
Beberapa kali memanggil, tetapi panggilannya juga tidak ada yang diangkat sama sekali. Sampai Johan menggeram kesal. Namun, di saat Johan hendak mematikan panggilan itu, terdengar balasan dari seberang telepon. Johan pun kembali menaruh ponsel di samping telinganya.
"Bagaimana keadaan di Singapura? Semua baik-baik saja 'kan?" tanya Johan tak sabar.
"Maaf, Tuan. Nona Cacha dilarikan ke rumah sakit." Suara dari seberang terdengar gugup.
"Apa! Rumah sakit? Bagaimana bisa!" seru Johan mengejutkan semua orang. Bahkan wajah Mila tampak semakin muram. Johan terdiam mendengar penjelasan dari anak buahnya. Tangan lelaki itu terlihat terkepal erat.
"Siapa yang masuk rumah sakit, Mas?" tanya Mila tak sabar. Bahkan dia menggoyangkan lengan Johan dengan cukup kencang.
"Cacha baru saja sampai di rumah sakit, dan sedang ditangani. Mike juga sedang dalam perjalanan ke sana," jelas Johan yang membuat mereka semua terkejut.
"Bagaimana bisa, Mas?" tanya Mila. Air mata wanita itu sudah mengalir membasahi wajah.
"Dia didorong Nona Fey dari anak tangga kedelapan, dan jatuh sampai lantai dasar sampai pendarahan."
"Cha." Mila menutup mulut tak percaya. Dia semakin menangis keras, begitu juga dengan Nadira dan Queen. "Mas, kita harus ke Singapura sekarang. Aku harus melihat keadaan Cacha. Ayo, Mas. Ayo!" Mila menggoyangkan lengan Johan dengan kasar dan tak sabar.
"Kamu tenang dulu, Mil," ucap Johan lembut.
"Mas, aku harus lihat Cacha. Aku harus lihat keadaan putriku. Aku harus ke sana sekarang." Mila terlihat sangat panik. Dia beranjak bangun dan hendak pergi dari sana, tetapi Johan segera menahan dan memeluk Mila dengan sangat erat.
"Tenanglah, Mil." Johan masih berusaha terus menenangkan.
"Bagaimana aku bisa tenang, sementara putriku masuk rumah sakit bahkan pendarahan. Aku harus ke sana, Mas!" Mila meronta sekuat tenaga dan akhirnya pelukan itu terlepas. Kemudian, dia berlari keluar ruangan dan Johan pun berusaha keras mengejar termasuk anak-anak mereka.
"Tenanglah, Mil!" bentak Johan. Menghentikan langkah Mila yang sudah sampai di halaman rumah. Wanita itu mematung, dan dengan segera Johan mendekat dan memelukanya dengan sangat erat. Sementara yang lain melingkar untuk berjaga-jaga.
"Cacha ... Mas. Aku takut dia kenapa-napa." Mila terisak keras, Johan pun semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Mil, kamu harus tenang. Jangan seperti ini. Aku yakin kalau semua pasti akan baik-baik saja. Putri kita anak yang kuat." Mata Johan pun terlihat basah. Dia sangat cemas dengan keadaan putrinya, tetapi dia tak kalah cemas melihat istrinya yang begitu frustasi.
Mila tidak menjawab, hanya tangisan keras yang dibarengi nama Cacha yang keluar dari mulut wanita itu. Anak-anak mereka pun ikut menenangkan sang bunda.
"Bun, kita tunggu kabar lagi sambil bersiap-siap. Biar aku pesankan tiket pesawat untuk kita." Rayhan berbicara dengan sangat lembut. Mila akhirnya mengangguk setuju dan kembali masuk ke rumah. Namun, sejak masuk ke rumah, tatapan Mila terlihat kosong, dan Johan tidak sedikit pun melepas rangkulannya.
***
"Bisakah kamu mengemudikan mobil sedikit lebih cepat!" bentak Mike kepada sopir.
Padahal sopir itu sudah melaju kencang, tetapi Mike tetap merasa sangat lambat karena pikiran dia sudah tak karuan setelah Lin menelepon dan mengatakan Cacha masuk rumah sakit dan pendarahan.
"Tenanglah, Mike." Richard merangkul Elie dengan erat karena laju mobil itu begitu kencang.
"Dia lambat, Kek!" seru Mike.
"Maaf, Tuan." Sopir pribadi Richard itu berusaha berkonsentrasi dengan laju kendaraannya.
Baru saja sampai di pelataran rumah sakit, Mike sudah bergegas keluar dan mencari keberadaan istrinya. Langkah Mike semakin lebar saat melihat tiga anak buahnya sedang berdiri di depan pintu IGD. Melihat kedatangan Mike, yang disusul Richard dan Elie, mereka pun menunduk hormat.
"Bagaimana istriku?" tanya Mike penuh penekanan.
"Ma-maafkan kita, Tuan," sahut salah satu di antara mereka dengan gugup dan takut.
"Nona Muda masih dalam penanganan." Salah satu menjawab dengan memberanikan diri.
"Kalau Fey?" Rahang Mike terlihat mengetat saat menyebut nama wanita yang sudah melukai istrinya.
"Juga masih dalam penanganan, Tuan. Nona Muda menembak kedua kaki Nona Fey saat hendak melarikan diri," jelasnya. Mike tersenyum sangat puas. Sementara Richard dan Elie sangat terkejut saat mendengarnya.
__ADS_1
"Cacha menembak Fey?" tanya Elie tidak percaya.
"Iya, Nyonya Besar." Tubuh Elie hampir saja luruh kalau Richard tidak segera menahannya.
"Maaf, Nek." Mike berusaha terlihat menyesal, tetapi dalam hati dia merasa sangat puas.
"Tidak apa, Mike. Semua sudah takdir. Cacha juga terluka karena Fey, mungkin itu balasan setimpal untuknya." Richard yang bersuara karena Elie masih belum percaya.
Benar-benar wanita yang hebat. Richard memuji dalam hati.
Belum juga dokter keluar, Yosie sudah datang dengan tergopoh-gopoh mendekati mereka. Bahkan dia memaksa masuk untuk melihat keadaan putrinya yang sedang melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di kedua kakinya.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan putriku maka aku tidak akan segan-segan menghancurkan hidupmu dan istrimu, Mike!" bentak Yosie. Telunjuknya berada tepat di depan wajah Mike.
"Kakek Yos, kalau terjadi apa-apa dengan istriku, aku pun tidak segan-segan melakukan hal yang sama. Istriku tidak akan berbuat jahat dengan orang lain kalau tidak didahului!" Mike pun tak kalah keras.
Richard kali ini berusaha menenangkan cucunya, dan meminta anak buah Mike untuk menjauhkan Yosie dari cucunya. Beberapa saat kemudian, Lin datang dengan napas tersengal karena berlari kencang.
"Maaf, saya terlambat, Tuan." Lin membungkuk hormat.
"Tidak apa, Lin."
Baru saja Richard diam, perawat yang ikut menangani Cacha keluar dan menyuruh Mike untuk masuk karena sedari tadi Cacha memanggil namanya. Mike pun melangkah masuk dengan tak sabar.
Saat berdiri di samping brankar, tubuh Mike membeku saat melihat wajah pucat Cacha dengan mata terpejam. Mike segera menggenggam tangan istrinya dengan erat, bahkan matanya terlihat basah.
"Mike ... Mike ...." Cacha terus mengigau.
"Neng, aku sudah di sini. Bangunlah," ucap Mike dengan sangat lembut. Satu tangan menggenggam tangan Cacha, sedangkan tangan yang satu mengusap pipi Cacha dengan sangat lembut.
__ADS_1
Dokter dan perawat yang berjaga hanya menatap mereka, sembari menunggu waktu yang tepat untuk memberi kabar. Selang beberapa saat, mata Cacha terlihat mengerjap, dan beberapa detik kemudian terbuka lebar.
"Mike, kamu di sini?" tanya Cacha dengan wajah sumringah. Dia hendak beranjak bangun, tetapi dia merasakan sakit yang hebat di perut, bahkan membuatnya tak mampu menahan rintihan. Mike pun semakin cemas saat melihatnya.