Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
252


__ADS_3

Di sebuah ruangan rumah sakit dengan dominasi warna putih, seorang gadis cantik terbaring tak berdaya dengan selang infus tertancap di tangan kanan, sedangkan tangan kirinya terbalut perban. Wajah gadis itu tampak begitu pucat. Sementara seorang lelaki tampan yang duduk di samping, masih merasa sangat cemas dengan gadis itu. Namun, beberapa menit kemudian senyumnya mengembang saat kedua mata gadis itu terlihat bergerak-gerak lalu perlahan terbuka.


"Kamu sudah sadar, Jas?" tanya Febian dengan raut bahagia.


"Bi, aku masih hidup?" Jasmin menjawab dengan lemah.


"Tentu saja. Aku panggilkan dokter dulu." Febian hendak bangkit berdiri, tetapi Jasmin menahan lengan lelaki itu. Febian menoleh ke arah Jasmin sesaat sebelum dia memalingkan wajah karena hatinya kembali terasa berdenyut saat melihat kedua bola mata Jasmin yang begitu sendu.


"Apa kamu yang menolongku? Kenapa kamu membiarkanku tetap hidup?" Suara Jasmin terdengar parau bahkan kedua matanya terlihat basah.


"Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan caramu sendiri, Jas. Kamu harus ingat kalau hidupmu harus terus berlanjut." Febian tersenyum getir saat merasakan darahnya terasa berdesir.


"Aku mencintaimu, tapi aku sudah menyakitimu. Aku tidak menjaga kesucianku sendiri, lantas apa gunanya aku tetap hidup, Bi? Aku hanya menyakiti semua orang!" Nada bicara Jasmin naik satu oktaf.


Febian akhirnya mendudukkan tubuhnya di tepi brankar dan menggenggam tangan Jasmin dengan erat. Kedua matanya terlihat memerah, tetapi Febian berusaha keras menahan air matanya agar tidak terjatuh.

__ADS_1


"Jas, semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Mungkin ini cara Tuhan memberi tahu kalau kita tidak akan pernah berjodoh. Aku yakin kalau Damian adalah lelaki baik-baik dan bertanggung jawab. Aku yakin kalau dia bisa menjaga dan menyayangimu dengan tulus." Febian mengedipkan mata dengan cepat.


"Aku mencintaimu, aku tidak mencintai Damian. Kita melakukan itu karena sama-sama tidak sadar, Bi."


"Jas, bukannya kamu tidak mencintai Damian, tetapi kamu belum mencintainya. Belajarlah untuk mulai membuka hatimu untuknya dan aku akan belajar menghapus perasaanku padamu. Aku yakin kita akan bahagia dengan jalan kita masing-masing." Percayalah, saat ini lelaki itu sedang berusaha keras menahan perasaan yang begitu bergejolak dan meremukkan hatinya menjadi hancur berkeping-keping.


"Bi ...."


"Ingatlah, ada orang tuamu yang sangat sayang padamu. Ada kedua saudaramu juga dan aku yakin Damian juga mencintaimu. Terimalah pinangan dia yang sudah lebih dulu daripada aku. Percayalah, aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu."


Jasmin hendak membuka suara, tetapi seseorang yang masuk dengan tergesa berhasil membuat bibir gadis itu bungkam seketika bahkan Febian bangkit dan berdiri di samping brankar.


Hati Febian mencelos sakit saat melihat Damian yang begitu perhatian padanya. Ya, mulai detik ini dirinya memang harus berusaha menghapus perasaannya untuk Jasmin.


"Jas, karena Tuan Damian sudah datang, aku akan pulang dulu. Masih ada pekerjaan yang harus kulakukan," ucap Febian mengalihkan perhatian mereka.

__ADS_1


"Terima kasih, Tuan Febian." Damian berbicara dengan sopan. Febian hanya mengangguk lalu melangkah lebar dari ruangan itu. Namun, baru saja keluar dari pintu, panggilan dari Damian mampu membuat langkah Febian terhenti seketika.


"Ada apa lagi, Tuan?" tanya Febian dengan nada datar.


"Tuan, aku tahu kalau kamu masih sangat mencintai Jasmin. Aku juga yakin kalau Jasmin pasti sudah mengatakan semuanya. Jujur, aku tidak sadar saat melakukan itu. Bolehkah aku meminta izin padamu untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku?"


Febian berusaha menarik kedua sudut bibirnya untuk membentuk senyuman yang begitu terpaksa. "Aku bahagia kalau akhirnya Jasmin mendapat lelaki yang bertanggung jawab sepertimu. Bahagiakan Jasmin dan aku akan benar-benar menghapus perasaanku untuknya."


"Terima kasih." Damian menangkup kedua tangan di depan dada. "Aku akan membawa Jasmin pulang ke Singapura."


"Berhati-hatilah. Maaf, aku tidak bisa mengantar kalian. Pekerjaanku sedang sangat padat saat ini." Febian akhirnya kembali berpamitan pergi karena dia sudah tidak tahan berada di ruangan yang membuat hatinya memanas bahkan rasanya hampir meledak.


***


Febian masuk ke apartemen pribadi miliknya. Dia menatap foto Jasmin yang masih terpajang di sana. Satu persatu dia menurunkan gambar itu dan memasukkan ke dalam sebuah kardus besar.

__ADS_1


"Semua orang berhak mencintai dan memiliki, tetapi tidak semua orang yang saling mencintai bisa saling memiliki. Terima kasih pernah membuat hidupku begitu berwarna meski akhirnya kau tancapkan luka yang sakitnya luar biasa. Aku akan menghapus namamu dari hidupku, Jas, dan mungkin aku tidak akan lagi mengenal cinta. Dua kali mencintai dan dua kali pula aku harus terluka."


Febian menghela napas panjang lalu mengembuskan secara perlahan. Dia segera mengemasi barang-barang itu dan menyimpannya di gudang.


__ADS_2