
Di ruang bersalin, Ana sedang berjuang melahirkan ketiga buah hatinya secara normal. Kenan dengan setia menunggu di sampingnya, memberi semangat meski dalam hati tidak tega melihat istrinya yang terus saja merintih kesakitan.
"Kamu yakin akan melahirkan normal?" tanya Kenan kembali memastikan.
"Iya, Mas. Aku pasti bisa!" Ana menjawab dengan yakin. Kenan mendaratkan ciuman di kening Ana sangat lama sembari merapalkan berbagai macam doa dalam hati.
Semakin lama kontraksi itu semakin sering dalam jeda waktu kurang dari tiga menit. Ana menggigit bibir untuk menahan rasa sakit supaya tidak mengerang. Kenan menggenggam tangan Ana dengan erat, menyalurkan kekuatan meski mata lelaki itu mulai terlihat basah.
Dokter Angel pun segera memeriksa dan ternyata sudah pembukaan sembilan. Ana memosisikan diri sesuai arahan Dokter Angel. Tangan Ana mencengkeram kuat saat merasakan sakit yang semakin luar biasa. Seperti sembelit, tetapi rasanya lebih sakit.
"Mengejanlah, tapi bokong jangan di angkat supaya tidak robek." Dokter Angel memberi instruksi. Ana tidak menyahut karena dia hanya fokus pada rasa sakit yang semakin lama semakin terasa. Wajah Kenan pun semakin terlihat begitu cemas.
"Ayo, Nona. Sudah kelihatan rambutnya," suruh Dokter Angel memberi semangat. Ana kembali mengejan sekuat tenaga, selang beberapa detik terdengar suara tangis bayi menggema di ruangan itu. Mata Ana dan Kenan berkaca-kaca saat Dokter Angel mengangkat bayi merah dengan jenis kelamin laki-laki.
Ana mengembuskan napas lega sembari mengumpulkan tenaga karena masih ada dua nyawa yang harus dia lahirkan. Tiga menit berlalu, Ana kembali merasakan kontraksi. Dia pun mengejan lagi dan bayi kedua lahir dengan jenis kelamin perempuan.
Kenan ngerasa sangat cemas saat melihat wajah Ana yang mulai memucat padahal masih ada satu bayi lagi. Kenan menggenggam tangan erat istrinya dan menatapnya dengan sangat cemas. Namun, Ana mengangguk lemah seolah meyakinkan suaminya kalau dirinya masih mampu.
Ketika kembali merasakan kontraksi, Ana kembali berusaha melahirkan bayi terakhir. Tiga kali mengejan, terdengar suara tangisan lagi, paling keras di antara dua bayi sebelumnya. Kenan berkali-kali mencium kening Ana dengan air mata yang tak mampu lagi ditahan.
Melihat suaminya menangis, Ana pun tak kuasa menahan air mata. Dia juga menangis bahagia karena sudah bisa melahirkan tiga bayi dalam keadaan sehat.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih," ucap Kenan disela isakannya. Dia menempelkan keningnya di kening sang istri. "Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu." Ana membalas. Kenan pun mencium bibir Ana dengan sangat lembut. Namun, ciuman itu hanya sesaat karena suara tangisan bayi berhasil mengalihkan perhatian mereka.
"Selamat, Tuan, Nona. Bayi kalian berjenis kelamin dua laki-laki dan satu perempuan."
__ADS_1
Binar bahagia tampak terlihat jelas di wajah mama dan papa muda tersebut. Setelah semua sudah bersih dan beres, Dokter Angel mempersilakan Alvino dan Rania untuk masuk. Rania bersorak saat melihat tiga bayi mungil yang saat masih memejamkan mata.
"Ah, kepokanan Onty, tampan dan cantik. Jin dan Jun pasti sangat bahagia kalau melihat kalian." Rania mengusap salah satu di antara bayi itu.
"Sekarang mereka sama siapa?" tanya Ana masih sedikit lemah.
"Kaleng Rombeng." Alvino menjawab santai. Ana hanya menanggapi dengan anggukan kepala. Setelah puas di sana, Rania segera berpamitan pulang karena dia sudah terlalu lama meninggalkan kedua bayinya.
***
Setelah Rania dan Alvino sampai di rumah, giliran Nathan dan Nadira yang menjenguk ke sana. Sebenarnya Nathan sudah menyuruh Nadira ke rumah sakit besok saja karena hari sudah malam, tetapi Nadira bersikukuh ingin ke sana. Akhirnya, manusia somplak itu pun hanya menurut.
Sesampainya di ruangan Ana, tanpa menunggu lama Nadira langsung menggendong bayi itu di atas perut buncitnya. Nathan mendekati Nadira dan mengambil alih bayi tersebut.
"Kasihan Baby B," ucap Nathan, bibir Nadira terlihat cemberut. Saking gemasnya, Nathan tanpa malu melu*at bibir istrinya. Kenan yang melihat itu menjadi menggeram.
"Bilang saja kamu iri karena harus berpuasa empat puluh hari mulai sekarang. Sabar-sabarin deh, Ken. Kalau kata bunda, jangan lupa stok sabun yang banyak."
"Siapa yang manggil bunda?"
Suara dari arah pintu mengalihkan perhatian mereka. Terlihat Mila masuk bersama Johan dan kedua orang tua Kenan yang tampak begitu semringah melihat ketiga cucu mereka.
"Wah, Bunda panjang umur. Sekali disebut langsung nongol," ucap Nathan. Dia menyerahkan bayi yang berada gendongannya kepada Mila.
"Makanya, jangan macem-macem kalau sama bunda," timpal Mila.
"Iya, Bun. Nathan tahu kok, kalau sama Bunda cukup satu macem aja. Apa gaya terviral di tahun ini." Nathan tergelak keras hingga membuat bayi laki-laki yang berada di dalam gendongan Mila menangis keras.
__ADS_1
"Pelankan suaramu, Nat!" seru Johan. Nathan hanya mengangguk sembari meminta maaf.
"Ken, siapa nama putra dan putrimu?" tanya Johan mengalihkan pembicaraan.
Kenan menatap Ana penuh arti, merasa ditatap lekat Ana pun mengangguk mengiyakan. "Kenzo, Kenzi, Kendra."
"Wah, tripel Ken!" Nathan bertepuk tangan riuh. "Jadi, yang perempuan namanya Kenzi?" tanya Nathan memastikan. Kenan hanya mengangguk sebagai jawaban. Mereka pun saling mengobrol bersama orang tua Kenan.
Di saat mereka sibuk berbincang-bincang, Nathan berpamitan keluar karena dia ingin mencari pop mie atas permintaan sang istri. Nathan pun turun dan membeli lima pop mie berbeda rasa. Setelah mendapat apa yang diinginkan, Nathan segera kembali.
Ketika sedang berjalan santai, tiba-tiba Nathan merasakan tubuhnya merinding. Dia menoleh ke kanan dan kiri, suasananya tampak sepi bahkan tidak ada seorang pun yang lewat. Nathan semakin merinding saat merasakan hawa di sekitar menjadi berbeda.
Nathan pun mempercepat langkah kakinya dengan sesekali menoleh ke belakang. Namun, tiba-tiba Nathan jatuh saat merasakan dirinya menabrak seseorang. Ketika Nathan melihat siapa yang ditabraknya, lelaki itu menjerit.
"Seetaaannnnn!" Nathan bergegas bangun saat melihat seorang wanita memakai baju putih dengan rambut hitam tergerai dan wajah tampak begitu putih seperti mayat. Nathan lari tunggang langgang menuju ke ruangan Ana.
"Ihh, abang tampan kok lupa sama aku sih. Padahal udah minta rambutan aku. Oee Bang! Ini aku si Ikan Cup*ng!" teriak wanita itu kesal, tetapi Nathan tidak mendengarnya karena sudah berlari menjauh.
Mereka yang berada di ruangan Ana terheran saat melihat Nathan masuk dengan napas ngos-ngosan seperti dikejar setan. Bahkan wajah lelaki itu tampak sedikit memucat.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Nadira heran.
"Barusan aku lihat setan!" sahut Nathan masih dengan berusaha mengatur napasnya.
"Mana ada setan sih." Nadira tidak percaya.
"Beneran, Beb. Kalau enggak percaya nih lihat buktinya." Nathan menunjuk celananya yang telah basah. Mereka melongo sesaat sebelum akhirnya tergelak keras.
__ADS_1
"Astaga, Nat! Kamu ngompol!" teriak Mila histeris.