
Mike secara diam-diam menghubungi anak buahnya supaya menangkap Sabrina. Lelaki itu merasa begitu geram, dan dia harus memberi pembalasan untuk mulut lancang wanita itu. Seusai mengirim pesan, Mike melajukan mobilnya menuju ke pusat perbelanjaan.
"Mike," panggil Cacha lirih. Mike menoleh sekilas ke arah Cacha yang sedang menunduk, lalu kembali fokus di jalan depan.
"Ada apa?" tanya Mike, setelah menunggu beberapa saat, Cacha tidak lagi membuka suara.
"Kenapa kamu tidak mengatakan kalau kamu ini suamiku? Apa kamu tidak mengakui aku ini istrimu?" Suara Cacha terdengar begitu berat. Mike tidak langsung menjawab, dia fokus pada jalanan, mencari tempat yang sepi untuk menghentikan mobilnya.
"Bukan aku tidak mau mengakui hubungan kita, aku tidak mau kamu malu punya suami setua aku," sahut Mike. Setelah menepikan mobilnya di jalan sepi.
"Aku tidak akan malu, Mike." Suara Cacha terdengar kesal dan penuh penekanan.
"Aku tidak mau kamu menjadi bahan hinaan. Wanita tadi bilang kalau kamu ini simpanan om-om, bagaimana kalau dia tahu aku ini ternyata suamimu, apalagi aku dulu hanyalah seorang anak buah. Pasti dia akan semakin menghinamu." Mike berusaha memberi penjelasan, tetapi Cacha justru menggeleng cepat.
"Aku tidak peduli dengan mulut Sabrina, Mike! Seharusnya kamu tadi berkata jujur kalau kamu adalah suamiku!"
"Dan kamu akan menjadi bahan hinaan setelahnya?" timpal Mike.
__ADS_1
"Masa bodoh! Yang penting aku ingin semua orang tahu kalau kamu ini suamiku! Bukan sugar dady ataupun anak buah! Terserah mereka akan berkata apa!" seru Cacha. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca.
Mike menarik tubuh Cacha masuk dalam dekapannya, sedangkan Cacha justru terisak. Pelukan Mike pun semakin terasa mengerat bahkan lelaki itu beberapa kali mencium puncak kepala istrinya.
"Maafkan aku yang terlalu khawatir kalau kamu akan jadi bahan hinaan," ucap Mike dengan lembut.
"Jangan ulangi lagi. Lain kali, bilang saja kalau aku ini istri kecilmu. Aku justru akan sangat bahagia," sahut Cacha. Dia membalas pelukan Mike, dan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Baiklah. Sekarang diam dan berhentilah menangis. Apa kamu tidak malu dengan pistol di tanganmu kalau kamu secengeng ini?" tanya Mike menggoda. Dengan gemas, Cacha memukul dada bidang suaminya yang saat ini justru sedang tergelak.
"Aku bukan gadis kecil yang cengeng seperti dulu, Mike," bantah Cacha tidak terima.
"Urusan apa?" tanya Cacha penasaran.
"Tadi anak buahku mengabari kalau ada sedikit masalah, dan aku akan pergi untuk menyelesaikannya," sahut Mike. Lelaki itu berusaha supaya tetap terlihat tenang.
"Aku ikut!" cetus Cacha cepat, tetapi Mike langsung menggeleng.
__ADS_1
"Tidak! Kamu sudah pergi seharian, aku tidak mau kamu kelelahan. Jadi, setelah ini aku akan mengantarmu pulang saja," ucap Mike.
"Tapi, Mike ...."
"Jadilah istri yang baik. Aku tidak akan macam-macam. Aku janji, setelah urusanku selesai, aku akan langsung pulang. Aku mencintaimu!" Mike mendaratkan ciuman cukup lama di kening istrinya. Kemudian, dia melajukan kembali mobilnya menuju ke pusat perbelanjaan.
***
Sabrina segera pergi dari restoran tersebut setelah mobil yang ditumpangi Cacha, lenyap dari pandangan. Dia berjalan kembali ke rumah di daerah gang sempit. Selain karena Cacha pernah mengambil cinta James darinya, Sabrina juga begitu iri dengan kehidupan Cacha yang berasal dari keluarga kaya.
Ketika sedang melewati gang, tiba-tiba terlihat dua orang bertubuh kekar berjalan mendekat. Sabrina menghentikan langkahnya, dan merasa waswas. Apalagi saat melihat tampang mereka yang terlihat begitu datar. Sabrina berbalik dan hendak berlari pergi, tetapi salah satu di antara mereka berhasil mencekal tangannya.
"Lepasin! Kalian siapa!" Sabrina meronta, tetapi kalah tenaga.
"Ikut kami! Bos ingin memberi kejutan untukmu," ucap salah satu di antara mereka.
"Bos? Aku tidak kenal bos kalian!" pekik Sabrina, masih terus meronta.
__ADS_1
"Kamu memang tidak mengenalnya, tetapi kamu sudah berani menghina istri bos!"
Sabrina berhenti meronta, dan menatap dua orang tersebut secara bergantian. Dia berusaha mengingat siapa yang mereka maksud. Namun, tiba-tiba tubuh Sabrina terkulai lemas saat salah satu di antara mereka, menutup mulutnya dengan kain yang sudah diberi obat bius.