
Nathan tidak menjawab, dia hanya menarik tubuh Nadira masuk dalam dekapannya. Bahkan, Nathan berkali-kali mendaratkan ciuman di puncak kepala istrinya dengan sangat lembut. Sementara Nadira hanya membisu, dia masih belum sepenuhnya percaya kalau suaminya saat ini berdiri di depannya.
"Apa kamu benar-benar Kak Nathan?" tanya Nadira masih belum percaya. Nathan tersenyum melihat raut wajah istrinya yang kebingungan.
"Tentu saja. Aku merindukanmu." Nathan mengecup kening Nadira. Gadis itu masih saja membeku. Di menatap suaminya dengan lekat. Wajah lelaki yang beberapa hari ini selalu terbayang dalam ingatannya. "Kamu tidak merindukanku?" tanya Nathan menyadarkan Nadira.
Nadira tidak menjawab, tapi dia menubrukkan tubuhnya di dada bidang suaminya, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Nathan.
"Aku merindukan, Kak Nathan." Suara Nadira terdengar begitu lirih bahkan nyaris tidak terdengar. Nathan membalas pelukan Nadira dengan bibir tersenyum lebar.
"Aku juga merindukanmu. Sangat merindukanmu." Nathan mengusap punggung belakang Nadira dengan sangat lembut, membuat Nadira menjadi begitu terbuai.
Nathan melerai pelukan itu, lalu menangkup kedua pipi Nadira. Bibirnya tersenyum saat melihat mata Nadira yang terlihat basah.
"Jangan menangis," ucap Nathan dengan senyum bahagia. Tanpa banyak bicara, dia meraup bibir istrinya dengan sangat lembut. Nadira terdiam, dia tidak menolak ciuman itu, justru pasrah menerimanya.
Setelah Nathan merasa yakin kalau Nadira tidak menolak ciumannya, Nathan segera ******* bibir istrinya. Nadira begitu terbuai dan berusaha mengimbangi saat lidah Nathan bermain di rongga mulutnya. Mereka berdua saling menikmati ciuman itu, saling bertukar saliva dalam sebuah ciuman yang memabukkan.
Nathan melepas ciumannya dan membiarkan istrinya mengambil napas dalam, sedangkan napasnya sendiri terdengar memburu. Kini, Nathan beralih mendaratkan ciuman di leher jenjang istrinya.
Nadira menggigit bibir bawahnya untuk menahan desah*nnya saat merasakan seluruh tubuhnya terasa meremang. Nathan tersenyum tipis, tangannya mulai bergerilya bahkan adik kecilnya mulai berdiri menantang.
"Kak," desah Nadira tertahan. Dia takut ada yang mendengarnya. Nathan menghentikan ciumannya dan menatap wajah istrinya dengan penuh napsu.
"Sepertinya kita harus kembali ke hotel tempatmu menginap," kata Nathan. Napasnya masih saja terdengar memburu.
__ADS_1
"Nanti ketahuan Kak Al." Nadira berusaha mengontrol tubuhnya.
"Biarkan saja. Kita ini suami istri. Memang apa salahnya?" Nathan mencium pipi istrinya.
"Tapi, Kak ...."
Tok tok tok!
Pintu toilet itu diketuk dengan sangat keras. Dia yakin kalau itu kelakuan Jasmin, karena hanya gadis itu yang berada di depan toilet dan Nathan sudah menyuruhnya jangan sampai ada yang masuk ke sana.
Nathan membantu Nadira membenarkan rambutnya yang terlihat berantakan. Kemudian, dia membuka pintu itu dengan sangat kesal.
"Jas! Bukankah sudah ku bilang ...." Nathan menghentikan omelannya saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu toilet. "Al, Ken." Nathan menunjukkan rentetan gigi putihnya saat melihat Alvino berdiri di depan pintu toilet dengan tangan bersidekap.
"Jonathan Saputra!" hardik Alvino. Dia menatap Nathan seolah akan melahap habis sahabat yang kini sudah menjadi adik iparnya.
"Rasanya ingin ku sumpal mulutmu, Nat! Di mana Nadira?" tanya Alvino dengan suara tinggi. Dia hendak memaksa masuk, tapi Nathan menahan di pintu.
"Jangan masuk, Nadira belum pakai baju," sahut Nathan santai. Kedua bola mata Alvino membola dengan sempurna.
"Kamu gila!" umpat Alvino dengan amarah yang sudah mencapai puncak ubun-ubunnya.
"Sabar, Al. Sabar." Nathan mengusap dada Alvino, tapi langsung ditepis dengan kasar. "Ingat, istrimu sedang hamil. Jadi, kamu harus bisa menjaga sikapmu."
Mendengar perkataan Nathan, emosi Alvino mulai terlihat mereda. "Tarik napas ... buang. Supaya emosi kamu mereda."
__ADS_1
Alvino pun menuruti perintah Nathan. "Tarik napas ... buang. Tarik napas ... buang." Nathan memberi arahan dan Alvino dengan bodohnya mengikuti arahan itu. Sementara Kenan menutup mulutnya untuk menahan tawa.
"Tarik napas." Alvino kembali menarik napas panjangnya dan menunggu arahan dari Nathan selanjutnya. "Tahan sampai nanti malam," seloroh Nathan diiringi tawa lebar.
Alvino menggeram kesal saat dirinya baru menyadari kalau Nathan sudah menjahilinya. Dengan geram Alvino menjewer telinga Nathan hingga lelaki itu berteriak kesakitan.
"Rasanya aku ingin menjadikanmu makanan hiu!" Alvino menarik tubuh Nathan hingga keluar dari pintu toilet, lalu dia masuk dan melihat Nadira yang sedang menunduk ketakutan dengan jemari yang saling bertautan.
Alvino tidak bersuara, tapi dia menarik tangan Nadira dan mengajaknya keluar dari toilet. "Kamu ini sangat menyebalkan, Nat! Seorang pengusaha muda ternama, pemilik Saputra Group mengajak istrinya yang keturunan Alexander bercinta di toilet restoran. Sungguh memalukan!"
Alvino menatap Nathan dengan sangat tajam, lalu mengajak Nadira yang sedari tadi diam saja untuk pergi dari sana.
"Al! Tunggu!" teriak Nathan berusaha mengejar Alvino, tapi Kenan segera menahannya. "Apaan sih, Ken! Lepasin!" Nathan meronta, tetapi cekalan tangan Kenan begitu kuat.
"Kalau kamu ngejar, aku yakin hukumanmu akan semakin ditambah." Kenan masih terus menahan Nathan.
"Ken ... kenapa aku selalu didzolimi. Kalian tidak tahu betapa tersiksanya saat ingin merasakan malam pertama. Kasihan adikku," kata Nathan dengan raut wajah yang dibuat memelas.
"Emang kamu belum malam pertama?" tanya Kenan tak percaya.
"Belum lah! Aku ini masih perjaka ting tong!" ucap Nathan ketus.
Kenan tergelak keras. "Kasihan sekali nasibmu!" ledek Kenan disela gelakan tawanya. Dia menyuruh tiga orang anak buahnya yang berdiri tidak jauh, untuk membawa Nathan kembali pulang ke Jakarta.
Nathan benar-benar tidak bisa menolak saat kedua tangannya diikat seperti sedang diculik.
__ADS_1
"Aku benci kalian!" pekik Nathan, tapi tidak ada yang peduli. "Bunda, Nathan pengen anu!" Nathan berpura-pura menangis seperti anak kecil. Ketiga pengawal itu pun tak kuasa menahan tawa melihat kelakuan serta ucapan yang keluar dari mulut lelaki somplak itu.