Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
257


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Bara berhenti di parkiran rumah sakit. Kedua lelaki itu segera turun dan berjalan menuju ke ruangan yang telah disebutkan Leona. Febian tidak tahu kenapa hatinya merasa begitu gelisah padahal bukan Leona yang sedang sakit saat ini. Ketika sampai di depan pintu ruangan, kegugupan Febian semakin menjadi-jadi. Dia melangkah di belakang Bara yang sudah masuk terlebih dahulu.


"Sayang, kamu membuatku khawatir." Leona menoleh saat mendengar suara Bara, tetapi dia terkejut saat melihat keberadaan Febian di belakang kekasihnya.


"Ka-kak Bi." Leona terlihat begitu gugup. Baik Bara maupun Febian yang melihat itu pun menjadi menaruh curiga.


Namun, tubuh Febian menegang saat melihat bocah kecil yang saat ini sedang terbaring di atas brankar dengan selang infus di tangan kiri. Febian berusaha memperjelas penglihatannya dan memastikan apa yang dia lihat tidaklah salah.


"Aruna?" Febian semakin berjalan mendekati brankar.


"Kak Bi kenal Aruna?" tanya Leona penasaran.


Belum juga Febian menjawab, suara pintu terbuka berhasil mengalihkan perhatian mereka. Aliran darah di tubuh Febian terasa berdesir hebat. Begitu juga dengan Jasmin yang langsung berdiri terpaku di depan ambang pintu. Leona dan Bara hanya bisa terdiam menatap mereka berdua.


"Em, Kak Jasmin sudah selesai?" tanya Leona berusaha menyadarkan mereka.


"Su-sudah." Jasmin berusaha menghilangkan kegugupannya. Dia berjalan mendekat dan berusaha menghindari pandangan Febian.

__ADS_1


"Le, kembalilah ke kantor. Sepertinya jam makan siang sudah hampir selesai. Terima kasih sudah membantuku menjaga Aruna." Jasmin menatap Leona lekat seolah memberi kode.


"Baik, Kak. Nanti aku ke sini lagi." Leona mengajak Bara dan Febian keluar dari ruangan itu, tetapi Febian justru bergeming di tempatnya. Leona memaksa dan Febian tetap bersikukuh untuk berada di ruangan itu. Jasmin pun akhirnya mengizinkan meski dengan berat hati.


"Apa yang akan Anda bicarakan, Tuan?" tanya Jasmin dengan sedikit tidak bersahabat.


"Kamu memanggilku tuan? Lima tahun tidak bertemu, ternyata kamu sudah banyak berubah." Suara Febian terdengar begitu berat. Jasmin tidak menjawab, hanya menatap Aruna lekat karena tidak ingin tatapan matanya bertemu dengan Febian.


"Jas, kamu tidak ingin bertanya kabarku?" tanya Febian, berusaha menahan perasaan yang begitu bergejolak saat ini.


"Maaf, Tuan. Bisakah Anda pergi dari sini? Putri saya butuh banyak istirahat." Jasmin mengusir. Wanita itu saat ini sedang berusaha kerasa menahan air mata agar tidak terjatuh lagi.


"Maaf, Tuan. Saya tidak berniat muncul dihadapan Anda. Saya tidak tahu kalau kita harus dipertemukan kembali seperti ini padahal saya tidak mengharapkan ini sama sekali."


Tangan Febian terkepal saat merasakan sebuah rasa sakit yang begitu dalam karena sikap dan cara bicara Jasmin kepadanya. Tatapan Febian ke arah Jasmin semakin lekat dan tidak terputus sama sekali.


"Tuan, bisakah kamu pergi dari sini dan aku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi." Jasmin berbicara dengan tegas.

__ADS_1


"Bukankah kamu yang datang mendekati? Kalau tidak kenapa kamu berada di sini padahal yang kutahu kamu berada di Singapura," tukas Febian dengan bibir tersenyum miring.


"Saya tidak ada niatan untuk mendekati Anda sama sekali, Tuan. Saya datang ke sini karena putri saya ingin liburan sekaligus menghadiri pernikahan Leona minggu depan." Jasmin akhirnya mengatakan semuanya.


"Aku tidak menyangka kalau akhirnya kita harus dipertemukan kembali. Kamu tahu, Jas. Aku sudah susah payah melupakanmu, tapi kini kamu datang dan membuatku semua usaha yang aku lakukan selama ini menjadi sia-sia begitu saja." Febian mengusap air mata yang menetes dari sudut matanya. Dia tidak ingin terlihat seperti lelaki rapuh, tetapi dia juga tidak bisa menahan perasaan yang begitu membuncah.


"Tuan, maaf—"


"Papa ... papa ...." Aruna mengigau dan itu berhasil memutus pembicaraan mereka. Jasmin segera mendekati putrinya dan mengusap puncak kepala bocah itu dengan lembut. Jasmin merasa tidak tega, apalagi saat merasakan kening putrinya yang masih saja terasa panas.


"Di mana suamimu?" tanya Febian pada akhirnya.


"Tuan, hubungan kita tidaklah dekat untuk mengatakan semua hal tentang kehidupan saya. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat, maukah Anda pergi dari sini? Saya hanya ingin kenyamanan." Jasmin masih saja belum berani menatap Febian.


"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan. Kuharap putrimu lekas sembuh dan aku juga sangat berharap kita tidak akan pernah bertemu lagi!"


Febian akhirnya berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu membawa rasa sakit yang kembali terasa mencabik hatinya. Sementara Jasmin masih tetap menatap putrinya yang sudah mulai berhenti mengigau. Setelah pintu ruangan tertutup rapat, Jasmin segera membenamkan wajahnya di antara kedua tangannya dan terisak keras.

__ADS_1


"Maafkan aku, Bi. Aku terlalu malu untuk kembali muncul di hadapanmu. Aku sudah sangat bersalah meski sebenarnya aku masih sangat mencintaimu. Maaf, Bi." Jasmin bergumam disela isakannya.


__ADS_2