Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
278


__ADS_3

Ara menghela napas panjang lalu mengembuskan dengan kasar untuk mengurangi rasa sesak di dada. Baru kali ini dirinya merasa begitu sakit hanya karena lelaki yang 'mungkin' sudah dia cintai masih menyimpan pakaian milik mantan kekasihnya. Ara berbalik dan mengambil gaun yang tadi. Dia memasukkan kembali gaun tersebut ke tempat semula.


Kalian sudah putus bertahun-tahun, tetapi kamu masih menyimpan pakaiannya. Bahkan mungkin sampai saat ini hatimu masih menjadi miliknya.


Ara menghapus air mata yang mengalir dengan cepat. Dia tidak mau Febian sampai tahu kalau dirinya sedang menangis saat ini. Namun, terlambat. Lelaki itu sudah berdiri di belakangnya entah sejak kapan. Tangan Febian melingkar di perut Ara dengan erat hingga membuat wanita itu terkejut. Dengan cepat Ara menghapus air mata yang masih meninggalkan jejak di sana.


"Maafkan aku." Febian mengeratkan pelukannya dan menaruh kepala di ceruk leher istrinya.


"Kenapa kamu meminta maaf terus? Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun." Ara berusaha menormalkan suaranya.


"Aku tidak pernah membuka lemari ini sama sekali, bahkan aku lupa kalau ada baju wanita itu di sini."


"Dan sekarang kamu tiba-tiba mengingatnya?" sergah Ara. Febian seketika bungkam. "Mas, aku akan pulang sekarang. Sepertinya aku sudah terlalu lama meninggalkan bapak."


"Maafkan aku." Febian mengulangi. Ara berbalik dan menatap Febian dengan senyum menghiasi bibirnya. Ara menangkup wajah Febian dan menatap mata lelaki itu dengan dalam.


"Tidak perlu meminta maaf. Aku baik-baik saja." Ara sama sekali tidak menyurutkan senyumnya, tetapi itu justru membuat Febian semakin merasa bersalah. "Pakailah bajumu, Mas. Aku pulang dulu. Terima kasih sudah baik padaku selama ini." Ara mencium pipi Febian dengan lembut. Setelahnya, dia berjalan keluar kamar dan Febian hanya bisa terdiam melihat punggung istrinya yang perlahan menjauh.


"Aghhh bodoh!" Febian memukul lemari itu dan merutuki dirinya sendiri yang sudah bertindak begitu bodoh. Sebenarnya, pakaian ini sudah dia persiapkan jauh-jauh hari untuk Ara, berjaga-jaga kalau ada hal seperti tadi, tetapi Febian terlalu malu. Sialnya lagi, dia justru menyebut bahkan mengatakan baju itu milik Jasmin. Dia sendiri juga merasa heran kenapa tiba-tiba bisa menyebut nama wanita itu.


Dia memakai pakaian dengan cepat dan segera menyusul istrinya. Namun, wanita itu sudah tidak lagi terlihat. Febian pun bergegas keluar ruangan, tetapi dia justru bertubrukan dengan Leona yang baru saja masuk.


"Kak Bi, kenapa sih!" omel Leona.


"Di mana Ara?" tanya Febian tak sabar hingga membuat kening Ara mengerut.

__ADS_1


"Dia baru saja turun. Memangnya kenapa?" tanya Leona bingung. Bukannya menjawab, Febian justru berjalan cepat menuju ke lift untuk mengejar istrinya.


Sementara itu, Ara berjalan setengah berlari dengan membawa rantang yang telah kosong. Tanpa sengaja dia menabrak resepsionis tadi yang baru saja kembali setelah makan siang. Rantang yang dipegang Ara jatuh hingga menciptakan suara keras yang mampu mengalihkan perhatian beberapa karyawan.


"Bisakah kamu berjalan dengan baik?" teriak wanita itu.


"Ma-maafkan saya, Mbak." Ara mengambil rantang itu lalu berdiri setengah menunduk.


"Aku tidak tahu kenapa Tuan Febian bisa menikahi gadis kampung sepertimu. Apa kamu bermain pelet?" tukas wanita itu. Ara menggeleng dengan cepat.


"Saya permisi, Mbak." Ara hendak pergi, tetapi wanita itu menahan. Dia mengira kalau Febian sudah memulai rapat penting.


"Seharusnya kamu sadar diri, wanita sepertimu tidak sebanding dengan Tuan Febian! Kamu sangat berbeda jauh, apalagi dengan Nona Jasmin. Kamu bukanlah apa-apa!"


Ara meremas rantang dengan kuat saat merasakan hatinya berdenyut sakit. Kenapa lagi-lagi harus nama itu yang keluar?


"Baguslah kalau kamu sadar diri! Katakan sekarang, kamu memakai pelet 'kan! Atau kamu rela membuka pahamu lebar kepada Tuan Febian."


"Katakan sekali lagi!" Suara keras dari arah belakang berhasil membuat mereka terkejut. Tubuh wanita tadi gemetar hebat saat melihat Febian berjalan mendekat dengan sorot mata tajam dan rahang yang mengeras. Sementara Ara hanya berani menunduk dalam.


"Katakan sekali! Apa kamu tuli!" murka Febian. Rasanya dia seperti singa lapar yang berhadapan dengan mangsanya.


"Tu-Tuan, maafkan saya." Wanita itu bersimpuh di depan Febian dengan tangan tertangkup di depan dada.


"Berdirilah! Aku harus menampar mulut sialanmu itu!" Kemarahan Febian telah sampai pada puncaknya. Dia benar-benar tidak terima saat istrinya dihina seperti tadi.

__ADS_1


"Saya minta maaf, Tuan." Wanita itu menangis, Ara yang melihatnya menjadi tidak tega. Febian berdiri setengah jongkok lalu menampar wanita itu hingga membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Mas!" Ara menarik tubuh Febian hingga lelaki itu kembali berdiri. "Apa kamu tidak punya hati! Kenapa kamu menamparnya?"


"Dia sudah menghinamu!" balas Febian. Napasnya terdengar memburu karena menahan emosi.


"Dia tidak menghinaku, Mas. Apa yang dia katakan memang benar. Bukankah aku sangat berbeda dengan Nona Jasmin?" Nada bicara Ara melirih, dan itu mampu membuat hati Febian merasa tidak karuan.


"Ara ...," panggil Leona yang baru saja sampai sana.


"Mas, kalau kamu mau menampar, jangan tampar kejujuran wanita ini. Tapi tamparlah aku supaya aku bisa sadar diri!" Air mata Ara membasahi hampir seluruh wajahnya.


"Ara! Jangan berbicara seperti itu!" Leona berbicara tinggi, tetapi Ara tidak peduli.


Ara justru berjongkok dan menatap wanita tadi dengan iba. "Bangunlah, ayo aku bantu bersihkan lukamu, Mbak." Ara berbicara dengan lembut, membuat wanita tadi semakin terdiam.


Febian tidak bersuara, hanya menarik paksa tubuh Ara supaya berdiri dan memeluknya dengan erat. Dia tidak peduli meski Ara terus saja meronta, dan justru semakin mengeratkan pelukan itu.


"Bukankah kamu ada rapat? Pergilah, jangan sampai kamu terlambat."


Febian tidak menjawab, dia justru membopong Ara. "Le, bilang pada klien kita rapat ditunda besok pagi. Beri pelajaran juga pada wanita ini! Beri dia surat pemecatan, pesangon dan juga blacklist!" titah Febian.


"Baiklah," sahut Leona. Dia menghela napas panjang saat melihat semuanya. Namun, dia merasa bahagia karena semua ini membuktikan kalau Febian sudah mencintai Ara, dan itu sangat membuatnya bahagia.


Febian berjalan keluar kantor tanpa peduli pada wanita tadi yang terus saja memohon. Dia masuk ke mobil dan duduk di belakang bersama Ara. Sopir pribadi Ara pun ikut masuk dan melajukan mobil menuju ke apartemen sesuai perintah majikannya. Selama dalam perjalanan, Ara hanya membisu bahkan dia tidak menatap suaminya sama sekali.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja?" tanya Febian sambil mengusap pipi Ara dengan lembut untuk menghapus air mata wanita itu. Ara sama sekali tidak menjawab, dan dia berusaha menghindari tatapan Febian.


__ADS_2