
"Rendra menyuruh Cacha membantunya lepas dari perjodohan yang sudah direncakan oleh Tuan Bastian. Dengan menjadi pacar pura-pura. Apa menurutmu itu bukan merendahkan harga diri putri kita?" Suara Johan mulai meninggi. Mila hanya terdiam, tapi wajah wanita itu terlihat begitu terkejut.
"Mereka pura-pura pacaran?" tanya Mila masih belum percaya. Johan mengangguk yakin.
"Seandainya Rendra benar-benar mengajak Cacha menjalin hubungan serius atau bukan sekedar berpura-pura, mungkin masih aku pertimbangkan. Lagi pula, aku tidak yakin Rendra bisa membuat Cacha bahagia," ucap Johan dengan suara berat.
"Kenapa begitu, Mas?" tanya Mila, menatap kedua mata suaminya dengan sangat lekat.
"Karena Rendra sangat mencintai Nadira." Mila kembali terkejut mendengar ucapan Johan. Dia semakin lekat menatap Johan untuk memastikan semua yang dia dengar adalah kebenaran.
"Kamu yakin Rendra mencintai Nadira, Mas?" tanya Mila, masih belum percaya. Johan mengangguk cepat.
"Ya, Rendra sudah mencintai Nadira sejak lama. Bahkan sanpai sekarang. Selama di Bandung pun, Rendra sangat menjaga Nadira. Seandainya, Cacha dan Rendra menikah, lalu mereka bertemu Nadira. Apa kamu yakin kalau Cacha tidak akan terluka?" tukas Johan. Mila membisu, membayangkan seandainya apa yang Johan ucapkan itu terjadi.
"Mil," panggil Johan lirih. Mila mendongak, menatap suaminya yang juga sedang menatapnya dalam. "Cacha itu seperti berlian untukku, seperti dirimu. Aku akan menjaga kalian dengan sebaik mungkin meski aku harus mengorbankan nyawaku. Aku tidak ingin Cacha jatuh cinta pada lelaki yang salah seperti kemarin, apalagi sampai terjadi hal buruk seperti yang terjadi padamu dulu. Aku sakit melihatnya, Mil." Tanpa terasa airmata Johan mengalir dari kedua sudut matanya.
Mila juga tak kuasa menahan airmatanya sendiri. Dia memeluk tubuh Johan dengan sangat erat dan menangis terisak. Johan membalas pelukan istrinya dan mencium puncak kepala Mila dengan penuh sayang.
__ADS_1
"Mas ...." Mila terdiam, karena tak kuasa berbicara di sela isak tangisnya. Rasa cinta Johan untuk keluarga memang tidak diragukan lagi, meski lelaki itu terlihat diam. Lelaki itu selalu punya cara tersendiri untuk menjaga orang yang dia sayangi.
"Aku tidak mungkin memilih lelaki yang salah untuk putriku sendiri, Mil. Aku tidak mengambil keputusan begitu saja. Semua sudah aku pikirkan dengan sangat matang. Suatu saat jika aku harus pergi meninggalkan kalian, setidaknya putriku sudah bersama dengan orang yang tepat." Suara Johan terdengar begitu berat karena menahan tangisnya.
Pelukan Mila kepada suaminya semakin terasa erat. "Jangan bicara seperti itu, Mas. Aku benci mendengarnya!" kata Mila, airmatanya masih saja membasahi seluruh wajahnya.
"Setiap nyawa manusia tidak ada yang tahu, Mil. Seperti Tuan Davin dan Nona Aluna." Kini, Johan tak kuasa lagi menahan tangis saat teringat dua orang yang juga sangat berharga untuknya.
"Sudah, Mas. Aku tidak mau dengar kamu berbicara lagi. Aku ikuti apa maumu saja. Aku yakin semua terbaik untuk putri kita." Mila mengusap airmata, lalu melerai pelukan itu. Dia menatap mata Johan yang sudah memerah. Jarang sekali dirinya melihat Johan menangis seperti ini.
Johan mengusap jejak airmata di wajah Mila, begitu juga Mila yang mengusap airmata di wajah suaminya. Mereka saling bertatapan dalam, dengan bibir tersenyum lebar. Sungguh, sebuah tatapan yang penuh dengan cinta.
Mila memukul dada bidang suaminya dengan gemas, sampai membuat Johan mengaduh kesakitan. "Aku benci kamu, Mas!" cebik Mila kesal.
"Kamu itu aneh! Aku tidak bilang cinta, kamu maksa-maksa. Sekarang aku bilang cinta kamu malah memukulku. Aku harus gimana, Mil?" tanya Johan tak kalah gemas.
"Kamu tidak pernah berubah, Mas! Dari dulu selalu bilang cinta pas lagi part sedih doang! Aku maunya kamu bilang cinta tiap kita bangun pagi, setidaknya setelah kita selesai icik icik ehem, kamu bilang cinta enggak cuman di dalam hati doang. Aku—"
__ADS_1
Johan membungkam mulut Mila dengan bibirnya untuk menghentikan omelan wanita mesum itu yang tidak ada habisnya. Mila terdiam sesaat, tapi kemudian dia membalas ciuman suaminya dengan sangat agresif sampai membuat Johan kewalahan.
"Sudah!" Johan meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Hampir saja dia kehabisan napas karena istrinya.
"Kurang, Mas," rengek Mila sambil memeluk Johan manja. Bibir Johan tersenyum sangat tipis.
"Besok aku mau ke Bandung bertemu Cacha. Kamu mau ikut?" tanya Johan. Mila mengangguk cepat. "Kalau begitu, kita ke kamar sekarang."
Mila memeluk tubuh Johan, dan mengangkat kedua kakinya. Johan pun dengan gerakan gesit, menompang tubuh Mila agar tidak terjatuh lalu membawanya ke kamar. Dengan santai Mila digendong ala Kangguru, dia tidak peduli meski menjadi pusat perhatian beberapa pelayan di rumah.
"Pinggangku encok, Mil." Johan mulai terlihat kelelahan.
"Enggak papa, Mas. Pinggang tua mah, gitu. Yang penting genjotannya masih kuat." Johan mendelik ke arah Mila yang sedang menyengir.
Bunda Mila mesumnya kaya siapa sih?
Udah akut deh
__ADS_1
Jangan bilang kaya Othor, entar Othor ngambek 🙄🙄