Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
290


__ADS_3

Ara merasa bahagia karena ayahnya sudah mengalami banyak perkembangan. Dia juga setiap hari dengan telaten merawat sang ayah dibantu seorang perawat khusus. Di saat sedang asyik duduk santai di taman belakang, terdengar suara Leona yang begitu melengking memanggil namanya.


"Kenapa teriak-teriak, sih, Le. Suara cemprengmu bisa membuat telingaku tuli!" Ara mencebik kesal.


"Aku mau mengajakmu pergi." Wajah Leona terlihat berbinar bahagia membuat Ara menjadi curiga.


"Ke mana?" tanya Ara penasaran.


"Ada deh. Udah, ayo. Pak, Leona pergi sama Ara dulu ya." Leona mencium punggung tangan ayah Ara lalu mengajak sahabatnya untuk segera pergi. Ara pun hanya bisa menurut dan mengikuti wanita itu saja.


Selama dalam perjalanan, Leona terus saja berceloteh dan Ara hanya sesekali menanggapi karena dia memang tidak secerewet Leona. Kening Ara mengerut saat mobil itu berhenti di depan sebuah butik ternama yang berpusat di kota. Dia pun hanya diam saat Leona mengajaknya turun dan masuk ke butik tersebut.


Sesampainya di dalam, Ara semakin merasa heran saat karyawan butik menyambut dengan sangat sopan dan langsung mengajak ke tempat di mana gaun pengantin berada.


"Wah, cantik sekali. Ini gaunmu, Le?" Wajah Ara begitu sumringah saat melihat gaun mewah tersebut.


"Bukan. Itu untukmu." Jawaban Leona membuat Ara terdiam sesaat. Ara menatap Leona dengan penuh tanya, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum lebar seolah tanpa dosa.


"Untukku? Jangan bercanda, Le!" Ara tergelak sendiri, sedangkan Leona mengembuskan napas kasar.


"Lama-lama kamu bisa gila, Ra! Aku tidak bercanda. Ini gaun pernikahanmu yang akan digelar besok Minggu," ungkap Leona.


"Yang benar saja!" seru Ara tidak percaya. Gelakan tawanya terhenti begitu saja.


"Kalau kamu tidak percaya ya udah. Mendingan sekarang kamu coba gaun ini karena rajamu menginginkan baju ini benar-benar pas dan nyaman untukmu." Leona tersenyum menggoda.

__ADS_1


"Le—"


"Jangan manja gitu, ih!" Leona menarik lengan Ara mengajaknya masuk ke ruang ganti. Dengan berat hati, Ara pun mencoba gaun tersebut. Namun, di dalam hati Ara merasa begitu bahagia karena gaun itu terlihat anggun dan pas di tubuhnya.


Setelah dirasa sudah pas, Ara dan Leona berjalan-jalan ke mall untuk menikmati waktu bersama yang sudah jarang mereka lakukan karena kesibukan dengan kehidupan masing-masing.


"Ra, makan seblak, yuk," ajak Leona dengan antusias.


"Di mana ada penjual seblak, Le?" tanya Ara tidak sabar. Karena mereka berdua adalah pecinta seblak pedas level lihat mantan jalan sama gandengan.


"Kamu belum jereng 'kan? lihat tuh." Leona mengarahkan wajah Ara menghadap ke tempat penjual seblak. Binar bahagia terlihat jelas dari mereka berdua. Dengan langkah setengah berlari, mereka mendekati penjual seblak itu dan memesan dua porsi jumbo beserta teh panas.


Raut tidak sabar terlihat memenuhi wajah mereka berdua yang langsung melahap seblak berkuah merah tanpa peduli pada asap panas yang masih mengepul. Tidak ada setengah jam, mangkok itu telah tandas juga teh panas di gelas tinggal dua tetes saja.


"Gila! Rasanya aku kangen banget gila-gilaan bareng kamu gini, Ra." Leona mengusap perutnya yang terasa begah karena terlalu kenyang.


"Kamu di mana? Kenapa belum pulang?" Suara Febian terdengar penuh kekesalan.


"Aku lagi di mall sama Leona. Ini mau jalan pulang, Mas."


"Baiklah. Aku tunggu di rumah."


Panggilan itu terputus begitu saja. Ara menatap layar ponsel yang masih menyala dengan rasa khawatir. Dia takut Febian akan marah padanya. Leona yang menyadari itu, segera mengusap bahu Ara untuk menenangkan.


"Kak Bi tidak akan marah padamu. Kalau dia marah biar aku omeli." Leona bicara dengan sangat yakin. Ara pun merasa lega. Mereka berdua pun akhirnya bergegas pulang karena takut Febian akan semakin marah.

__ADS_1


Leona mengemudikan mobilnya dengan cukup kencang karena berpacu dengan waktu. Ara yang duduk sebagai penumpang hanya berani merapalkan doa-doa. Dia tahu, sahabatnya itu ahli dalam berkendara. Begitu mobil terparkir di depan rumah, baik Leona maupun Ara menelan salivanya susah payah saat melihat Febian berjalan mendekati mobil dengan raut datar.


"Le, lihatlah. Mas Bi kayaknya marah, deh." Ara merasa takut sendiri.


"Kamu tenang saja. Ada aku, Ra." Leona berbicara dengan sangat meyakinkan. "Turunlah dulu dan aku akan menyusulmu."


Ara awalnya ragu, tetapi akhirnya dia pun turun dan langsung disambut oleh Febian yang berdiri di samping mobil dengan tangan bersidekap. Ara melirik ke mobil dan merasa curiga karena Leona tidak juga turun dari sana.


"Sudah puas jalan-jalan?" tanya Febian yang lebih seperti sebuah sindiran.


"Le," panggil Ara dengan memelas.


"Kak Bi, aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya menuruti kemauan nona muda saja. Aku pulang dulu."


Ara mendelik saat melihat Leona yang melajukan mobilnya dengan cepat. Dia tidak menyangka kalau sahabatnya justru akan berbohong dan seolah menjerumuskan ke jurang. Di saat Ara tersadar, mobil Leona sudah sampai di pintu gerbang.


"Leona! Tunggu!" teriak Ara berusaha memanggil sahabatnya.


"Ehem!"


Ara langsung terdiam saat mendengar deheman dari suaminya. Dia menepuk kening karena melupakan lelaki itu.


"Aku akan memberimu hukuman!" ucap Febian tegas.


"Hu-hukuman apa, Mas?" tanya Ara takut. Bukannya menjawab, Febian justru menggendong Ara seperti karung beras. Bahkan dia tidak peduli dengan teriakan istrinya dan juga tatapan dari para pelayan.

__ADS_1


"Mas! Turunkan aku!" Ara berusaha untuk turun, tetapi Febian tidak peduli dan tetap membawa istrinya menuju ke kamar.


__ADS_2