
Nadira sudah berdandan rapi, memakai gaun lengan pendek selutut yang begitu pas hingga menampilkan lekukan tubuhnya. Rambutnya tergerai dengan jepitan bunga di sisi kiri. Wajah imut Nadira terlihat begitu kentara, berbeda dengan saat dirinya memakai pakaian kerja yang membuatnya terlihat lebih dewasa.
Setelah memastikan penampilannya sempurna, Nadira segera turun dan berjalan menuju ke dapur. Arum yang baru saja menutup tempat bekal makanan, tersenyum simpul melihat majikannya yang terlihat begitu cantik.
Sekarang, Nadira tinggal di Mansion Alexander, karena Alvino sudah tinggal di rumahnya sendiri, sedangkan Febian memilih tetap tinggal di Bandung. Nadira pun meminta Arum menjadi kepala pelayan di Mansion Alexander, menggantikan posisi Felisa yang kini sudah mendekam di balik jeruji besi
"Sudah siap, Mbak?" tanya Nadira.
"Sudah, Nyonya Muda." Arum menyerahkan tempat bekal itu kepada Nadira yang langsung meraihnya. Nadira menatap jam di dinding, jam makan siang tinggal setengah jam lagi. Dia berharap semoga tidak terlambat sampai ke kantor suaminya.
Setelah menenteng bekal itu, Nadira berjalan dengan tergesa keluar mansion. Setelah sampai di samping mobilnya, dia segera duduk di balik setir kemudi, lalu menaruh bekal itu di kursi sebelahnya. Nadira pun melajukan mobil itu dengan cukup kencang.
***
Nathan yang baru saja bertemu client bersama Jasmin dan mereka langsung makan siang bersama. Namun, Nathan menghentikan kunyahannya saat merasakan ponsel yang berada di saku jas, sedari tadi terasa bergetar. Raut wajah Nathan langsung terlihat cemas saat melihat nama istrinya tertera di layar. Entah kenapa, perasaannya mendadak tidak nyaman.
"Maaf, aku izin mengangkat panggilan dari istriku." Nathan bicara dengan sopan. Kedua orang client nya hanya mengangguk mengiyakan.
"Kak Nathan tidak di kantor?" Suara Nadira terdengar begitu lirih.
"Aku habis bertemu client dan sekarang kita sedang makan siang. Ada apa, Sayang?" tanya Nathan lembut.
"Enggak papa, Kak. Kalau gitu aku pulang aja, ya."
"Pulang? Maksud kamu?"
"Aku sekarang di kantor Kak Nathan, bawa bekal makan siang, tapi katanya Kak Nathan sedang keluar. Kalau gitu aku pulang aja, Kak. Aku makan siang sama Mbak Arum aja."
__ADS_1
"Kamu sekarang di kantor? Tunggu aku sebentar lagi. Aku akan ke kantor sekarang. Kebetulan restorannya tidak jauh."
"Enggak usah, Kak. Enggak sopan kalau Kakak pergi gitu aja pas lagi bertemu client. Udah nanti aja kita makan malam bersama."
"Atau kamu ke sini saja, Sayang? Aku kirim lokasinya."
"Enggak, Kak. Nanti aku ganggu." Nadira tertawa renyah.
"Enggak ganggu, Sayang. Sekarang gini aja, kamu mau menyusul ke sini, atau tetap menunggu di ruanganku?" Nathan memberi pilihan.
"Aku menunggu di sini saja, deh, tapi Kak Nathan jangan buru-buru ya."
"Baik, Sayang. Aku matikan dulu. Aku mencintaimu." Nathan kembali menyimpan ponselnya di saku jas.
"Maaf, sepertinya aku harus segera kembali ke kantor." Nathan bicara dengan sedikit tak enak hati. Kedua lelaki di depannya tersenyum lebar.
***
"Kak Nathan bisakah sedikit pelan?" kata Jasmin ketus, karena Nathan melajukan mobilnya dengan kencang.
"Ingat, Jas! Istriku menunggu!" sahut Nathan tak kalah ketus.
"Oh astaga! Kenapa Kak Nathan begitu bucin!" Nathan tidak menimpali dan hanya fokus dengan kemudinya. "Nona Nadira pasti menunggu kita, Kak. Jangan teburu-buru."
"Diamlah, Jas!" Suara Nathan yang meninggi membuat mulut Jasmin terbungkam seketika. Sebenarnya, bukan karena Nadira sedang menunggu saat ini, tapi dirinya ingin memastikan istrinya dalam keadaan baik-baik saja. Hati Nathan merasa begitu khawatir sejak mendengar suara Nadira di telepon tadi.
Nathan memarkirkan mobilnya secara sembarangan, lalu keluar meninggalkan Jasmin begitu saja. Jasmin menghembuskan napas lega karena bisa selamat sampai ke kantor.
__ADS_1
Para karyawan Saputra Group yang baru saja kembali dari istirahat makan siang, menatap heran ke arah atasannya yang begitu terburu seperti dikejar hantu. Namun, Nathan tak peduli dan tetap melangkah lebar.
"Sayang!" Nathan membuka pintu ruangan dengan keras. Nadira yang sedang duduk di sofa sambil mengusap keningnya, sampai terlonjak kaget.
"Kak Nathan," panggil Nadira, tapi dia langsung terdiam saat Nathan menarik tubuhnya masuk dalam dekapan lelaki itu.
"Syukurlah kamu baik-baik saja." Nathan menghembuskan napas lega.
"Kak Nathan kenapa?" tanya Nadira bingung. Nathan tidak langsung menjawab, tapi mengeratkan pelukan itu.
"Hatiku gelisah setelah mendengar suaramu. Aku takut terjadi apa-apa denganmu," sahut Nathan tanpa melerai pelukannya.
"A-aku baik-baik saja, Kak." Nadira gugup. Sesungguhnya, dirinya tidak baik-baik saja karena mengalami sedikit masalah di jalan tadi. Dia tidak menyangka kalau suaminya bisa memiliki perasaan sekuat itu padanya.
Mendengar suara Nadira yang gugup, justru membuat Nathan curiga. Dia segera melepas pelukan itu dan mengamati seluruh tubuh istrinya. Namun, tatapan Nathan terlihat menajam saat melihat kening Nadira yang terlihat memar, sedangkan Nadira hanya bisa menelan ludahnya kasar.
"Katakan dengan sejujurnya, Nad!"
πππ
Wahh kok sepi sih π Ayolah, jangan terlalu sepi untuk Othor yang suka Heboh ini eh maksudku Kalem ππ
Mampir ke Chat Story Othor yukk
Jangan lupa beri dukungan ya
__ADS_1