Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
258


__ADS_3

Di ruangan milik Febian, Leona berdiri meringsut di samping meja kerja saat melihat tatapan Febian yang begitu mengintimidasi. Dia sudah sadar apa kesalahannya. Febian menatap penuh kecewa ke arah Leona. Dia merasa gadis itu sudah bersikap keterlaluan dan tidak bisa menjaga perasaannya sama sekali.


"Maafkan aku, Kak." Suara Leona terdengar penuh sesal.


"Kenapa kamu tega denganku, Le? Untuk apa kamu mengundang wanita itu? Bukankah kamu tahu kalau aku berusaha susah payah melupakannya?" Febian memberondong Leona dengan banyak pertanyaan yang begitu menuntut.


"Aku sudah pernah berjanji dengan Kak Jasmin kalau menikah nanti, aku akan mengundangnya. Aku tidak mungkin melanggar janjiku sendiri, Kak." Leona membela diri.


"Terserah kamu, Le. Jujur aku sangat kecewa denganmu." Febian merapikan jasnya lalu melangkah keluar ruangan meninggalkan Leona begitu saja. Sementara gadis itu hanya menatap punggung sepupunya yang perlahan menjauh dari pandangannya.


"Kalau kamu tahu bagaimana susahnya hidup Jasmin setelah berpisah denganmu, aku yakin kamu akan bersimpati pada dia kak," gumam Leona sebelum akhirnya mengambil tas kerja dan segera pulang karena dia masih harus mempersiapkan pernikahan yang tinggal sepuluh hari lagi.


***


Febian mengemudikan mobilnya dengan kencang untuk sedikit mengurangi rasa kesal dan amarah yang bercampur menjadi satu. Cengkraman tangan di setir kemudi begitu menguat bahkan gigi Febian sampai bergemerutuk. Dia sengaja mencari jalan sepi supaya bebas berkendara. Setelah merasa puas, Febian berencana hendak kembali ke apartemen. Namun, tiba-tiba Febian menghentikan laju mobil saat melihat seorang perempuan yang sedang meronta karena dua pria bertubuh kekar mencekal tangannya.


"Lepaskan wanita itu!" Febian berteriak kencang saat turun dari mobil yang berjarak tidak jauh dari mereka.


"Kamu siapa? Jangan suka ikut campur urusan orang lain!" bentak salah satu di antara mereka.


"Kamu tidak tahu siapa aku? Lepaskan wanita itu dan aku akan membayar kalian seratus juta!" kata Febian dengan tegas.


Kedua lelaki itu menghempaskan tangan perempuan itu secara kasar lalu berjalan mendekati Febian untuk memastikan. Tatapan mereka menelisik dari ujung kepala sampai ujung kaki yang membuat Febian merasa begitu risih.

__ADS_1


"Kamu yakin dengan ucapanmu?" tanyanya belum percaya. Febian tidak menyahut, hanya menghubungi anak buahnya dan meminta mereka membawa uang seratus juta sesuai yang dia ucapkan tadi.


"Kurang dari sepuluh menit, anak buahku akan datang." Febian menyimpan kembali ponselnya. Dia menatap perempuan yang saat ini sedang berdiri dengan tubuh yang gemetar hebat. Tiba-tiba hati kecil Febian tergerak untuk mendekati. Namun, baru berjalan lima langkah, perempuan itu sudah memundurkan tubuhnya dan begitu ketakutan.


Febian akhirnya menghentikan langkahnya karena tidak mau semakin menakutinya. Selang beberapa saat dua orang anak buah Febian datang dengan membawa sebuah koper dalam genggaman. Mereka mendekati Febian dan menyerahkan koper tersebut. Sementara dua pria bertubuh kekar menatap tidak percaya saat Febian membuka koper yang berisi lembaran uang merah.


"Pergilah dari sini! Jangan pernah mengusik wanita ini lagi! Kalian harus ingat wajahnya! Kalau kalian berani mengusiknya jangan salahkan aku kalau memenjarakan kalian saat itu juga!"


Febian melemparkan koper yang langsung ditangkap oleh kedua pria itu. Setelah koper berada dalam genggaman, mereka pun berlari pergi dengan binar bahagia.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Febian, menatap wanita yang masih terus menunduk.


"Ba-baik, Tuan. Terima kasih banyak." Suara wanita terdengar bergetar dan Febian tahu kalau wanita itu sedang menahan tangis saat ini.


"Bagaimana bisa wanita sepertimu malam-malam di tempat sepi seperti ini?" tanya Febian, masih dengan suara lembut.


"Kerja? Kenapa semalam ini?" tanya Febian lagi. Entah mengapa dia merasa sangat penasaran dengan wanita itu.


"Iya, Tuan. Saya mencari tempat tinggal teman saya." Perempuan itu mengambil sebuah kertas dan menunjukkan kepada Febian. Alis Febian saling bertautan saat melihat alamat yang tertera di sana.


"Bukankah ini alamat Leona?" gumam Febian dan masih bisa didengar oleh perempuan itu.


"Anda kenal dengan Leona?" tanya perempuan itu dengan binar bahagia.

__ADS_1


"Ya." Febian menjawab singkat. Dia menoleh dan menatap anak buahnya dengan lekat. "Kalian antar perempuan ini ke rumah Leona, jangan sampai terluka sedikit pun atau nyawa kalian yang akan jadi taruhannya!"


Kedua anak buah Febian hanya mengangguk. Febian pun berjalan mendekati mobil tanpa berbicara dengan perempuan itu lagi, tetapi tiba-tiba wanita itu berlari mendekati Febian dan memegang lengan lelaki itu untuk menahan gerakan Febian yang hendak membuka pintu.


"Tuan, terima kasih sudah menolong saya. Saya janji akan mengembalikan uang tadi saat saya sudah bekerja." Perempuan itu menatap Febian dengan sangat lekat. Febian pun menatap balik, tetapi sesaat kemudian dia memalingkan wajahnya karena takut akan terhanyut dalam mata bening milik perempuan itu.


"Kamu sudah menikah?" tanya Febian. Perempuan itu menggeleng lemah sembari menurunkan tangannya dari lengan Febian.


"Kalau begitu kamu tidak perlu mengembalikan uang itu. Kamu cukup membalasnya dengan menjaga keperawananmu. Uang seratus juta tadi tidak akan sebanding dengan kehormatan wanita yang terjaga sampai dia menikah dan mempersembahkan untuk suaminya kelak."


Febian masuk ke mobil dan melajukannya begitu saja. Sementara perempuan itu menatap mobil Febian dengan perasaan yang susah dijelaskan.


"Aku tidak menyangka kalau masih ada lelaki sebaik dia di saat pergaulan sudah sangat bebas seperti ini."


💦💦💦


Selamat pagi menjelang siang Gaess


jangan lupa dukungan kalian biar akak Othor makin rajin update


wkwkwk


gimana kabar kalian gaes? Semoga selalu dilimpahi kesehatan dan kelancaran rezeki.

__ADS_1


Dah segitu aja dulu sambutan dari Othor yang terhormat.


wkwk selamat berakhir pekan ☺️☺️


__ADS_2