
Johan mendengkus kasar saat Mila menariknya menuju ke dapur padahal dirinya baru saja terlelap. Dia tidak percaya saat istrinya mengatakan kalau melihat hantu di sana. Setelah sampai, Mila dan Johan terdiam melihat Nathan dan Nadira terlihat sibuk membuat martabak dengan wajah masih penuh tepung.
"Lihatlah, Mas. Hantunya sedang masak," adu Mila dengan satu tangan menutup wajahnya. Johan mengembuskan napas kasar lalu menyentil kening Mila saking gemasnya.
"Sakit, Mas." Mila merengek sambil mengusap keningnya.
"Apa kamu tidak bisa melihat dengan baik kalau mereka adalah anak kita?" tanya Johan berusaha menahan amarahnya. Mila termangu, lalu menoleh dan kembali mencermati wajah mereka.
"Kamu Nathan dan Nadira?" Mila berjalan mendekat masih dengan tidak percaya.
"Memang Bunda pikir siapa?" tanya Nathan ketus, lelaki itu terlihat sibuk mengiris daun bawang sebagai isian martabak.
"Bunda pikir setan kawin tadi." Mila menjawab santai. Nathan dan Nadira hanya menggeleng. "Kalian sedang bikin apa?"
"Nadira pengen martabak spesial, Bun." Nathan masih sibuk dengan kegiatannya.
"Wah, enak tuh. Bunda juga habis ngerasain yang spesial sosis jumbo dengan dua telur," seloroh Mila. Johan yang mendengar itu lebih memilih pergi dari sana daripada harus mendengar ucapan Mila yang membuatnya mengelus dada.
"Kenapa Nadira tidak dikasih, Bun?" Nadira merengek manja.
"Ohh tentu saja tidak boleh karena itu khusus untuk bunda." Mila melipat bibir menahan tawa.
"Kenapa begitu?" tanya Nadira penasaran.
"Karena punya Ayah Johan hanya untuk bunda seorang." Mila tergelak, sedangkan Nadira memutar bola mata malas.
"Punya Nathan juga khususon buat Nadira seorang, Bun." Nathan menimpali.
"Harus dong, kalau sampai burungmu masuk sarang sembarangan, bakalan bunda sunati lagi, Nat." Mila bicara dengan mengancam.
"Burungnya mana Oma?"
"Astaga!" Mila mengusap dada karena terkejut mendengar pertanyaan Bobby. "Sejak kapan kamu di sini?" tanya Mila.
"Sejak Oma bilang burung papi masuk sarang sembarangan," jawab Bobby polos, "memangnya papi punya burung, Oma?" tanya itu lagi.
"Y-ya." Mila menjawab asal.
"Mana? Bobby juga pengen lihat," kata bocah itu lagi.
"Sudah, Bob. Kamu ini anak kecil kenapa bangun jam segini?" Nadira mendekati putranya lalu mengusap pipi bocah itu.
"Bobby mau tidur sama Mommy dan Adek," rengeknya. Nadira tersenyum saat mendengarnya.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita tidur." Nadira berjalan meninggalkan dapur bersama Bobby.
"Nat," panggil Mila setengah berbisik.
"Apa, Bun?" tanya Nathan tanpa menghentikan kegiatannya yang sedang mengocok telur.
"Kamu tadi anu-anu di dapur gitu emang enak rasanya?" Pertanyaan Mila membuat Nathan mengembuskan napas kasar.
"Mana tahu aku. Bunda sih barusan rusuh, padahal bentar lagi Nathan bakal celup keris setelah sebulan libur." Nathan mendecakkan lidahnya karena kesal saat teringat pertempuran panas yang barusan gagal.
"Betah banget kamu sebulan enggak icik icik ehem," ucap Mila tidak percaya.
"Keadaan, Bun. Nadira tidak mau disentuh sama sekali." Nathan mendengkus kasar saat teringat bagaimana dirinya hampir setiap malam olahraga tangan.
"Mil, kamu tidak ingin kembali ke kamar?" Suara Johan dari ambang pintu membuat ibu dan anak itu terkejut.
"Kukira kamu sudah tidur lagi, Mas." Mila berjalan mendekati Johan.
"Bagaimana aku bisa tidur kalau kamu belum juga kembali dan justru ghibah dengan putra kesayanganmu," sindir Johan. Mila hanya terkekeh saat melihat wajah suaminya yang tampak sangat kesal.
"Aku tidak ghibah, Mas. Aku hanya sedang bertanya apakah anu di dapur itu enak," celoteh Mila tanpa malu.
"Mil, ingat umur." Johan berusaha memperingati, tetapi Mila justru melingkarkan tangan di leher suaminya dan mencium pipi lelaki itu dengan sangat lembut. Johan merutuki dirinya yang selalu tidak kuasa menahan hasrat saat Mila mulai menyentuhnya seperti ini.
"Bunda! Jangan nodai mata suciku!" protes Nathan tidak terima.
"Kamu pikir matamu itu masih suci setelah melihat apem tembem Nadira?" balas Mila. Johan mengusap kening saat mendengarnya, rasanya dia merasa begitu pusing.
"Bun—"
"Diamlah, Nat! Nanti bunda ajari gaya baru." Mila menaik-turunkan alis menggoda.
"Gaya apa, Bun?" tanya Nathan tak sabar.
"Cicak kawin!" sahut Mila santai
"Asekkk."
"Mila!"
***
Febian sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Dia memakai dasi sendiri, sedangkan Ara duduk di tepi tempat tidur menatap suaminya.
__ADS_1
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Febian setelah selesai menyimpulkan ikatan dasinya.
"Tidak apa, aku ingin sekali bisa memakaikan dasi padamu, tapi aku belum bisa melakukannya." Ara berkata jujur, Febian yang mendengarnya hanya tersenyum simpul sambil berjalan mendekati Ara.
"Aku sudah terbiasa sendiri, tapi kalau kamu mau belajar, besok aku ajari. Sekarang aku ada rapat penting." Febian mendaratkan ciuman di puncak kepala Ara.
"Kamu berjanji?" Ara mengarahkan telunjuk padanya, Febian pun dengan segera menautkan dengan telunjuk miliknya.
"Aku berangkat." Febian berjalan keluar kamar diikuti Ara di belakang.
"Kamu tidak sarapan?" Febian tersenyum lebar saat merasakan betapa cerewetnya Ara.
"Aku sarapan di kantor saja. Nanti kamu bisa ke kantor dan bawakan aku makan siang," ucap Febian.
"Baiklah, kamu mau makan apa?" tanya Ara lagi.
Febian menghela napas panjangnya, "Apa pun masakanmu, aku pasti akan memakannya." Febian mencium kening Ara, sedangkan wanita itu mencium punggung tangan suaminya.
Setelah bayangan mobil Febian menghilang dari pandangan, Ara segera masuk kembali untuk mengurusi ayahnya yang sekarang mulai ada perkembangan. Ara merasa bahagia saat sang ayah sudah mulai menunjukkan perkembangan.
Ketika selesai mengurusi ayahnya, Ara beralih ke dapur dan menyiapkan makan siang untuk suaminya. Meskipun di sana sudah ada pelayan yang khusus untuk menyiapkan makanan, tetapi Ara ingin membuat makanan yang spesial dengan tangannya sendiri.
"Ini mau dimasukkan ke rantang saja, Nyonya?" tanya pelayan yang membantu Ara.
"Iya, Bi. Aku siap-siap dulu." Ara beranjak ke kamar dan membersihkan diri lalu bersiap untuk ke kantor mengantar makanan itu.
Baru saja keluar dari rumah, seorang lelaki dengan kemeja biru dongker berjalan mendekati Ara. Lelaki itu membungkuk hormat di depan Ara yang langsung menatap heran.
"Anda mau ke kantor sekarang, Nyonya?" tanya lelaki itu sopan.
"Iya, Bapak siapa?" tanya balik Ara.
"Saya sopir pribadi Anda, Nyonya. Yang akan mengantar Anda ke mana saja." Lelaki itu masih berbicara sopan. Ara hanya mengangguk lalu masuk ke mobil.
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang menuju ke perusahaan Alexander cabang Bandung. Setelah sampai di pelataran perusahaan, Ara bergegas turun dan berjalan menuju ke meja resepsionis.
"Mbak, apa Mas Febian ada di ruangannya?" tanya Ara sopan.
"Ada, tinggal naik saja." Wanita itu menjawab sedikit ketus. Ara pun berbalik dan hendak pergi, tetapi ucapan resepsionis itu berhasil menghentikan langkahnya.
"Bagaimana bisa seorang office girl yang baru bekerja belum ada sebulan sudah langsung menikah dengan presiden direktur," ucap salah seorang resepsionis itu.
"Aku yakin kalau dia memakai guna-guna," ucap yang satunya lagi. Ara yang mendengar itu hanya meremas rantang yang masih berada dalam pegangannya.
__ADS_1