbaik satu-satunya. Aku tetap akan mencintaimu dengan atau tanpa adanya anak di antara kita. Kalau kamu belum hamil itu berarti belum rezeki kita untuk—"
"Maukah kamu ke sini demi calon buah hati kita?" tanya Cacha menyela ucapan Mike begitu saja. Mike terdiam dan berusaha mencerna ucapan istrinya.
"Maksud kamu?"
"Aku hamil, Mas! Aku positif hamil!" kata Cacha penuh semangat. Secara refleks Mike bangkit berdiri dan bertanya kembali untuk memastikan kalau pendengarannya tidaklah salah.
"Alhamdulillah. Neng, aku bahagia sekali." Mike mengusap air mata dari kedua sudut matanya. Rasanya dia benar-benar terharu dan bahagia.
"Tapi kenapa aku tidak mual-mual ya, Mas? Aku takut testpack nya salah." Suara Cacha terdengar begitu ragu.
__ADS_1
"Neng, kamu tanyakan saja pada kakak iparmu. Bukankah Nona Queen seorang dokter kandungan?"
"Ah, iya, aku sampai lupa. Kenapa otakku jadi lemot sekali." Mike tersenyum mendengar gerutuan istrinya.
"Mungkin karena kamu sangat merindukanku." Mike menggoda. Frans dan Dokter Vano yang masih berada di dalam ruangan, menggeleng tak percaya.
"Bisa jadi. Besok kamu jadi ke sini?" tanya Cacha memastikan.
"Nanti sepulang dari kantor aku akan langsung ke Indonesia." Mike menjawab dengan antusias. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dan memeluk erat istrinya.
"Benarkah? Aku tunggu, Mas!"
Setelah mengobrol cukup lama, Mike akhirnya mematikan panggilan itu karena sebentar lagi dia akan rapat. Setelah Mike menurunkan ponsel dari telinga, Frans dan Dokter Vano langsung memberi beberapa pertanyaan. Kedua lelaki itu merasa sangat bahagia saat Mike mengatakan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Berbagai doa pun mereka panjatkan untuk keselamatan dan kesehatan ibu dan calon buah hatinya.
***
Kabar bahagia ini langsung menyebar ke seluruh anggota keluarga. Bahkan Nathan dan Nadira segera datang ke Kediaman Saputra untuk menemui si Anak Kambing.
"Cacha Maricha Hehey! Selamat buat kamu!" Nadira berlari masuk mendekati Cacha, tetapi Nathan segera mengejar dan menyuruhnya berjalan pelan.
"Beb, bisakah kamu berjalan sedikit pelan? Kasihan Baby B." Nadira tidak menyahut, tetapi langkahnya sedikit melambat. Setelah berada di dekat Cacha, dua wanita itu saling berpelukan erat.
"Terima kasih banyak, Nad. Rasanya aku sangat bahagia sekali." Cacha melerai pelukan itu lalu mengusap air mata yang hampir saja terjatuh. Tak lupa Nathan juga mencium kedua pipi adiknya dan mengucapkan selamat padanya. Setelah itu, mereka pun kembali duduk saling mengobrol.
"Nad, bagaimana Baby B?" tanya Mila sembari mengusap perut anak menantunya yang sudah turun padahal kehamilan Queen sedikit lebih tua.
__ADS_1
"Baik, Bun. Cuma akhir-akhir ini sering kencang." Nadira pun ikut mengusap sebelah perutnya.
"Bisa jadi kamu yang lahiran dulu deh, Nad. Lihat perutmu sudah sangat ke bawah seperti itu," ucap Queen. Nadira menatap Queen dengan lekat.
"Masa sih, Kak, 'kan usia kehamilan kak Queen lebih tua dari aku?" tanya Nadira dengan kening mengerut.
"Ya, tapi segala kemungkinan bisa saja terjadi. Apalagi aku yakin kalau kamu sering melakukan anu dengan suamimu," tebak Queen.
"Pastilah, Kak. Hampir setiap hari." Nathan yang menjawab dengan bangga.
"Sp*rma itu bisa memicu timbulnya kontraksi, jadi semoga saja B lahir saat usianya sudah matang, tiga puluh tujuh minggu. Untuk amannya, lebih baik kalian saat ini kurangi dulu atau boleh melakukan itu tapi jangan dikeluarkan di dalam," papar Queen.
Nathan dan Nadira mengangguk paham. "Ingat, Mas. Kita jangan terlalu sering anu-anu dulu."
"Boleh sering yang penting jangan dikeluarkan di dalam, Beb," timpal Nathan.
"Ya, tapi tetap saja kita harus mengurangi itu." Nadira tak mau kalah.
"Iya, nanti aku kurangi. Kalau kita sekali main biasanya tiga ronde nanti aku kurangi jadi 2 ronde dalam sekali permainan."
"Nat, kamu sekali main tiga ronde?" tanya Mila menyela perdebatan pasangan suami istri itu. Nathan tidak menjawab, hanya mengangguk mengiyakan. "Aahh, bunda jadi pengen. Yah," panggil Mila setengah merengek.
Johan menghela napas secara kasar. "Ingat umur, Mil. Aku ini sudah tua, kalau tiga ronde sekali permainan yang ada pinggangku bisa patah."
"Tidak, Mas. Aku yang akan memimpin permainan."
__ADS_1
"Jangan berbicara sevulgar itu depan anak kecil," sela Cacha. Dengan gemas, Nathan menyentil kening adiknya.
"Anak kecil! Anak kecil! Katanya masih anak kecil kok udah pinter bikin anak!" protes Nathan, dan Cacha hanya menunjukkan senyum tanpa dosa.