Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
213


__ADS_3

"Kenapa kamu cemberut gitu, Fey?" tanya Yosie saat melihat wajah putrinya yang ditekuk.


"Pa ...." Baru saja Fey akan menjawab, Mike dan Cacha yang keluar dari dapur berhasil mengalihkan perhatian mereka.


Yosie terpaku saat melihat kecantikan Cacha. Bahkan lebih cantik daripada Fey maupun Clara. Sementara Mike yang melihat tatapan Yosie pada istrinya, hanya bisa menggeram kesal, tetapi dia mencoba tetap terlihat tenang.


"Dia siapa, Mike?" tanya Cacha setengah berbisik.


"Hai, Nona. Perkenalkan namaku Yosie, aku papanya Fey, adik kandung Kak Elie." Yosie mengulurkan tangannya, tetapi Cacha hanya terdiam, tanpa berniat sedikit pun membalas uluran tangan itu.


"Salam kenal, Tuan. Maaf, saya tidak berjabat tangan dengan sembarang orang." Cacha tersenyum simpul dengan kedua tangan tertangkup di dada. Yosie pun menarik kembali tangannya dengan rasa kecewa.


"Nak Cacha, apa mualmu sudah hilang?" tanya Elie. Cache mengangguk dengan cepat.


"Sudah, Nek."


"Lebih baik sekarang kita istirahat, Neng. Jangan sampai kamu semakin sakit." Mike mengusap rambut Cacha dengan lembut.


"Aku masih ingin di sini, Mike. Aku ingin kenal dekat dengan keluargamu," ucap Cacha dengan manja. Dia membenamkan wajahnya di dada Mike.


Yosie yang melihat kemesraan itu, justru membayangkan Cacha berada dalam pelukannya. Bermesraan dengannya. Kalau Cacha bersedia maka dia akan memberikan apa pun yang wanita itu inginkan. Melihat sorot mata Yosie yang selalu mengarah padanya, membuat senyum di bibir Cacha tersungging.


"Mike, aku punya ide," bisik Cacha dengan sangat lirih. Mike menatap kedua bola mata Cacha dengan sangat lekat. Kemudian, mengangguk perlahan sebagai tanggapan.


"Oh iya Nak Cacha. Kalau keseharian kamu apa? Kamu ini putri bungsu Tuan Johan Saputra 'kan?" tanya Richard mencairkan suasana.


Cacha mengangguk cepat. "Aku mengurus perusahaan JS Group, Kek. Anak cabang Saputra Group yang ada di Bandung."


"Jadi, kamu sudah terbiasa dengan dunia bisnis, dong. Keren sekali," sahut Elie dengan wajah sumringah.

__ADS_1


"Iya, Nek. Kebetulan aku dan kedua kakakku memang sudah dilatih bisnis sejak kecil." Cacha masih saja menunjukkan senyum yang membuat Yosie semakin terpikat padanya.


"Sungguh luar biasa. Aku tidak menyangka kalau Mike akan mendapat istri sehebat dirimu," puji Richard yang membuat wajah Cacha tersipu malu.


"Aku sangat beruntung bisa menikah denganmu, Neng." Mike mencium kening Cacha cukup lama sebelum mengecup bibir wanita itu di depan mereka.


"Mike, aku lelah. Aku mau istirahat," rengek Cacha. Mode manja mode-on. Mike pun segera berpamitan dari sana, dan mengajak Cacha menuju ke kamar.


Selepas kepergian mereka, Yosie dan Fey pun berpamitan pulang. Ada banyak akal licik yang sudah memenuhi otak mereka. Kini, Yosie menyusun rencana supaya Cacha bersedia berkencan dengannya atau bahkan menjadi istrinya.


Yosie baru saja memarkirkan mobilnya di halaman depan setelah hampir setengah jam menempuh perjalanan. Tanpa banyak bicara, Fey segera keluar dari mobil dengan kesal karena dia bisa melihat ayahnya yang justru terpesona dengan Cacha.


"Fey, tunggu papa!" teriak Yosie menghentikan langkah Fey yang hendak menuju ke kamar. "Ada yang mau papa bicarakan sama kamu."


Fey tidak menjawab, hanya menatap sang papa dengan lekat. Perasaan wanita itu mendadak tidak nyaman saat melihat raut wajah sang papa yang tampak ragu-ragu. Yosie berjalan semakin mendekati putrinya, lalu mengajaknya duduk di sofa supaya lebih nyaman.


"Siapa?" tanya Fey penuh penekanan. Dia merasa tidak sabar.


"Clara." Yosie menjawab singkat. Kedua bola mata Fey membola sempurna.


"Clara asisten Om Richard?" tanya Fey memastikan. Yosie mengangguk dengan cepat. "Papa yang benar saja! Mana mungkin Fey memiliki mama yang jauh lebih muda dari aku. Fey enggak mau, Pa!" seru Fey dengan penuh amarah.


"Tapi, Fey ...."


"Kalau Papa mau sama Clara, silakan! Tapi Fey akan pergi dari rumah dan tidak akan menganggap Papa sebagai Papa Fey lagi!" hardik wanita itu. Dia berlari dengan kaki menghentak. Yosie memanggil berkali-kali, tetapi Fey tidak peduli.


Setelah Fey tidak lagi terlihat, Yosie mengusap wajahnya dengan kasar. Kalau Fey sudah berkata tidak maka seterusnya akan tetap menjawab tidak, sekeras apa pun dia berusaha merayu. Di saat pikirannya sedang tak karuan, ponsel Yosie berdering. Lelaki itu segera mengambil ponsel dan menggeram kesal. Melihat nama Clara tertera di layar, membuat Yosie ragu untuk mengangkatnya, tetapi panggilan itu terus saja berdering.


"Hallo, Cla," sapa Yosie saat panggilan itu sudah terhubung.

__ADS_1


"Yos, bagaimana?" tanya Clara tanpa basa-basi.


"Kita bertemu sekarang. Aku akan ke apartemenmu." Yosie mematikan panggilan itu begitu saja. Kemudian, dia bergegas pergi menuju ke apartemen Clara yang tidak jauh dari kediamannya.


***


Yosie masuk ke lift dan naik ke lantai dua puluh lima di mana apartemen milik Clara berada. Dia membuka pintu apartemen yang memang sengaja tidak dikunci oleh Clara. Ketika sudah berada di dalam, dia segera mengunci apartemen itu dan berjalan menuju ke kamar, dia yakin saat ini Clara sudah berada di sana.


"Kamu sudah datang, Yos?" tanya Clara, keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk pendek. Yosie yang melihat itu hanya menelan salivanya susah payah.


"Su-sudah. Kamu sexy sekali, Cla." Yosie berjalan mendekati Clara dan hendak menyentuhnya, tetapi wanita itu menolak dan memundurkan tubuhnya.


"Aku tidak ingin kamu sentuh, Yos. Sebelum kamu bersedia bertanggung jawab atas bayi yang kukandung," ucap Clara tegas. Yosie terdiam dan menatap Clara dengan sangat dalam.


"Fey belum merestui hubungan kita, Cla." Yosie tampak begitu pasrah.


"Yos, ini tentang kita berdua, Fey tidak terlibat!" Suara Clara terdengar meninggi.


"Sudah pasti terlibat. Dia putriku dan tentu saja untuk menikah lagi aku harus diskusi dengan dia karena kelak kamu juga akan menjadi mama untuk dia," elak Yosie berusaha meredam amarahnya.


"Seandainya Fey tidak pernah merestui hubungan kita, apakah kamu tidak akan pernah menikahiku? Ingat, Yos! Kandunganku semakin lama akan semakin membesar!" bentak Clara. Air mata wanita itu tidak mampu lagi ditahan.


"Aku akan berusaha merayu Fey, kalau dia tetap tidak mau maka terpaksa kamu harus menggugurkan kandunganmu," ucap Yosie dengan tenang.


"Kamu gila! Sampai mati pun aku tidak akan pernah menggugurkan bayi ini! Dia darah daging kita, Yos!" Air mata semakin membanjiri wajah Clara. Hati wanita itu rasanya sangat sakit.


"Cla ...."


"Pergi! Pergi kamu dari sini! Kalau kamu tidak mau bertanggung jawab, biar aku membesarkan anak ini sendiri! Aku tidak mau kelak anakku punya papa tidak tahu diri! Pergi!"

__ADS_1


__ADS_2