
"Tuan?" Mike melempar balok kayu itu ke sembarang. Tubuhnya membungkuk hormat saat Johan berjalan mendekat.
"Jangan lakukan itu, Mike. Kita serahkan saja kepada pihak berwajib. Aku sudah puas melihat mereka babak belur seperti itu." Johan bicara dengan sangat tenang.
"Tapi, Tuan ...."
"Sudahlah, Mike," sela Johan begitu saja. "Kalian bawa mereka ke kantor polisi, bilang saja nanti aku akan menyusul," suruh Johan kepada tiga orang anak buah Mike.
Mereka mengangguk lalu membawa dua orang yang baru saja menghembuskan napas lega. Setelah kepergian mereka, kini di dalam bangunan itu semakin terasa senyap karena hanya ada dua orang di dalam sana.
Mike masih menunduk dalam, sedangkan Johan menatap lekat anak buah kesayangannya.
"Mike, maafkan Cacha." Johan berbicara pelan diiringi helaan napas panjang.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Tuan." Mike bicara dengan sopan. "Tuan, bisakah Anda mengganti saya dengan orang lain dalam menjaga Nona Cacha?" pinta Mike ragu.
"Kenapa, Mike? Cacha pasti sudah sangat melukai hatimu," ucap Johan. Dia mendudukkan tubuhnya di kursi.
__ADS_1
"Bukan karena itu, Tuan. Saya rasa Nona Cacha tidak nyaman kalau saya berada di dekatnya." Mike masih bicara dengan sopan.
"Aku tidak akan mengganti kamu dengan siapa pun, Mike. Hanya kamu yang aku percaya. Lebih baik begini saja, kamu libur selama seminggu dan biarkan Cacha pulang ke Jakarta. Dia perlu perawatan juga," saran Johan.
Mile terdiam untuk memikirkan, tapi beberapa saat kemudian. Lelaki itu mengangguk setuju. Johan kembali bangkit berdiri dan mengajak Mike pergi dari tempat itu.
***
Setelah kepergian Johan dan Mike, Cacha sama sekali tidak bisa tertidur. Pikirannya selalu terbayang akan Mike, ada sebersit perasaan bersalah karena sudah berbicara sekasar itu. Padahal selama ini, Mike selalu menjaganya dengan sangat baik bahkan sejak dirinya kecil.
"Kamu merasa bersalah dengan Mike?" tanya Mila, memecah keheningan di ruangan itu.
"Bun, Cacha sudah sangat keterlaluan," ucap Cacha penuh sesal. Mila mengusap surai hitam putrinya dengan sangat lembut.
"Apa kamu mencintai, Mike?" tanya Mila, menatap putrinya dalam. Cacha terdiam, tidak bisa menjawab. "Jujurlah pada hatimu sendiri, Cha."
"Cacha enggak tahu, Bun. Selama ini Cacha nyaman dekat sama Mike. Merasa aman kalau ada Mike di samping Cacha." Mila tersenyum simpul mendengar jawaban jujur dari putrinya.
__ADS_1
"Cha, cinta tidak akan pernah memandang apa pun. Entah jabatan, usia atau bahkan kewarasan," ucap Mila. Tatapan mata Cacha beralih menatap sang bunda yang terlihat begitu sendu.
"Seperti ayahmu yang sangat menerima bunda apa adanya. Padahal bunda hanya rakyat biasa, bahkan bunda sempat gila karena keperawanan bunda direnggut paksa."
Cacha begitu terkejut, dia menatap Mila penuh selidik. "Maksudnya Bunda di perko*a?" tanya Cacha mendesak. Mila mengangguk lemah.
"Dulu bunda bukanlah siapa-siapa. Hanya orang miskin yang tinggal dengan nenek kamu. Sementara ayah kamu itu, tangan kanan Tuan Davin yang bahkan mendapat perusahaan dari Tuan Aldo karena baktinya kepada Keluarga Alexander. Bunda tidak lagi suci, bahkan depresi dan gila, tapi ayah dengan sabar membantu bunda sembuh dan tetap mencintai dan menerima bunda," kata Mila panjang lebar.
Cacha tak kuasa menahan airmata saat mendengar kisah ibunya yang memilukan. Rasa bersalah kepada Mike semakin menjadi-jadi.
"Cha, mantapkan hatimu. Sudahi sandiwara kamu dan Rendra. Sebelum kamu terjebak oleh permainan kalian sendiri. Kalau kamu memang sayang pada Rendra. Suruh dia menemui ayah dan kalian akan menikah secepatnya," kata Mila.
"Cacha belum yakin, Bun." Suara Cacha terdengar begitu berat.
"Yakinkan hatimu, Cha. Sudah bukan waktunya kamu bermain-main. Carilah lelaki yang benar-benar serius dan mencintaimu dengan tulus."
Kembimbangan terlihat jelas di wajah Cacha, dan Mila menyadari itu. Dia mendaratkan kecupan di kening Cacha untuk sedikit menenangkan hati anak gadisnya.
__ADS_1