
"Tidur saja, Neng." Mike menahan Cacha yang masih berusaha untuk duduk.
"Nona lebih baik Anda banyak beristirahat. Sebenarnya, saya membawa kabar yang mungkin akan membuat kalian bersedih." Dokter mengalihkan perhatian mereka.
"Kabar apa, Dok?" tanya Mike tak sabar.
"Mohon maaf, Tuan, Nona, karena benturan yang sangat keras, janin yang berada di rahim Nona tidak bisa diselamatkan."
Bak tersambar petir, tubuh Mike dan Cacha menegang seketika. Aliran darah mereka berdesir hebat. Mike kembali memastikan, dan dokter itu pun mengangguk cepat.
"Apa kalian tidak tahu kalau Nona Muda sedang hamil?" tanya dokter itu curiga. Mike mengangguk lemah, sedangkan Cacha hanya membisu dengan raut wajah yang susah dijelaskan.
"Seharusnya saat ini kandungan Nona Muda sudah masuk empat minggu, tetapi karena benturan yang sangat keras, janin itu terpaksa gugur," jelas dokter tersebut.
Air mata Cacha mengalir deras, dia tidak menyangka kalau dirinya sudah mengandung, tetapi dengan berat hati harus kehilangan janin itu. Mike pun menatap tidak tega ke arah istrinya. Dengan cepat, dia mengusap air mata yang terus saja mengalir.
"Mungkin belum rezeki kalian. Jangan terlalu bersedih, Nona. Anda masih bisa hamil, bahkan tidak butuh waktu lama karena rahim Anda sangat subur." Dokter itu berusaha menenangkan sebelum berpamitan pergi dari sana.
Mike menyuruh mereka supaya jangan ada yang masuk karena dia ingin menenangkan istrinya terlebih dahulu. Setelah pintu ruangan tertutup rapat, Mike segera menangkup wajah istrinya dengan lembut, tetapi Cacha justru menepisnya.
"Pergilah, Mike." Cacha mengusir.
"Kenapa? Kamu membenciku?" tanya Mike dengan pelan.
"Tidak. Aku malu padamu, Mike." Cacha memalingkan wajah dengan air mata yang semakin membanjiri wajahnya.
"Kenapa kamu malu?" Mike masih berusaha melembutkan suaranya.
"Aku tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu, Mike. Aku gagal menjaga anak kita. Aku gagal, Mike!" Suara Cacha terdengar sangat parau.
"Neng, kamu tidak bersalah. Benar kata dokter kalau dia belum rezeki kita." Mike beralih ke sebelah kiri dan kembali menangkup wajah istrinya. Cacha hendak berbalik lagi, tetapi Mike segera menahannya.
__ADS_1
"Mike." Cacha terdiam, hanya air mata wanita itu yang masih mengalir, menandakan kalau dia sedang terluka saat ini.
"Neng, dia sudah pergi bahkan sebelum kita tahu kehadirannya. Berarti memang semua belum rezeki kita." Mike terus berusaha menenangkan Cacha.
"Tapi, Mike, kamu sudah sangat ingin memiliki momongan, dan sekarang aku tidak bisa menjaga calon buah hati kita dengan baik. Aku gagal menjadi istri." Cacha mengusap wajahnya dengan kasar, bahkan dia tidak peduli meski selang infus di tangan kirinya akan terlepas.
"Neng, dengarkan aku." Mike menatap mata Cacha dengan sangat lekat, Cacha pun terdiam dan membalas tatapan itu. "Ada atau tidaknya seorang anak di antara kita, aku tetap akan mencintaimu. Perasaanku padamu tidak akan berubah sedikit pun."
"Kamu berbohong, Mike. Aku tahu kamu menginginkan anak, bahkan kamu ingin sepuluh anak dariku, tapi aku menjaga satu anak saja tidak bisa! Istri dan ibu macam apa aku ini! Benar kata Nona Fey, kalau aku ini tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu!" Cacha berusaha menyingkirkan tangan Mike dari wajahnya.
"Jangan dengarkan wanita itu! Dia hanya ingin merusak hubungan kita! Neng, percayalah kalau aku sangat sayang padamu dan hanya kamu satu-satunya wanita terbaik untukmu. Tidak ada wanita lain lagi." Kedua mata Mike terlihat basah saat melihat wajah istrinya yang sudah penuh dengan air mata.
"Selamanya hanya kamu yang akan menjadi istriku. Kalau sekarang kehilangan calon buah hati kita, masih banyak waktu untuk mencoba dan aku yakin kita akan segera mendapatkan kembali."
"Aku takut, Mike."
"Jangan takut, aku akan selalu setia menemanimu. Kalau tidak memiliki keturunan, memiliki kamu saja sudah cukup untukku, Neng. Kamu adalah sumber segala kebahagiaanku." Suara Mike terdengar parau karena menahan tangis.
"Terima kasih, Mike."
"Aku juga mencintaimu, Mike." Cacha menunjukkan senyum yang sedikit dipaksa.
Dengan gemas, Mike menghujami wajah Cacha dengan banyak ciuman. Terakhir, dia meraup bibir istrinya dan menciumnya dengan sangat lembut untuk menyalurkan segala rasa yang sedang bercampur jadi satu dan membuat hatinya bergejolak hebat saat ini.
***
Setelah istrinya benar-benar tenang, Mike segera berpamitan keluar ruangan dan menyuruh kakek neneknya untuk menghibur Cacha. Mike melangkah tegas menuju ke ruang rawat Fey yang baru setengah jam lalu selesai melakukan operasi.
Tanpa mengetuk, Mike masuk begitu saja bahkan membuka pintu dengan sangat kasar. Mengalihkan perhatian Yosie dan Fey yang berada dalam ruangan. Yosie menggeram marah melihat Mike yang saat ini sudah berdiri di samping brankar.
"Lihatlah, Mike! Kelakuan istrimu yang sudah membuat kedua kaki Fey terluka!" hardik Yosie dengan tatapan penuh amarah, tetapi Mike hanya diam dan tetap terlihat tenang.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kalau istrimu bersikap manja, hanyalah sebagai topeng. Dia wanita bar-bar, dan sikap manjanya hanyalah kepalsuan. Kamu tahu, Mike? Kedua kakiku terluka karena dia," adu Fey, dengan sesekali meringis kesakitan.
Mike masih saja diam dan menatap mereka berdua secara bergantian. Raut wajah Mike tampak begitu datar dengan sorot mata yang susah dijelaskan. Melihat itu, Yosie tersenyum licik, dia harus bisa menarik simpati Mike dan membuat lelaki itu membenci istrinya sendiri.
"Istrimu hanyalah rubah betina, Mike! Seharusnya kamu hati-hati dengan wanita seperti itu!"
Kali ini, tangan Mike terkepal erat, dengan rahang mengetat saat mendengar ucapan yang lebih seperti penghinaan untuk istrinya. "Rubah betina?" Mike bertanya dengan berusaha tetap terlihat tenang.
Fey mengangguk dengan cepat. "Ya, di depanmu dia seperti kucing kecil yang menggemaskan, tetapi di belakangmu seperti harimau yang siap menerkammu kapan saja. Aku yakin kalau dia tidak lebih dari seorang wanita bodoh!" umpat Fey.
Amarah Mike telah mencapai ubun-ubun, tetapi dia berusaha sekuat mungkin menahan amarah itu dan tetap terlihat tenang. "Bolehkan aku melihat luka di kakimu, Nona?" tanya Mike.
Fey mengangguk cepat, Yosie pun segera membuka selimut yang menutupi kedua kaki putrinya. Mike mengamati luka itu dengan lekat, sedangkan Fey semakin mengerang untuk menarik simpati Mike yang saat ini sedang memajukan tubuhnya untuk melihat luka itu.
"Ini sakit sekali, Mike." Fey sedikit berteriak, Mike menarik sudut bibir membentuk senyuman miring.
"Istriku benar-benar bodoh," ucap Mike setelah cukup lama mengamati luka tembak itu. Fey dan Yosie tersenyum puas. Mereka sangat yakin kalau Mike sudah bisa dipengaruhi, dan sebentar lagi lelaki itu akan menceraikan istrinya.
"Sepertinya karena dia terlalu kesakitan maka dari itu pelurunya melenceng ke kaki. Seharusnya dua peluru ini bersarang tepat di jantung atau hati! Dia benar-benar bodoh, seandainya saat itu aku ada di sana, mungkin aku akan membuat peluru ini bersarang di tempat yang seharusnya!"
π¦π¦π¦
Thorr kok gitu?
Hidup itu selalu penuh suka dan duka gaess
Kamu jahat udah buat Cacha keguguran thor!
Wkwkwk maaf ini Othor lagi berlagak sok kejam.
Othor mau sembunyi dulu biar enggak di demo, kalau ada yang nyari, cari aja ya
__ADS_1
Othor sembunyi di bawah kolong meja π π
Selamat pagi dan selamat beraktivitas gaess