Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
161


__ADS_3

Kebahagiaan mereka semakin terasa lengkap sejak kabar kehamilan Queen diketahui seluruh anggota keluarga. Bahkan Marvel dan Shania sampai menangis haru karena ini adalah calon cucu pertama mereka.


Banyak nasihat yang diberikan pada Queen, bahkan sampai wanita tersebut merasa jengah meski dia tahu semua untuk kebaikannya. Ada suka ada duka. Jika Queen sedang berbahagia dengan kehamilannya berbeda dengan Ana yang justru semakin sering menangis karena dirinya belum juga diberi amanah untuk menimang seorang putra.


Ana sering menangis saat malam hari, apalagi ada desakan orang tua Kenan yang terus saja meminta cucu karena Kenan merupakan putra mereka satu-satunya.


Seperti saat ini, wajah sembab Ana tidak bisa membohongi kalau wanita itu sedang bersedih hati. Bahkan, tampak terlihat jelas jejak air mata di wajah cantiknya. Kenan yang baru saja pulang dari kantor pun merasa begitu heran. Dia berjalan mendekati sang istri yang sedang duduk di tepi tempat tidur dengan memegang foto pernikahan mereka.


"Sayang, kenapa kamu menangis?" tanya Kenan khawatir. Dia menangkup kedua pipi Ana dan mengusap bekas air mata dengan gerakan perlahan.


"Mas, maukah kamu bercerai denganku?"


Pertanyaan yang terlontar dari mulut Ana, seolah membuat jantung Kenan berhenti berdetak dan aliran darahnya seperti terhenti seketika.


"Kenapa kamu bilang seperti itu?" Kenan balik bertanya dengan berusaha mengontrol emosi yang terasa begitu membuncah. Ini bukan pertama kali istrinya meminta cerai dan Kenan sangat membencinya.


"Mas, aku ini tidak bisa menjadi istri yang baik dan sempurna untukmu. Aku ini tidak bisa memberi kamu putra apalagi cucu untuk papa mama. Aku sudah gagal, Mas." Suara Ana terdengar begitu parau. Cairan bening pun mulai membasahi wajah cantiknya lagi.


"Sayang, percayalah kalau sebentar lagi kita akan segera mendapatkannya." Kenan berusaha meyakinkan istrinya.


"Aku tidak yakin, Mas. Sudah dua tahun lebih, nyatanya dia sama sekali tidak mau hadir. Ceraikan aku dan menikahlah dengan wanita yang bisa memberikanmu keturunan," ucap Ana lirih.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah menceraikanmu! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengucapkan talak padamu!" tegas Kenan. Dia menurunkan tangannya dan menatap istrinya dengan sangat dalam.


"Kalau begitu menikahlah lagi. Aku bersedia dimadu, kasihan mama dan papa, mereka sudah menginginkan cucu." Ana menunduk, tidak berani menatap suaminya yang tatapannya mulai menajam ke arahnya.


"Ana, aku tidak akan pernah menceraikanmu ataupun menikah lagi! Hanya kamu, An! Hanya kamu satu-satunya yang kumau. Ada tidaknya seorang anak di antara kita, aku tetap akan mencintaimu." Suara Kenan begitu keras, tetapi terdengar lirih pada akhirnya.


Lelaki itu menarik tubuh istrinya dan mendekapnya dengan sangat erat. Bahkan, banyak ciuman mendarat di puncak kepala Ana yang sekarang sedang menangis tersedu.


Ana pun sama seperti Kenan yang tidak mau bercerai, tetapi keadaan dan tekanan yang datang bertubi-tubi dari mertuanya, seolah membuat wanita itu ingin mengalah saja. Dia tidak benci pada mertuanya, dia justru maklum.


Bukankah sudah sewajarnya kalau orang tua menuntut seorang cucu dari putranya, apalagi putranya adalah seorang anak tunggal dan pernikahannya pun sudah berjalan lama.


"Jangan terlalu dipikirkan. Aku yakin kalau sebentar lagi, kita akan mendapatkannya. Kalau pun tidak bisa. Kita bisa mencoba dengan progam bayi tabung tanpa aku menikah lagi atau menyewa rahim wanita lain." Kenan semakin mengeratkan pelukannya meski tangisan Ana mulai mereda.


"Percayalah kalau kita bisa. Bukankah kamu tahu, ada yang menikah sudah sepuluh tahun lamanya dan mereka baru bisa mendapatkan putra?" tanya Kenan, tetapi Ana hanya membisu dengan masih sesenggukan.


"Sayang, lebih baik sekarang kamu fokus sama apa yang sedang kita jalani. Kamu tahu? Stress, beban pikiran juga bisa memicu susahnya proses pembuahan. Kamu sayang 'kan sama aku?" Kenan menatap mata Ana dengan sangat lekat. Melihat tatapan penuh cinta dari sang suami, Ana pun mengangguk lemah.


"Aku sayang banget sama kamu, Mas." Ana mengusap air mata yang masih meninggalkan jejak di wajahnya.


"Kalau begitu, kamu harus janji padaku jangan bilang yang tidak-tidak lagi seperti tadi. Lebih baik kita sekarang bersiap ke mansion Alexander sekalian bawa baju ganti. Besok kita akan ikut ke Bali." Kenan mengusap puncak kepala istrinya dengan sayang.

__ADS_1


"Ke Bali? Kenapa mendadak sekali?" tanya Ana heran.


"Ya, awalnya aku tidak akan ikut, takut kamu kelelahan, tapi karena Al tidak bisa ikut maka kita yang akan menggantikan mereka datang di pernikahan Mike. Anggap saja kita sekalian berbulan madu," ucap Kenan diiringi kecupan di kening Ana.


"Baiklah. Setelah ini aku akan siapin semua perlengkapan kita," balas Ana. Dia memeluk suaminya dengan sangat erat.


"Aku mencintaimu, Sayang." Kenan membalas pelukan istrinya.


"Aku juga sangat mencintaimu, Mas. Terima kasih sudah menerimaku apa adanya selama ini."


Bibir Kenan tersenyum simpul, sebuah kecupan kembali mendarat di puncak kepala Ana. Selama pelukan itu berlangsung, Kenan tak henti-hentinya merapalkan doa supaya harapan mereka segera terwujud.


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


Ada yang kangen sama Othor enggak nih?


Eittss, Othor sampai telat banget ngucapinnya.


Selamat Tahun Baru untuk kalian semua.


Harapan baru, mimpi baru dan semangat baru yang lebih membara.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya juga dikencengin gaes πŸ˜‚


__ADS_2