Perjuangan Cinta Nona Muda

Perjuangan Cinta Nona Muda
167


__ADS_3

Malam sudah larut, dinginnya kulit mulai menembus pori-pori kulit, tetapi Nadira masih terjaga. Wanita itu merasa begitu gelisah, sedari tadi hanya berdiri di dekat jendela hotel, memandang indahnya pemandangan sekitar hotel yang tampak begitu indah di bawah cahaya lampu.


Nadira sudah berkali-kali menghubungi nomor suaminya, tetapi hasilnya nihil. Tidak ada satu pun panggilannya yang terhubung. Nadira menghela napas panjang lalu mengembuskan dengan perlahan untuk mengurangi rasa sesak di dalam dadanya.


"Mungkinkah kamu memang sedang sibuk dengan wanita itu? Sampai-sampai kamu tidak menyusulku padahal aku selalu menunggu."


Nadira benar-benar merasa sedih sekarang. Bahkan air mata hampir saja menetes kalau saja dia tidak berusaha sekeras mungkin menahan. Merasa sudah lelah berdiri, Nadira segera menarik tirai untuk menutupi jendela itu, dan dia melangkah kembali ke kasur.


Setelah mematikan lampu utama dan mengganti dengan lampu tidur, Nadira merebahkan tubuhnya di kasur dan berusaha memejamkan mata dalam cahaya remang-remang. Namun, matanya susah terpejam hingga dia memaksa untuk membuka kembali.


Ponselnya tergeletak di sampingnya, dengan dering yang sengaja dia keraskan. Takut-takut, kalau suaminya menelepon dia tidak mendengarnya. Nadira menghidupkan kunci layar, dan melihat jam di sana sudah menampilkan angka sebelas lebih. Dengan gerakan sedikit kasar, Nadira meletakkan benda pipih itu.


Baru saja wanita itu hampir terlelap, suara dering ponsel memecah keheningan di kamar itu. Dengan cepat, Nadira membuka mata dan melihat siapa yang sedang menghubungi saat ini. Nadira segera duduk tegak saat melihat nama suaminya tertera di layar.


"Hallo, Beb. Kamu belum tidur?" tanya Nathan dari seberang telepon.


"Belum. Aku masih menunggumu." Nadira menjawab dengan lirih.


"Jangan menungguku, Beb. Maaf, aku belum bisa datang. Mungkin besok siang aku akan menyusul."

__ADS_1


"Besok siang? Kenapa? Bukankah pernikahan Mike besok pagi?" cecar Nadira. Wanita itu menggigit jari untuk mengurangi rasa yang terasa bergejolak di dalam hati.


"Aku akan terlambat ke pernikahan Mike. Maafkan aku, Beb. Ada urusan penting yang tidak bisa kutinggal."


"Urusan penting apa? Apa tentang perusahaan?"


Hening. Nathan tidak langsung menjawab, hingga membuat perasaan curiga datang menyergapi hati Nadira.


"Mas?" panggil Nadira, memastikan panggilan itu belum terputus.


"I-iya. Kalau begitu aku matikan dulu, Beb. Selamat ber—"


"Jangan matikan dulu!" Suara Nadira yang meninggi, menahan gerakan Nathan yang hendak menyudahi panggilan itu.


"Mas, bisakah kamu jujur padaku? Apa tadi siang kamu bersama wanita lain?"


"Tidak!" jawab Nathan dengan tegas.


"Kamu yakin?" Nadira masih berusaha memastikan.

__ADS_1


"Sudah malam, Beb. Tidurlah!" Suara Nathan mulai terdengar meninggi.


"Kamu berbohong padaku, Mas? Aku kecewa."


Bukan suara Nathan yang terdengar, tetapi bunyi panggilan terputus yang menyentuh gendang telinga Nadira. Dengan cepat, Nadira melempar ponsel itu di sampingnya secara kasar. Air mata wanita itu mulai membasahi wajah pipinya.


"Kamu tega sekali berbohong padaku, Kak!" Dengan mengusap air mata secara kasar, Nadira terus saja mengumpati suaminya dengan berbagai macam umpatan. Kecewa? Tentu saja Nadira sangat kecewa dengan Nathan yang tidak menyusul ke Bali beserta kebohongan lelaki itu.


Nadira mengambil kembali ponsel yang baru saja dia hempaskan. Kemudian, ibu jari lentiknya menggulir layar untuk mencari nama Cacha. Setelah nama si Anak Kambing ketemu, Nadira segera menekan icon hijau. Dua panggilan tidak terjawab, tetapi Nadira tidak gentar. Dia masih terus menghubungi nomor tersebut.


"Hallo, Cha. Kamu sudah tidur?" tanya Nadira begitu saja. Padahal panggilan itu baru terangkat beberapa detik yang lalu.


"Belum, Nad. Kamu belum tidur, Nad. Kenapa suaramu seperti orang yang baru menangis?"


"Cha, kakakmu yang menyebalkan itu tidak jadi ke sini. Bolehkah aku tidur denganmu?" tanya Nadira ragu.


"Aku saja yang akan tidur di kamarmu, Nad. Sebentar, aku akan ke sana. Kamu tidak mengunci kamarmu, 'kan?"


"Tidak, Cha. Aku tunggu."

__ADS_1


Nadira pun mematikan panggilan itu lalu menaruh kembali ponselnya. Dia tidak lagi menghubungi suaminya, karena dirinya sudah merasa kecewa dengan lelaki itu.


"Masa bodoh dengan Kak Nathan!" geramnya. Namun, sesaat kemudian, tanpa sadar air mata kembali membasahi wajah cantiknya. Jujur, segala perasaan bercampur jadi satu saat ini.


__ADS_2