Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
271


__ADS_3

Febian bergegas keluar kantor dan melihat Leona sedang duduk di kursi tamu yang berada di lobby, sedangkan Ara tertidur di sana dengan wajah yang tampak pucat. Beberapa karyawan pun hanya melihat dari jarak yang tidak begitu jauh.


"Kenapa kamu tidak membawanya ke rumah sakit, Le!" bentak Febian saking khawatirnya.


"Aku mana kuat, Kak!" timpal Leona tidak terima.


"Kamu bisa minta tolong orang lain!" Leona mendengkus kasar saat mendengar Febian yang masih saja marah-marah.


"Kalau Kak Bi ngomel mulu kaya emak-emak, yang ada Ara semakin lama pingsan." Ucapan Leona menyadarkan Febian yang langsung membopong Ara dan melarikannya ke rumah sakit. Raut cemas terlihat memenuhi wajah Febian saat melihat wajah Ara yang begitu pucat.


"Bertahanlah sebentar lagi. Kamu harus baik-baik saja." Febian terus bergumam disela konsentrasinya menyetir.


Sesampainya di rumah sakit, Febian kembali membopong Ara masuk ke ruang IGD untuk segera diperiksa. Hampir sepuluh menit menunggu, akhirnya Febian bernapas lega saat melihat kedua mata Ara yang sudah terbuka.


"Tuan saya di mana?" tanya Ara lirih. Dia masih merasakan nyeri di hidungnya, tetapi darah tidak lagi keluar dari sana.


"Kamu di rumah sakit karena pingsan. Mungkinkah karena terbentur meja?" tanya balik Febian penuh khawatir. Ara menggeleng lemah, tetapi tiba-tiba perutnya berbunyi keras hingga membuat Febian dan para perawat terbengong sesaat. Sementara Ara menutup wajahnya karena malu.


"Tuan, sepertinya gadis ini pingsan bukan karena mimisan, tapi karena lapar," ucap salah satu perawat dengan bibir terlipat menahan tawa. Rasanya Ara ingin sekali berlari pergi dari sana saat itu juga.


"Apa benar?" tanya Febian memastikan.


"Maaf, Tuan. Saya memang belum sarapan," sahut Ara polos. Febian kembali melongo sebelum akhirnya mengacak rambut Ara dengan gemas.


"Biar aku carikan sarapan untukmu. Aku yakin kalau kamu tidak suka makanan rumah sakit," tebak Febian. Senyum Ara terlihat mengembang di kedua sudut bibirnya.


"Tuan, bolehkah saya di tempat bapak saja?" pinta Ara ragu. Febian terdiam, beberapa saat kemudian ia mengangguk cepat dan mengantar Ara ke tempat di mana ayahnya dirawat. Sementara Febian menyuruh salah satu anak buahnya untuk mencarikan sarapan.


***


Febian membiarkan Ara tetap di rumah sakit menunggu ayahnya, bahkan dia sudah memecat gadis yang sebentar lagi akan menjadi istri sahnya tersebut. Ara menolak dan tetap ingin bekerja, tetapi dengan sedikit ancaman, akhirnya gadis itu menerima dan mulai fokus menemani sang ayah yang masih terus melakukan terapi.

__ADS_1


"Di mana dia?" tanya Febian dengan suara dan wajah yang tampak begitu datar.


"Masih di lantai bawah, Tuan," sahut salah seorang anak buah Febian.


"Suruh dia masuk ke ruanganku saat ini juga!" perintah Febian. Lelaki itu hanya mengangguk mengiyakan.


"Wanita itu akan diberi hukuman apa, Kak?" tanya Leona penasaran.


"Hukuman yang setimpal tentu saja!" tegas Febian. Leona hanya mengangguk dan duduk tenang di kursinya.


"Kenapa kamu sudah kembali, Le? Sudah puaskah kamu berbulan madu?" tanya Febian setengah meledek.


"Jangan berpura-pura tidak tahu, Kak. Kamu pikir aku bulan madu cuma sebentar demi pernikahan siapa?" ketus Leona dengan bibir mengerucut.


Sedang asyik berbincang, terdengar pintu diketuk. Setelah Febian menyuruh masuk, terlihat Diska dan Sekar yang ditarik paksa oleh anak buah Febian. Ketika melihat Febian yang melayangkan tatapan tajam padanya, kedua gadis itu langsung duduk bersimpuh dan mengatakan kata maaf berkali-kali.


"Di mana keberanian kalian?" tanya Febian membentak.


"Aku yakin kalau ada hal yang membuat Ara melakukan itu," ucap Febian masih dengan raut datarnya.


"Lihat saja CCTV, Kak." Leona memberi saran. Febian pun segera melihat CCTV yang terpasang di ruangan itu.


"Kamu! Katakan apa yang temanmu ini katakan, kenapa Ara langsung menamparnya begitu saja?" Sekar terlihat begitu gugup saat telunjuk Febian mengarah padanya.


"Jangan berusaha berbohong demi temanmu. Kalau kamu sampai berani melakukannya maka hukuman untukmu menjadi dua kali lipat." Leona memberi ancaman. Sekar pun ketakutan dan dia dengan jujur mengatakan semuanya.


"Berani sekali kamu menuduh Ara naik ke ranjangku!" Febian menggebrak meja dengan kencang hingga membuat Diska dan Sekar terlonjak.


"Ma-maaf, Tuan." Diska benar-benar tergagap ketakutan.


"Baiklah. Kalian dipecat dari sini dan hanya mendapat pesangon. Nama kalian aku blacklist dari perusahaan mana pun!" kata Febian tegas.

__ADS_1


"Tuan, saya mohon jangan lakukan itu." Diska begitu memohon, tetapi Febian tidak peduli dan justru bangkit berdiri. .


"Bawa mereka keluar dari sini!" titah Febian, anak buahnya pun kembali memaksa Diska dan Sekar untuk keluar dari sana.


Setelah pintu ruangan tertutup rapat, terdengar embusan napas kasar dari mulut Febian. Kening Ara terlihat mengerut saat mendengarnya apalagi saat melihat raut wajah Febian yang tampak gelisah.


"Kak, kamu yakin akan menikahi Ara? Aku tidak rela kalau Kak Bi sampai menyakitinya," ucap Leona dengan sedikit membuka matanya lebar.


"Aku akan belajar mencintainya, Le! Aku juga tidak tahu kenapa waktu pertama kali melihat dia, langsung merasa tertarik padanya." Febian tersenyum saat teringat pertemuannya dengan Ara malam itu.


"Ciee, yang lagi jatuh cinta. Senyum-senyum sendiri kaya orang gila," celetuk Leona begitu saja. Febian menatap tajam ke arahnya, tetapi Leona tidak takut dan justru tergelak keras. "Aku yakin kalau Kak Bi sudah jatuh cinta dengan Ara sejak pertama kali berjumpa. Love at first sight kalau bahasa gaulnya. Kalau tidak mana mungkin Kak Bi rela mengeluarkan uang seratus juta begitu saja."


"Diamlah anak kecil!" bentak Febian kesal.


"Kak Bi! Ingat, ya, aku ini bukan lagi anak kecil. Aku udah ngerasain nikmatnya surga dunia. Enggak kaya Kak Bi yang belum ngerasain sama sekali," ledek Leona. Sebuah pulpen mendarat bebas di kening Leona hingga membuatnya mengaduh kesakitan.


"Mulutmu lama-lama kaya Kak Nathan, Kaleng Rombeng," cibir Febian.


"Tapi beneran, Kak. Kalau udah tahu rasanya Kak Bi bakalan nyesel kenapa baru nikah sekarang, kenapa enggak dari dulu aja sih," goda Leona, berusaha menahan tawa.


"Memangnya kenapa?" tanya Febian penuh selidik.


"Karena ternyata malam pertama itu rasanya bukan hanya enak, tapi enaakkkk bangeett tauuu!!" Leona tergelak keras setelah menirukan salah satu iklan di televisi, sedangkan Febian yang hendak marah pun akhirnya tak kuasa menahan tawa. Dia berjalan mendekati Leona dan menyentil kening gadis itu dengan perasaan bercampur aduk.


"Sumpah, aku yakin kalau Bara harus selalu sabar ngadepin gadis menyebalkan seperti kamu," cebik Febian disela tawanya.


***


Masih mau lanjut enggak nih?


satu bab lagi nanti malam kalau Othor enggak sunah Rosul ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

__ADS_1


__ADS_2