
"Kak Nathan!" pekik Nadira kesal saat Nathan kembali mengecup lehernya dan membuat tanda kepemilikan di sana. Niatnya, hari ini Nadira akan berjalan-jalan keluar, tapi Nathan seolah tidak ikhlas. Yang lelaki itu inginkan hanya berada di kamar, menikmati bulan madunya saat ini.
"Apa sih, Beb?" sahut Nathan seolah tak berdosa.
"Menyebalkan!" dengus Nadira. Dia berbalik dan tidur membelakangi suaminya.
"Wah, anak perawan malah udah mapan aja," seloroh Nathan, merapatkan tubuhnya dengan tubuh istrinya. "Aku lupa kalau kamu udah enggak perawan, Nad."
"Jangan sok amnesia! Kakak pikir siapa yang ngambil keperawanan aku?" tanya Nadira ketus.
"Aku lah, siapa lagi. Bahkan aku masih ingat dengan jelas desah*n dan erang*nmu yang begitu membangkitkan gairahku." Nathan bicara dengan tenang.
"Bisakah Kak Nathan tidak menyebalkan?" Nadira berdecak.
"Bisa." Nathan menjawab singkat, lelaki itu menciumi tengkuk istrinya, hingga membuat Nadira kembali merasakan gelayar-gelayar aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Nad, kamu mau punya anak berapa?" tanya Nathan, menyudahi ciumannya lalu semakin merapatkan tubuhnya.
"Kita baru aja gituan masa udah mikirin anak sih, Kak," timpal Nadira.
"Memang apa salahnya? Kita harus punya rencana, dan aku berencana punya anak lebih dari lima!" kata Nathan tegas. Nadira berbalik dan menatap Nathan tak percaya.
"Kak Nathan kira aku ini kucing?" Nadira berdecak, membuat Nathan menjadi begitu gemas.
"Kamu ini bukan kucing, tapi bidadari yang Tuhan kirimkan untuk aku," goda Nathan, menangkup kedua pipi Nadira yang sudah merona merah. "Ciee ... ciee, malu-malu kucing nih, dapat gombalan dari buaya."
__ADS_1
Nadira kembali merengut kesal. Bahkan dia memukul dada suaminya sampai lelaki itu mengaduh kesakitan.
"Kak Nathan emang buaya! Buaya buntung!"
"Punyaku emang buntung kok, Nad. 'Kan kamu udah lihat sendiri, udah merasakan malahan," sahut Nadira santai.
"Apaan? Kak Nathan enggak jelas banget!" Nadira mencebik.
"Tentu saja si Othong, kamu pikir apalagi. Coba bayangin Nad, kalau adik kecil ini enggak tumpul tapi lancip dan tajam seperti pisau. Aku yakin kamu bukan hanya mendes*h tapi akan menjerit-jerit."
"Ya, dan aku akan mati setelahnya!" sewot Nadira.
Nathan mendaratkan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajah istrinya. "Jangan ngambek, aku cuma bercanda."
"Panggil aku beb," suruh Nathan.
"Enggak mau!"
"Panggil aku sayang."
"Enggak mau!"
"Panggil aku cinta!"
"Enggak mau!"
__ADS_1
"Kalau kamu masih memanggil Kak Nathan, aku akan menelanjangimu!" ancam Nathan.
"Aku 'kan udah telanjang, Kak," sahut Nadira.
"Eh iya lupa." Nathan terkekeh, "kalau begitu aku ubah ancamanku. Kalau kamu kamu tidak mau memanggilku mas maka aku akan menggenjotmu sampai kelojotan, mencetak seratus anak! Seperti Kurawa."
Kedua mata Nadira membola dengan sempurna, dia kembali memukul dada Nathan karena sangat kesal. "Kak Nathan gila!"
"Aku enggak gila, Nad. Aku ingin menunjukkan pada dunia, betapa hebatnya kecebong kualitas super milikku." Nathan menindih tubuh Nadira dan menjelajah leher jenjang wanita itu yang sudah penuh dengan stempel kepemilikan.
"Aku nanti enggak bisa jalan kalau terus-terusan kamu ajak ginian, Mas." Nadira merengek. Seluruh tubuhnya serasa remuk redam. Nathan hanya diam dan tetap menjelajah.
"Ah!" des*h Nadira saat tangan Nathan sudah bermain di bawah sana.
"Kita belum coba semua gaya yang diajarkan bunda," kata Nathan di sela ciumannya.
Nadira mendengus kasar, dalam hati dia mengumpati ibu mertuanya. "Gaya apa lagi sih, Kak?" tanya Nadira heran dan pasrah.
"Kamu tenang saja kalau gaya kita kali ini, kamu cukup rebahan dan menerima hentakkan kenikmatan," ucap Nathan.
Dia membuka tangan dan kaki Nadira dengan lebar, sedangkan Nadira hanya bisa pasrah saat Nathan mengarahkan si Othong ke dalam rumahnya.
"Ini namanya gaya kodok terbang!"
"Uhuk uhuukk!" Nadira seketika tersedak mendengar jawaban suaminya yang benar-benar di luar nalar.
__ADS_1