Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
111


__ADS_3

Ketika suara Mike masuk ke pendengarannya, Cacha segera melepas pelukan Rendra. Dia menghapus airmatanya, lalu tersenyum ke arah Mike seolah semua baik-baik saja.


"Aku tidak apa-apa, Mike. Kamu tenang saja," kata Cacha. Namun, Mike tidak percaya begitu saja, apalagi mendengar suara Cacha yang bergetar.


"Anda berangkat dengan saya saja, Nona?" Mike menawarkan diri, tapi Cacha langsung menggeleng cepat.


"Tidak, Mike. Aku sudah janji akan berangkat dengan Mas Rendra," tolak Cacha. Mike menatap tajam ke arah Rendra yang sedari tadi hanya diam saja.


"Baiklah kalau itu mau Anda, Nona. Berhati-hatilah." Mike mau tidak mau akhirnya menyetujui. "Tuan Rendra, saya harap Anda lebih berhati-hati lagi. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Nona Muda, saya tidak akan segan-segan menghabisi nyawa Anda!" Mike memberi ultimatum.


"Sudah, Mike. Aku yakin Mas Rendra pasti akan menjagaku dengan baik," kata Cacha. Hati Mike semakin terasa memanas saat mendengar pembelaan Cacha untuk Rendra.


"Kamu tenang saja, Mike. Aku pasti akan lebih berhati-hati." Rendra akhirnya membuka suara sebelum melajukan mobilnya kembali.


Tangan Mike terkepal erat saat melihat mobil Rendra mulai perlahan menghilang dari pandangan.


Semoga Anda tidak lagi jatuh pada lelaki yang salah, Nona.


***


Johan baru saja selesai berolahraga bersama Mila. Tubuhnya sudah terlihat segar karena baru selesai membersihkan diri. Dia berjalan mendekati Mila yang sedang sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


"Kamu sudah selesai, Mas?" tanya Mila. Johan hanya mengiyakan.


"Aku akan keluar sebentar, Mil. Tuan Bastian mengajakku bertemu." Kening Mila terlihat mengerut saat mendengar ucapan Johan, bahkan dia menatap penuh tanya ke arah suaminya.


"Tuan Bastian?" tanya Mila, berusaha mengingat nama yang tidak asing baginya.


"Ya. Bastian Alfareza, ayah Rendra," jelas Johan. Mila mengangguk paham. "Kata beliau ada hal penting yang ingin dibicarakan," imbuhnya.


"Baiklah. Jangan lupa selalu kabari aku, Mas." Johan yang sudah berpakaian rapi, tak lupa mengecup kening Mila sebelum keluar kamar.


"Pasti!" ucap Johan yakin. Dia melangkah keluar kamar, menuju ke garasi lalu melajukan mobilnya menuju ke restoran yang telah ditentukan oleh Bastian untuk bertemu.


"Maaf membuat Anda menunggu, Tuan." Johan yang sudah berdiri di samping Bastian, segera menyalami lelaki paruh baya yang hampir seusia dengannya.


"Saya yang minta maaf karena sudah mengganggu waktu Anda, Tuan." Bastian membalas tidak kalah sopan. "Silakan duduk."


Johan pun segera mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di depan Bastian. Seorang pelayan mendatangi meja mereka untuk mencatat pesanan.


"Ada perlu apa Anda menemui saya, Tuan?" tanya Johan setelah pelayan restoran itu pergi.


"Mungkin lebih baik kita ngobrol ringan dulu sebelum makan. Nanti setelah selesai makan, saya ingin bicara serius dengan Anda," tutur Bastian.

__ADS_1


Johan pun hanya mengiyakan meski dalam hati dia merasa begitu ragu. Perasaannya mendadak tidak nyaman saat Bastian mengatakan akan berbicara serius karena selama ini hubungan mereka tidaklah dekat.


Dua lelaki paruh baya itu pun saling mengobrol tentang pekerjaan dan kegiatan yang sering dilakukan saat ini sembari menyantap makanan yang baru saja tersaji.


Ketika makanan di piring telah habis, Johan segera membalik sendok dan meminum segelas air putih di sampingnya. Bastian pun melakukan hal yang sama.


"Anda sudah selesai, Tuan?" tanya Bastian meski dia telah melihat Johan sudah membalik sendok.


"Sudah. Katakan apa yang ingin Anda sampaikan karena kebetulan saya masih ada urusan," kata Johan dengan tenang.


"Baiklah. Jadi, saya mengajak bertemu untuk membahas tentang hubungan putra putri kita," kata Bastian. Raut wajah Johan terlihat begitu terkejut.


"Hubungan putra putri kita? Maksudnya?" tanya Johan masih belum paham.


"Apa Anda belum tahu kalau putra putri kita, Nak Cacha dan Rendra sudah berpacaran?" Bastian justru bertanya balik.


"Tidak!" jawab Johan sedikit ketus. "Saya tidak tahu kalau putri saya menjalani hubungan dengan siapa pun," ucap Johan dengan heran.


"Mungkin Nak Cacha belum berani bercerita. Mereka bilang sudah berpacaran selama sebulan dan saya takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi, saya berniat melamar putri Anda untuk Rendra anak saya." Johan semakin terkejut mendengar perkataan Bastian.


"Melamar Cacha?" tanya Johan memastikan pendengarannya tidaklah salah, Bastian hanya mengangguk mengiyakan dengan bibir tersenyum simpul.

__ADS_1


__ADS_2