
Selama Nadira dirawat, Mila dan geng wanita bergantian menjaga Nadira, karena Johan dan Alvino sedang sibuk mengurus Herman dan anak-anaknya. Sementara Nathan sama sekali tidak terlihat keberadaannya, Nadira sebenarnya sangat merindukan suaminya, tapi dia sudah berjanji dengan Alvino untuk menenangkan diri selama satu bulan.
Hari ini Nadira sudah diperkenankan pulang dan besok gadis itu akan langsung pergi bersama Rendra dan Cacha menuju ke Bali. Sekedar untuk menghibur hati dan memberi ruang bagi Nadira memantapkan hatinya.
"Nad, kamu sudah siap berangkat besok pagi?" tanya Cacha. Dia mendudukkan tubuhnya di samping Nadira yang sedang melamun.
"Nad!" Cacha menepuk pundak Nadira hingga gadis itu terlonjak kaget.
"Apaan sih, Cha?" Nadira mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Enggak jadi. Lebih baik kita tidur aja. Ingat! Besok jam tujuh kita sudah harus berangkat." Cacha menarik selimut sampai sebatas bahu.
"Cha, menurut kamu yang aku lakuin ini bener enggak sih? Aku pengen nenangin diri," ucap Nadira lirih. Cacha menghela napas panjang.
__ADS_1
"Aku juga kalau di posisi kamu, bakalan ngelakuin hal yang sama walau aku tahu Kak Nathan sama Kak Jasmin ngelakuin ini buat ngelindungin kamu. Percayalah, sejauh apa pun cinta itu pergi, ia akan kembali ke pemiliknya." Cacha melipat tangan di atas perutnya. Dia pun sedang merasa sakit saat ini. Bukan hanya sakit, tapi juga kecewa yang teramat dalam.
Melihat Cacha yang terdiam, Nadira segera memeluk tubuh sahabatnya itu. "Aku yakin, ada lelaki baik yang menyayangimu dengan tulus. Lupakan James." Airmata Cacha pun tak bisa lagi ditahan. Nadira berusaha menenangkan sahabatnya. Beberapa saat kemudian, kedua gadis itu pun akhirnya berpelukan, lalu tertidur lelap.
***
Nadira dan Cacha sudah bersiap untuk ke Bandara dengan membawa koper di tangan masing-masing. Sementara Rendra sudah menunggu mereka di lantai bawah. Ketika melihat dua gadis itu menuruni tangga, semua yang berada di ruang tamu segera berdiri.
Langkah Nadira yang berada di anak tangga terakhir tiba-tiba terhenti saat melihat keberadaan Jasmin dan Tuan Dharma bergabung bersama anggota keluarganya yang lain.
"Nona, maafkan saya. Saya tidak bermaksud membuat Anda terluka. Maafkan juga Kak Nathan, semua bukan salah dia sepenuhnya, Nona." Nadira melengos, bahkan dalam keadaan seperti ini pun, Jasmin masih begitu perhatian dengan suaminya.
"Nona Jasmin, bangkitlah. Kamu bukan orang rendahan yang harus bersimpuh di kakiku. Aku sudah memaafkanmu ataupun Kak Nathan dan kalian semua. Aku mohon, saat ini aku butuh waktu untuk sendiri." Suara Nadira terdengar begitu parau. Dia berusaha menahan tangisnya saat ini. Entahlah, dia merasa sekarang menjadi begitu cengeng.
__ADS_1
Dharma pun membantu Jasmin untuk berdiri, karena gadis itu bersikukuh tetap ingin bersimpuh. "Nona Muda, saya yang salah di sini karena sudah menyuruh putri saya untuk ikut bersandiwara." Dharma sedikit membungkuk hormat.
"Tidak apa, Tuan. Biarlah semua yang sudah terjadi, berlalu dan menjadi kenangan. Sekarang saya hanya bisa pasrah. Kalau begitu saya pamit pergi. Ayo, Cha." Nadira kembali berjalan, tapi ketika melewati Jasmin, langkahnya terhenti saat Jasmin menahan lengannya. Nadira hanya melirik tangan Jasmin yang memegang lengannya.
"Nona, jangan salah paham dengan hubunganku dengan Kak Nathan. Karena jujur, saya sudah memiliki kekasih dan dia adalah ...." Jasmin terdiam, dia begitu ragu untuk mengatakan semuanya.
Suasana hening, karena mereka menunggu jawaban Jasmin. Namun, tiba-tiba Febian bangkit berdiri, mendekati Jasmin lalu merangkul pundak gadis itu.
"Jasmin itu kekasihku dan sekarang sandiwara kita sudah selesai, Sayang." Febian mengecup pipi Jasmin hingga wajah gadis itu merona merah. Kedua mata Nadira melebar dengan sempurna.
"Jadi kalian semua membohongiku? Bahkan kalian tidak peduli meski hatiku terluka!" teriak Nadira dengan kecewa. Mereka pun terdiam, tak bisa lagi berkata-kata.
"Nona Muda, jangan sampai Anda terlambat sampai Bandara. Semua salah saya yang sudah mengatur semuanya, Nona. Saya bersedia menerima hukuman apa pun yang akan Anda berikan." Suara Johan terdengar penuh sesal.
__ADS_1
"Sudahlah, Uncle. Lupakan saja semuanya. Nadira berangkat dulu." Mereka bertiga segera pergi dari sana. Sebelum Nadira masuk ke mobil, Mila sudah menciumi wajah anak menantu dan putrinya serta memberi beberapa nasihat selama berada di Bali. Mereka pun hanya mengiyakan.
Selama dalam perjalanan, Nadira hanya diam menatap ke luar jendela. Jujur, hatinya merasa begitu sedih saat harus pergi meski akan kembali. Yang semakin membuatnya sedih adalah Nathan sama sekali tidak terlihat meski sekedar mengatakan sampai jumpa ataupun selamat jalan. Nadira merutuki dirinya sendiri, dia yang menyuruh Nathan untuk pergi, tapi dia sendiri yang merasa sangat kehilangan suaminya.